Friendzone

Friendzone
Episode 71. Dobel kejutan



Ferro perlahan membuka matanya, lalu tersenyum melihat ke arah kue ultah.


" Hem.. Tadi Lo buat permohonan apa? " dengan wajah polosnya Revan berbisik.


" idih kepo!! Yah gak boleh di kasih tau dong ntar gak ke wujud lagi " Ferro memerhatikan kue ultah nya " kok kayak ada yang aneh deh jelek banget kurang rapi lagi nih bentukannya, lu beli di mana sih.. Jangan bilang lu lagi hemat trus beli kue sisa " Ucap Ferro walaupun dalam hati nya gak serius dengan ucapannya.


" sembarangan!! " Revan menepuk kening Ferro.


" awww... Sakit tau, gua kan cuma bercanda, tapi seriusan deh lu beli di mana sih " Ferro penasaran.


****


( flash back )


Sebuah motor berhenti di toko cake, lalu bergegas si pengendara turun lalu berlari lantaran toko nya hampir tutup.


" pak tolong plis, buatin satu aja..." Revan memohon.


" gak bisa dek, ini toko udah tutup kasihan para karyawan saya udah pada mau pulang... "


" kata bapak kue nya udah pada abis itu, saya bayar lebih deh pak "


" stok memang udah abis dek, kalau yang itu udah gak bisa jual harus di buang "


" plis pak... Saya bayar lebih kok tolong buatin satu yang kecil aja "


" Hem.. " bapak tersenyum lalu mengajak Revan pergi ke bagian dapur, sebelum nya ia sudah memerintahkan karyawan nya untuk pulang dan menutup toko.


" sebenarnya kamu butuh sekali kue ini buat apa ? " tanya bapak itu dengan perhatian.


" em..." Revan sebenarnya malu untuk mengakuinya tetapi demi misinya berhasil ia pun mau tak mau jujur" ini buat sahabat saya pak, hari ini ia sedang ulangan tahun, jadi saya mau merayakan nya " Revan sedikit malu.


" ha ha ha anak muda jaman sekarang, baiklah kamu harus bikin sendiri saya cuma memberikan kamu ini saja cara pembuatan kue sama bahan nya, saya masih ada urusan nanti setelah selesai temui saja saya di depan " bapak tersenyum lalu pergi.


Awalnya Revan bingung tetapi ia sedikit demi sedikit bisa lantaran setiap tepung sudah ada tempelan nama tepung jadi Revan tidak bingung.


Setelah menghabiskan waktu Revan selesai dengan pekerjaan nya tidak lupa ia membersihkan dapur tersebut kembali seperti semula.


" pak ini bayaran saya " Revan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu.


" bawa pulang saja kue nya, gak perlu bayar juga "


Bapak tersenyum, awalnya Revan bersikeras untuk membayar akan tetapi sih bapak bersikeras untuk Revan membawa pulang gratis.


Akhirnya Revan tak memaksa lagi dan berterima kasih lalu pulang.


****


Ferro tertawa geli mendengar cerita Revan " Terima kasih yah udah repot ngerayain ultah gua.. Ape kesan nya maksa lagi " Ferro masih tersenyum menahan tawa " tapi sorry bulan lalu gua gak rayain buat suprise buat Lo, itu lantaran mama gua sama mama Lo udah nyiapin semua jadi aku hanya bisa ikut ikutan aja he he he "


" gak masalah, dah... kue nya di makan dong " Revan menyerahkan pisau lalu Ferro memotong kue nya.


" ini buat sahabat sekaligus saingan terberat gua " Ferro menyuapkan ke mulut Revan.


" ini buat Rival abadi gua " Revan menyuapkan ke mulut Ferro juga " gimana enakan? "


" em ... " Ferro mengangguk dengan Mulut mengembang seperti ikan buntal" cuman sedikit keras " ucap Ferro sambil mengunyah.


" jujur Amat, gak ada pujian nya sama sekali " Revan memasang tampang menyedikan.


" tapi kue nya beneran enak kali " Ferro tertawa saat melihat Revan jadi Melow.


" Fer..." Revan mendadak serius.


" em.." jawab Ferro singkat Tampa menoleh lantaran masih asyik dengan kue nya.


" sekarang kan kita pada udah lulus, lu masih yakin dengan jurusan yang lu pilih! "


Revan sedikit menunduk.


" yakin dong, kenapa? Lo masih pengen maksa satu jurusan Sama gua " Ferro mendekat lalu tersenyum menggoda Revan lantaran selama ini Revan selalu mengikuti apa saja jurusan atau ekstra kulikuler yang Ferro ikuti walaupun Revan tampak tak menikmati Nya.


" yah gu- "


Revan hendak melanjutkan ucapan nya namun terhenti dikala Ferro menggenggam tangan nya lembut.


" Revan.. Gua tau cita-cita Lo, yah meskipun kita berdua memilih jurusan yang berbeda tapi kan kita masih bisa ketemu.."


Ucap Ferro sambil tersenyum.


Revan hanya terdiam tampak Raut wajahnya yang tampak tak bersemangat akan hal ini, menarik nafas panjang lalu menatap Ferro dengan tersenyum ikhlas.


" Hem.. hari ini hari ulang tahun mu, mari bergembira.!! " Sambil mengakat gelasnya Revan mengajak Ferro bersulang " demi masa depan kita dan persahabatan!! "


Ferro tersenyum lalu mengangkat gelasnya.


" cis..!!! "


Ting....


Dentingan gelas membuat senyuman dari keduanya merekah dan mulai tertawa.


" gua harap kedepannya Kita masih sempat meluangkan waktu bersama.." ucap Revan di sela sela makan Nya.


" em.. " Ferro mengangguk" sebisanya gua akan menemui Lo di waktu luang " ucap Ferro sambil tersenyum.


" janji kelingking...!!"


Revan menjulurkan kelingkingnya.


" ih apaan sih!!! " ucap Ferro hendak tertawa.


" ayo..."


Ferro menjulurkan kelingkingnya hingga saling terpaut dengan jari jempol bertemu sebagai sepel.


" ok sekarang kita sudah sama sama punya hutang" ucap Revan dengan girang.


" iya iya.. Masih pakai cara bocil aja Lo "


Ferro tak berhenti tersenyum melihat Revan menjadi kekanak-kanakan.


Malam ini dilalui dengan sanda gurau dari keduanya sambil bernostalgia masa kecil mereka. Hingga larut mereka memutuskan untuk turun.


Keadaan ruangan tamu gelap gulita hingga Ferro berjalan sedikit menpel berpegangan pada Revan.


Mereka berjalan menuju saklar dan menghidupkan lampu sebuah kejutan ternyata Yudi, Lili, Hanna dan Yonathan tengah duduk di shopa dengan kue ulang tahun di depan meja.


" suprise!!!."


" selamat ulang tahun Ferro sayang!!"


Ujar dari para orang tua mereka, Ferro dan Revan Sama sama terdiam hingga lili bangkit beranjak menarik Ferro untuk duduk di tengah.


Yudi menyalakan lilin dan mereka pun mulai bernyanyi lagu ultah untuk Ferro, nyanyian tepuk tangan serta senyuman dari kedua orang tua membuat suasana ruangan menjadi hidup.


Ferro masih tak percaya dengan kejutan ini, dan di saat semua berhenti dan di momen saat sebelum meniup lilin " mah, pah bukaannya lagi keluar hadirin acara nikahan yah ??"


Ferro bingung.


Mereka pun tertawa mendengar ucapan Ferro serta ekspresi dari raut wajah anaknya tersebut.


" kami sebenarnya hanya pergi untuk menyimpan semua ini sayang, papa mama, om dan Tante sudah merencanakan semuanya" ucap lili sambil tersenyum.


" kok gak kasih tau aku sih " protes Revan.


" biar kejutan nya gak dirasa sama Ferro sendiri biar kamu juga " ucap Yonathan yang melihat raut wajah Revan sama kaget nya dengan Ferro.


Setelah membuat permohonan dan tiup lilin kedua keluarga memotong kue lalu menikmati bersama.


Tak hanya itu setelah acara selesai mereka memutuskan untuk malam bersama hubungan kedua keluarga tersebut sangat lah akrab seperti sebuah keluarga.