
Tubuh mereka bergetar dan mengeluarkan keringat dingin ketika melihat Wang Fei membantai semua orang yang merupakan kelompok Eksistensi Penguasa.
Mungkin di tempat itu terdapat ratusan para perampok, tapi untungnya kebanyakan dari mereka hanya berkemampuan Qi Foundation. Bahkan jika Wang Fei di kepung 20 True Foundation pun dia tetap bisa mengatasinya dengan mudah.
Dalam beberapa waktu, di tempat tersebut telah Wang Fei jadikan tempat pembantaian yang tragis. Tempat itu kini banyak tergeletak mayat tanpa kepala dan darahnya membanjiri area tersebut. Hanya menyisakan belasan orang yang telah berlutut memohon ampunan pada Wang Fei, mereka adalah kelompok yang dulu menyiksanya sampai hampir mati.
"Se-senior! Aku tau aku salah, tapi ampuni aku!"
"Senior.... A-aku rela menjadi budakmu, asalkan kau membiarkanku hidup!"
Berbagai kata-kata memohon ampun dilontarkan mereka kepada Wang Fei, namun semua itu sudah tak ada artinya lagi saat ini.
Pandangan Wang Fei tajam, bagai jarum yang menembus tubuh mereka yang bertatapan dengannya. Mereka tak berani berkata lagi saat Wang Fei berbalik badan. Mungkin bagi mereka ini adalah detik terakhir mereka menghembuskan nafas.
"Kalian ingin hidup? Kalau begitu ikuti aku..."
Kalimat yang Wang Fei katakan tersebut membuat mata mereka terbuka lebar. Apakah mereka telah diampuni dengan begitu mudahnya?!
Namun meskipun kata-kata Wang Fei jelas sebuah jebakan bagi mereka, mereka tetap akan melakukan cara apa saja untuk bertahan hidup walau nyawa taruhannya. Bertindak lebih baik daripada diam.
Begitu mereka menemukan secercah harapan dalam hidup mereka, tiba-tiba hati mereka membatu saat melihat Wang Fei yang sedang memegang berbagai macam senjata.
"Aku perintahkan kalian untuk menjadi objek uji coba jurus baruku. Aku akan menyerang kalian tanpa ampun lalu menyembuhkan kalian, setelah itu aku akan lanjut menyiksa kalian lalu menyembuhkan kalian lagi... Bukankah kalian ingin hidup walau hanya beberapa jam lebih lama?"
Sesaat setelah Wang Fei mengucapkan kata-kata tersebut, mereka langsung berlutut diatas tanah dan menatapnya tak percaya. Walau mereka ingin hidup lebih lama sedikit saja, namun jika dengan cara seperti ini mereka akan memilih mati!
"Ti-tidak..."
Wang Fei menampakan senyum tipis diwajahnya, perlahan dia menyeret mereka yang tak dapat menggerakan kakinya satu per satu, lalu mengikat mereka kesetiap pohon besar.
Pandangan mereka kosong setelah diikat dipohon, saat ini banyak yang telah pingsan tak sadarkan diri hanya dengan sebuah ancaman.
Wang Fei mengeluarkan 3 senjata yang salah satunya adalah rantai yang memiliki ujung runcing. Terdapat juga sebuah jarum besar berwarna merah, dan satu senjata tersisa terlihat seperti seruling dan memiliki warna putih mengkilap.
Setelah Rantai selesai, kini dia menggunakan jarum besar berwarna merah untuk melukai mereka. Wang Fei juga perlahan menorehkan ujung jarum ke perut mereka sesuai apa yang telah mereka lakukan padanya.
Dengan ukiran dua huruf 'WF', Wang Fei terlihat sangat puas ketika melakukan hal tersebut. Kesadaran mereka juga perlahan menghilang, namun sekali lagi Wang Fei menyembuhkan mereka dan membuat mereka siuman begitu cepat.
"Ugh!"
"Su-sudah cukup...! Aku... Tidak kuat lagi!"
"Kumohon berhenti, ini rasanya sakit sekali...!"
Mereka mulai memohon untuk menghentikan tindakannya, suara mereka terdengan lirih dan kering. Wang Fei tak mempedulikan apa kata mereka, melainkan melanjutkan kembali penyiksaan yang dia lakukan.
"Ini sepertinya akan membuat kalian tuli, jadi tutup telinga baik-baik ya. Oh! Aku lupa kalau kalian tak bisa menutup telinga... Tapi yahh, biar saja."
Wang Fei mulai memainkan serulingnya dengan lembut, alunan melodi yng menyejukan hati sangat enak didengar. Tapi alunan melodi yang tenang tersebut diganti dengan melodi yang menyakitkan. Perlahan membuat telinga mereka sakit dan mengeluarkan darah dari sana.
"Akhh!! Hentikan..!"
"Aaahhh! Aku ingin mati...!"
Suara dari seruling tersebut sangat menakutkan, mereka sungguh tak ingin mendengarkan lagu ini!
"Arggh!"
"Tidak..!!"
Satu per satu mereka yang terikat di pohon mulai kehilangan nyawa karena saraf dari telinga mereka putus.
Bagi mereka yang hanya tuli mungkin itu adalah suatu keberuntungan, namun Wang Fei semakin memainkan serulingnya dengan keras dan menyebabkan mereka yang masih tersisa juga ikut kehilangan nyawa.
...