
Anggota kelompok yang berjubah emas itu menampakan ekspresi ketakutan saat Xue Jian membuat pusaran energi pada tubuhnya lalu menelan perlahan semua kabut hitam.
"Mungkinkah... Itu adalah kristal matahari Dewa keabadian...?"
Kata pemimpin kelompok tersebut dengan nada yang lirih. Suaranya jelas menunjukan rasa keputusasaan yang teramat sangat.
Kristal Matahari Dewa Keabadiam merupakan sebuah benda legenda yang pernah ada di bumi. Kristal matahari tersebut amat sangat luar biasa kekuatannya, banyak orang percaya kalau kristal tersebut dapat membuat seorang Immortal langsung mendapatkan kekuatan seorang True God yang agung.
Namun mengingat khasiatnya yang luar biasa, konsekuensinya juga sangat berbahaya. Jika seorang Immortal menggunakan kristal itu, maka dia akan mati sebelum menembus tingkat True God. Hal itu karena ketidak mampuan seorang Immortal untuk menampung energi baru yang sangat besar, energi yang dinamakan Energi Immortal.
Meskipun Xue Jian memiliki tubuh yang dapat menampung energi sebesar itu, dia tetap tidak bisa bertahan karena energi besar tersebut masih belum beradaptasi dengan tubuhnya. Hanya dalam beberapa waktu saat penyerapan energi tersebut, tubuh seorang Immortal akan berubah menjadi debu.
Xue Jian yang mendapat energi keabadian yang luar biasa itu langsung menggunakannya tanpa henti untuk menghancurkan seluruh panah Yin dihadapannya.
"Arggh!!"
Geraman kesakitan Xue Jian terdengar sangat menyayat hati. Namun Xue Jian tetap menggunakan kekuatan tersebut untuk menebas semua panah Yin dengan pedang energi di tangannya.
Krak! Krak!
Xue Jian kembali menggunakan kedua tangannya untuk menghancurkan panah Yin yang diarahkan kepadanya. Hanya dalam beberapa gerakan saja kedua tangannya itu langsung menghancurkan tanah dibawah pijakannya.
Andaikan serangan seperti itu di arahkan kepada ribuan manusia dapat dipastikan kalau semua orang akan menjumpai bencana yang mengerikan.
"Tamatlah kalian semua!!"
Xue Jian mengamuk dan melakukan gerakan-gerakan yang menghancurkan tempat tersebut. Gunung, danau, sungai, dan daratan telah hancur akibat serangan darinya.
Merasa kalau situasi sangat buruk, kelompok orang yang memakai jubah emas langsung menjauh dari lokasi tersebut.
Pemimpin mereka yang lebih dulu mengetahui bahwa dia tidak bisa menang, kabur sekuat tenaganya.
"Sial! Aku tidak ingin mati seperti ini!"
Gerakan yang dilakukannya sangat lincah, jelas bahwa pemimpin kelompok tersebut sangat ahli dalam hal meringankan tubuh.
Namun hanya beberapa langkah selanjutnya, dadanya tertancap sebuah pedang panjang berwarna biru terang.
"Akhh!"
Pemimpin kelompok itu tak percaya dengan apa yang dia alami, sebelum tersungkur ke tanah dia mengeluarkan darah segar yang mengalir deras dari mulutnya.
Para anggota yang memakai jubah emas yang melihat pemimpin mereka terbunuh dengan sadis pun berteriak ketakutan.
"Tidak!! Aku masih mau hidup!"
"Se.. Senior Penghancur Bintang... Ampuni aku!"
Semuanya merasakan keputusasaan yang melanda hati mereka. Dapat dipastikan jikabmereka kembali hidup-hidup maka mereka akan mendapatkan trauma dari kejadian ini.
Xue Jian semakin tak bisa mengendalikan kekuatannya, dan kemudian tak sengaja melepaskan seluruh energi Ki didalam tubuhnya.
BOOMM!!
Ledakan keras terdengar dan mengguncang daratan ketika danau yang seluas 500 kilometer itu meledak dengan mengerikan. Air dari danau itu berhamburan keatas dan turun kembali kebawah bagaikan hujan yang sangat besar disertai badai penghancur daratan.
Tak hanya danau itu yang meledak dengan kekuatan dahsyat, para anggota berjubah emas tersebut pun ikut meledak menjadi debu.
"... Ini sangat disayangkan... Aku harus mati seperti ini..." kata Xue Jian lirih diiringi dengan keluarnya darah dari mulut, hidung, telinga, dan matanya.
"Bahkan dalam kehidupan ini aku tidak memiliki seorang istri... Hmph, jangankan istri, seorang murid saja tidak ada. Hahh... Jika ada kehidupan kedua, aku ingin menjalaninya dengan lebih baik."
Xue Jian langsung terdiam ditempat, memandang langit yang sudah mulai gelap dengan mata yang sudah kabur.
Senyum tipis menghiasi bibirnya yang sudah keriput. Kemudian menutup matanya dan langsung terbaring diatas tanah yang berwarna hitam.
...
Di kedalaman hutan, sebuah gua yang berukuran cukup besar. Didalamnya terdapat sebuah tempat tidur batu dengan seorang pria tua diatasnya.
Pria tua itu terbaring dengan lemas tanpa bergerak sedikitpun. Kulit wajahnya terlihat sangat pucat dan berwarna putih. Pria tua itu jelas telah kehilangan banyak darah.
Disamping pria tua tersebut terdapat seorang anak muda berambut panjang yang berwarna hitam kecoklatan. Dia sedang membuat sesuatu ditangannya, sepertinya dia membuat sebuah obat untuk menyembuhkan pria tua itu.
Anak muda itu menyelesaikan obat yang dibuatnya, lalu meminumkannya kepada pria tua yang terbaring dihadapannya.
"Seharusnya dia akan sadar tidak lama lagi."
Tak butuh berapa lama, pria tua tersebut membuka perlahan matanya. Pandangannya tertuju pada langit-langit gua, lalu mengalihkan perhatiannya menuju anak muda dihadapannya.
Senyum tipis nampak di wajahnya, dia kemudian memejamkan matanya sekali lagi dan kembali tertidur.
...
"Ahh! Apa yang terjadi?!" Kata pria tua itu terkejut.
"Bagaimana bisa begini? Bukankah aku sudah mati karena menggunakan kekuatan Kristal Matahari sebelumnya?" ucap pria tua itu bingung saat melihat keadaan tubuhnya baik-baik saja.
Bahkan untuk dirinya sendiri dia masih belum percaya apa yang dialaminya. Pria itu kemudian keluar gua dengan tergesa-gesa dan menemukan sebuah genangan air yang jernih, lalu melihat wajahnya yang sudah tak terlihat pucat.
"Ini... Bagaimana bisa? Apakah aku masih Xue Jian? Tangan Penghancur Bintang?"
Pria tua itu tidak lain adalah Xue Jian. Dia merasa tak percaya sama sekali karena beberapa waktu lalu dia telah sampai di depan gerbang kematiannya. Tapi mengapa dia masih hidup?
Saat Xue Jian masih syok tentang kejadian itu, seorang anak muda menghampirinya dari arah dalam gua.
"Sepertinya kondisimu telah membaik, kakek tua?"
Kata anak muda tersebut sambil bersandar didinding gua. Xue Jian jelas terkejut, tapi dia mengingat penampilan pemuda tersebut saat terakhir kali dia sadar.
"Kau anak yang menyelamatkanku?" Tanya Xue Jian.
Anak muda tersebut hanya mengangguk. Dia kemudian mendekati Xue Jian dan duduk di dekatnya.
"Siapa namamu nak?"
Anak muda tersebut diam sebentar. "Namaku? Wang Fei."
----------------------------------------
Terima kasih buat kalian semua yang sudah Vote novel ini, dukung terus novel ini yaa~