
Beberapa minggu setelah Wang Fei memasuki Hutan Dewa Kabut, dia telah menemukan berbagai macam hewan buas yang begitu kuat, bahkan dia saja dibuat kewalahan walau dalam beberapa serangan saja.
Namun prioritas utamanya saat ini adalah keluar dari tempat ini secepat mungkin. Karna waktu yang tersisa mungkin tak akan cukup untuknya mengumpulkan 7 kitab dewa di 5 benua.
Dalam kurun waktu beberapa minggu juga kemampuan bertarung Wang Fei meningkat drastis berkat hewan buas yang selalu dia hadapi setiap saat, selagi dia tidur pun tak menutup kemungkinan dia diserang oleh hewan buas lain. Ini membuat Wang Fei mau tak mau harus berjaga disepanjang malam ataupun siang.
Namun selayaknya manusia dia juga saat ini sedang dalam kondisi mental yang rendah. Para kultivator biasanya sangat jarang kelelahan secara fisik maupun mental, semua itu karena mereka menggunakan energi Ki mereka untuk menyembuhkan rasa lelah itu. Sebenarnya Wang Fei dari awal ingin seperti itu tapi mengingat kalau dia harus berusaha menghemat energi Ki, dia lebih memilih kelelahan meski hal itu dalam batas yang wajar.
"Beberapa saat lalu aku menemukan beberapa tanda kehidupan disekitar sini, mungkinkah ada orang lain selain aku? Tidak mungkin..." dalam suasana hutan yang begitu sepi dan mencekam walau saat pagi hari, muncul pemikiran-pemikiran yang membuat Wang Fei semakin tak bersemangat.
"Kalaupun disini ada orang lain mungkin itu hanya halusinasiku saja, lagi pula aku tak mengetahui secara pasti tentang dunia ini..." gunam Wang Fei pelan dan terus berjalan menyusuri hutan untuk menemukan tempat berteduh. "Dan, kapan rubah merah ini bangun? Dia sudah lama berdiam di alam bawah sadarku, apakah perlu aku membangunkannya...?"
Dalam posisi lotus dan mengambil nafas yang dalam, Wang Fei memperagakan gerakan-gerakan tangan yang mengandung unsur pedang. Dia kemudian memasuki alam bawah sadarnya yang kunci utamanya adalah seni pedang terkuat.
Bagai kekosongan tanpa batas, alam bawah sadarnya itu hanya berupa tempat yang gelap gulita tanpa ada setitik debu pun disana. Namun ketika seseorang telah menembus keabadian, kekosongan tanpa batas ditubuhnya akan bisa menampung barang-barang yang sangat besar layaknya cincin penyimpanan.
"Aku pernah dengar, Immortal Yuan yang telah mengambil 7 bintang terbesar di alam fana dan memasukannya kedalam kekosongan tanpa batas yang ada ditubuhnya, dan memindahkan ke 7 bintang itu kesebuah tempat yang jauh. Mungkinkah itu benar adanya?" setelah mengucapkan kata-kata tersebut, tiba-tiba Wang Fei menjadi pusing dan mual.
"Heh! Rubah tua, kau sudah bangun kenapa kau masih disini?!" ucap Wang Fei sambil menunjuk kesebuah bintik cahaya berwarna merah didepannya.
"Meski alam bawah sadarmu hanya menuruti perintahmu, namun itu semua tak berlaku padaku. Terserah mau sampai kapan aku keluar dari tubuhmu ini!"
"Kau Rubah tua licik!"
Beberapa hari yang lalu Rubah Merah yang sekarang berada di alam bawah sadar Wang Fei pernah memunculkan sosoknya, namun itu hanya sebentar. Dalam beberapa tarikan nafas saja bayangannya ikut menghilang tanpa mengucapkan sepatah pun.
"Seharusnya kau berterima kasih padaku karna aku telah memberimu tumpangan, tapi apa yang kau perbuat padaku? Kau malah menguras kekuatan jiwaku yang sangat berharga untuk kau pakai, kau benar-benar licik...!"
Raut wajah Rubah Merah tiba-tiba berubah, dia kemudian melemparkan Wang Fei dari alam bawah sadarnya kembali kedunia luar.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!"
"Maaf, tapi aku bangun karena kau telah mengucapkan sesuatu..."
Tingkah dari Rubah Merah sangat membingungkan Wang Fei, apa yang sebenarnya dia ucapkan.
"Kau berkata kalau aku pernah membawa 7 bintang bersamaku? Itu memang benar, tapi tidak sepenuhnya benar."
Wang Fei mengerutkan dahinya setelah mendengar hal tersebut. "Jadi, apa kebenarannya?"
Rubah Merah tersebut mendekatkan mulutnya pada Wang Fei. Meski wujudnya dalam bentuk roh tapi keberadaannya masih bisa terekspos kedunia luar jika bertemu dengan sesama roh yang lain.
"Sebenarnya dulu aku membawa seluruh alam Fana bersamaku untuk memindahkan lokasinya..."
"....." Wang Fei tak sempat untuk bereaksi lebih cepat, dirinya menangkap maksud dari perkataan Rubah Merah sangat lambat sampai akhirnya Wang Fei membuka lebar matanya dan langsung terjatuh ketanah.
"Ka- kau.... Apakah ada yang seperti itu...?!"
....