
Menyadari kalau energi spiritual ditubuhnya sudah mencapai batas, Xue Jian merasa dirinya sangat beruntung. Namun apa yang ada dipikirannya saat ini hanyalah pembangkitannya menuju surga.
Pembangkitan menuju surga sangat dinanti oleh setiap Immortal yang ada di dunia ini, mereka tahu bahwa jika kebangkitan berhasil, maka dewa baru akan segera muncul. Tapi jika kebangkitan gagal, seorang Immortal hanya akan hidup di alam keabadian yang tak berujung, bahkan disana tidak ada seorang pun selain dirinya.
Hal ini menyebabkan Xue Jian merasa senang namun juga merasa berat hati jika dia gagal dalam pembangkitan.
"Aku berasal dari dunia fana, akan naik ke surga..." gumam Xue Jian sambil menengadah keatas langit yang luas.
Energi alam disekitarnya menjadi berubah saat Xue Jian menarik nafas yang dalam. Dapat dipastikan kalau Xue Jian telah menembus Heaven-Realm dan telah ditentukan waktunya berada di dunia ini oleh surga itu sendiri.
Sambil memasang ekspresi yang tenang, Xue Jian bergumam. "Tiga hari... Ini adalah batasan waktu yang diberikan kepadaku oleh surga."
Xue Jian yang masih berlarut dalam renungannya tak menyadari ada seseorang memperhatikannya dari kejauhan.
Wang Fei yang menyaksikan hal tersebut dari jauh hanya menghela nafas. "Seumur hidupku, baru pertama kali aku melihat seorang Immortal yang telah dipilih surga... Selamat Senior Xue."
...
Saat malam hari, Xue Jian terus duduk dengan posisi lotus dan memperagakan sebuah gerakan tangan yang unik. Menyebabkan aura energi ditubuhnya terkumpul menjadi satu diatas kepalanya.
Swoosh...
Seketika energi yang telah terkumpul memproyeksikan sebuah pedang berwarna emas. Xue Jian kemudian mulai meneteskan darahnya diatas pedang tersebut.
Hawa pedang emas itu semakin kuat, menyebabkan ruang disekitarnya terasa bergetar. Bahkan hewan-hewan didekat sana mati karena tekanan dari aura pedang yang sangat kuat.
Xue Jian kemudian mulai berdiri sambil memegang pedang tersebut.
"Tebas!"
Sriings!!
Pedang yang diayunkan Xue Jian menyebabkan ruang dan waktu disekitarnya terkoyak dan memperlihatkan lorong ruang dan waktu untuk menembus dimensi.
Namun hanya dalam beberapa detik, lorong ruang dan waktu tersebut menghilang dan menguraikan partikel-partikel kecil.
Hembusan angin malam serta cahaya rembulan menjadi saksi keagungan Xue Jian. Tumbuhan disekitarnya bergoyang akibat angin dari tebasan pedangnya.
Sekali lagi Xue Jian menebaskan pedang emas miliknya kesebuah hutan belantara yang gelap gulita.
Swiss!
Alunan pedang yang halus terdengar lembut, namun menyimpan kengerian yang sangat dalam.
BOOMM!!
Hutan yang tadinya ditumbuhi banyak sekali tumbuhan serta pepohonan besar, kini dimusnahkan dalam sekejab. Langit yang gelap menjadi terang saat cahaya pedang melintas diatas cakrawala, melenyapkan ratusan kilometer hutan dengan sekali serang.
Xue Jian memandang lahan yang tandus dihadapannya dengan wajah yang tetap tenang.
"Diatas langit masih ada langit. Aku harus bertambah kuat dalam 3 hari ini untuk menghadapi kebangkitanku yang mulia."
...
Pagi hari, Wang Fei terlihat sedang memasak sesuatu untuk dimakan. Walaupun kemampuannya dalan memasak tidak sebaik koki memasak yang sebenarnya, dia tetap bisa menikmati makanannya tersebut.
Pembangkitan seorang True God sangat penting bagi seorang yang melewatinya. Dikatakan bahwa terdapat 4 ujian yang diberikan oleh surga kepada Immortal yang agung. Dan setiap ujian memiliki kesulitan yang berbeda-beda, tergantung dengan kekuatan yang mereka miliki.
"Dalam hal ini kurasa Senior Xue telah menyiapkan hari kebangkitannya dengan sempurna." Wang Fei bergumam sambil mengangkat makanan yang dia masak kedalam sebuah mangkok besar.
"Sudahlah, aku harus mengisi perutku terlebih dahulu, sudah 3 hari sejak terakhir kali aku makan."
Belum lama Wang Fei duduk di kursi batu, terdengar suara langkah kaki seseorang yang masuk kedalam gua.
Wang Fei yang melihat Xue Jian memasuki gua langsung melambaikan tangannya. "Senior Xue, kemana saja kau? Aku telah membuat sesuatu untuk dimakan, kau makanlah denganku."
Xue Jian kemudian duduk didekat Wang Fei mengambil sebuah sendok yang terbuat dari kayu lalu memakan semangkok sup yang memiliki aroma harum.
Lidah Xue Jian berkecap saat sesendok sup telah dimakannya. "Hmm... Ini enak. Bahan apa yang kau gunakan,?" sambil terus memakan hidangan dihadapannya, Xue Jian bertanya kepada Wang Fei.
"Oh? Aku hanya memasukan beberapa sayur dan bumbu. Termasuk daging tikus yang kutemukan di gua ini."
Kalimat terakhir Wang Fei membuat Xue Jian terpaku sambil melotot kearahnya.
"Kau... Kau...!?"
"Hehe, kukira senior menyukai tikus?" Wang Fei menunjukan ekspresi tak bersalah sambil memalingkan wajahnya.
"Dasar anak sialan! Kau mempermainkanku!"
"Yahh... Maafkan aku Senior, aku kan hanya melakukan hal ini untuk bertahan hidup."
Mendengar kalimat yang dibicarakan Wang Fei membuat Xue Jian sangat kesal dengannya. Sambil duduk kembali, Xue Jian memasang ekspresi serius.
"Sudahlah, aku memiliki hal yang sangat penting untuk dibicarakan kepadamu." kata Xue Jian tenang.
Menyadari kalau situasi terasa canggung, akhirnya Wang Fei bertanya balik kepada Xue Jian.
"Apa itu?"
Xue Jian diam sebentar. "Kau tahu? Kalau aku adalah seorang Immortal?"
Wang Fei menampakan ekspresi yang terkejut dan tak dapat berkata apa-apa begitu mendengar kalimat Xue Jian. Namun, tentu itu adalah ekspresi terkejut yang dibuat-buat karena dia sudah tau sejak lama kalau Xue Jian seorang Immortal, bahkan tau kalau Xue Jian sebentar lagi akan menghadapi kesengsaraan.
"Meski begitu aku telah mendapati akhir hayatku di dunia ini sekarang," kata Xue Jian lirih. "Aku memiliki sebuah harapan sebelumnya, namun tak pernah terkabulkan sampai sekarang, kau tau apa itu?"
Wang Fei menggeleng pelan. "Apa harapan Senior?"
"Aku ingin memiliki seorang murid, murid yang memiliki bakat luar biasa."
Xue Jian kemudian mengalihkan pandangannya kepada Wang Fei. "Apakah kau bersedia menjadi murid pertama dan terakhirku?"
Wang Fei tertegun saat mendengar ucapan tersebut. Menurutnya dapat menjadi seorang murid dari Immortal adalah suatu anugrah dari surga. Sangat mustahil terjadi!
Wang Fei kemudian berlutut dan menghentakan kepalanya kelantai sebanyak tiga kali dibawah kaki Xue Jian.
"Murid memberi hormatnya kepadamu, guru."
...