God Heaven

God Heaven
Eps 88 - Hutan Dewa Kabut (1) -



Beberapa jam telah berlalu, Wang Fei yang tadinya terbaring dilantai kini sadarkan diri. Dia tak mengingat apa-apa sebelum dia pingsan, namun setelah beberapa lama dia mengingatnya kembali.


Wang Fei menggaruk kepalanya dan keheranan tentang apa yang terjadi. Dia yang sebelumnya berada disebuah aula yang besar kini terdampar disebuah hutan belantara yang tertutupi kabut tipis.


Dia mengingat ada seekor rubah merah yang sebelumnya membuatnya seperti ini, Wang Fei memanggil-manggil rubah merah tersebut namun tak ada balasan.


"Ini sungguh aneh, mengapa aku berada disini?" rasa penasaran melanda pikiran Wang Fei, dia kemudian mulai mencari pohon yang lumayan tinggi untuk mengamati posisinya saat ini.


Wang Fei bergerak begitu gesit melalui celah pepohonan, dalam waktu yang relatif singkat mungkin dia telah berlari sejauh ribuan meter.


Pandangan Wang Fei lurus kedepan begitu melihat sebuah lahan kosong yang ditengahnya terdapat pohon beringin yang sangat besar.


"Pohon sebesar itu ada didunia ini?" Wang Fei saja merasa ada yang salah dengan ukuran pohon beringin yang sangat besar tersebut. Bahkan didua kehidupannya saja baru kali ini dia melihat pohon sebesar itu.


"Pohon beringin itu mungkin memiliki tinggi puluhan kilometer, dan diameternya bisa mencapai 4 kilometer." Wang Fei mengamati pohon tersebut sambil mengelilinginya, dia mendapati seuntai tali yang berada dipohon tersebut. Namun apa yang dia lihat ternyata bukan tali, itu adalah ular yang memiliki tubuh yang panjang!


Wang Fei sempat menghentikan langkahnya karena terkejut, begitu mengetahui bahwa ular tersebut hanya berkemampuan Houtian awal, dia segera mendaratkan serangan berupa pukulan.


"Ular ini cukup lemah, namun dia sangat panjang. Ini memungkinkannya untuk membunuh lawan dengan cara membelitnya." tindakan Wang Fei yang membunuh ular tersebut ternyata bukan pilihan baik. Perlahan banyak ular yang berada diranting pohon mulai berjatuhan, masing-masing memiliki ukuran yang berbeda.


Merasa situasi semakin buruk Wang Fei segera menarik pedang Icedragonnya. Wang Fei membantai semua ular yang berjatuhan dari atas dengan sangat cepat. Sudah tak terhitung jumlah ular yang dia bunuh, darah yang seperti sungai membanjiri area tersebut.


"Hmph! Makhluk ini seperti tak ada habisnya saja!"


Dalam jarak yang pendek, Wang Fei bergerak diudara dan melakukan manuver yang menakjubkan. Menciptakan gelombang udara yang kuat dan menyapu semua ular didepannya.


Wang Fei memilih mundur untuk memastikan situasinya saat ini, jika ular seperti itu mengepungnya lagi mungkin hal itu tidak akan terlalu berdampak buruk. Tapi jika terdapat musuh yang lain lagi mungkin itu akan sangat merepotkan.


....


Sesaat kemudian begitu Wang Fei meninggalkan area pohon besar, terdapat bintik-bintik cahaya putih disekitar Wang Fei. Cahaya putih itu membuat sesosok Rubah Berwarna merah yang melayang di dekat bahu Wang Fei.


"Eh?" Wang Fei cukup terkejut sebelum itu namun dia tetap bisa menenangkan dirinya ketika menyadari roh itu adalah Rubah Merah yang dia temui belum lama ini.


Dengan mata yang masih tertutup, rubah merah itu menarik nafas dalam dan perlahan membuka matanya. Dia melihat Wang Fei dari samping dan kembali mengarahkan pandangannya kedepan.


"Apa?! Bagaimana bisa kau memasuki Hutan Dewa Kabut?!" rubah merah yang dari tadi memasang wajah yang malas langsung rerkejut dengan apa yang dia lihat.


"Hmm? Mamangnya apa maksudmu Hutan Dewa Kabut?" Wang Fei segera berhenti dan lebih memusatkan perhatiannya kepada Rubah Merah.


Rubah Merah tersebut terlihat sangat khawatir dan gelisah, dia kemudian menatap Wang Fei dengan tajam.


"Akan kujelaskan.... Sebelumnya aku telah menentukanmu sebagai calon pewaris. Setiap calon pewaris akan mendapatkan ujian, dan ujian yang didapat berbeda tergantung bakat dan keberuntungan. Ujiannya sendiri berupa menguasai dunia kecil yang telah disiapkan, terdapat 4 dunia kecil yang masing-masing memiliki tingkat bahaya yang berbeda." Ucap Rubah Merah. "Dunia pertama yang menjadi dunia terlemah adalah dunia Daratan Petarung. Dunia kedua adalah dunia Daratan Ras Langit yang merupakan dunia terkuat ketiga diantara 4 dunia yang ada. Dan dunia ketiga adalah dunia Daratan Para Dewa yang mana dunia ini adalah yang terkuat kedua dari 4 dunia yang ada. Sedangkan dunia yang terakhir..." Kata Rubah merah ragu sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Dunia Keempat adalah dunia yang terkuat, dunia ini disebut Hutan Dewa Kabut karena seluruh tempat didunia ini hanya berupa hutan belantara dan sungai-sungai kecil. Diseluruh hutan juga ditutupi kabut yang mengandung racun mematikan. Aku pastikan kau telah menghirup kabut yang ada dihutan ini, dan tubuhmu juga sedang mengalami perubahan."


Jantung Wang Fei berdetak lebih cepat, karena saat ini tubuhnya memang terasa ada yang aneh! Dia merasa seakan setiap bagian tubuhnya digigit oleh sesuatu yang menyakitkan, bahkan air mata Wang Fei hampir keluar.


....