Friendzone

Friendzone
Episode 68. Tukang perhitungan



Fanny tersenyum sendiri melihat pertanyaan yang di tuliskan di kertas, semua mata tertuju penasaran.


" Hem.. Sebut kan kriteria orang yang Lo suka di kumpulan ini!! "


Fanny tersenyum malu malu.


" wow..."


" jawab!!! "


" cepat jawab hi hi..."


" gua.. Gua pilih minum! "


Fanny dengan cepat meneguk habis gelas berisi bir.


" wow... ! "


" yah.. "


Beberapa sedikit kecewa lantaran penasaran, Dion hanya tersenyum lalu kembali bersiap memutarkan kembali botolnya, setelah semua siap boto kembali di putar dengan cepat lalu perlahan berhenti di hadapan Vian.


" cie... Hati hati Ian "


Revan tersenyum menyemangati sahabat nya itu.


" ok ok gua pilih " Vian mengambil salah satu kertas di dalam kaleng dan membukakan dengan pelan " kapan terakhir kamu pacaran!, em ..."


" jawab.."


" jawab!!! "


" ayo Vian.. "


" ok ok kelas 1 atau 2 SMP " jawab Vian dengan bangga.


" eh... " Revan menonjolkan kepalanya melihat sambil tersenyum ke arah Vian.


" iya iya kelas 2 SMP Lo masih Ingat kan..."


Vian mengedipkan sebelah matanya, lalu Revan mengangguk sambil menahan tawa.


" lanjut.. Lanjut!! "


Botol kembali berputar dan berhenti di tempat di depan Ferro.


" ayo Ferro nih..."


Dion menyerahkan kaleng kertas dan Ferro memilih salah satu kertas di dalam kaleng.


" em... Apakah kamu pernah berciuman dengan seseorang " Ferro tertegun melirik sekilas ke arah Revan lalu kembali menatap kertasnya " be- belum pernah!!! " jawab Ferro dengan sedikit gugup.


" yakin..." Dion sedikit menggoda, menatap Ferro penuh selidik.


" em.." Ferro mengangguk.


Dion tersenyum kembali memutar dan botol perlahan berhenti menunjuk ke arah Ferro kembali.


" hah... " Ferro Melongo lalu kembali membuka kertas " ini em.. jika kamu cowok peluk cewek di sebelah mu, jika kamu cewek peluk cowok di sebelah mu " Ferro ragu.


" peluk...!!"


" peluk..!!"


" peluk .."


Revan menjadi tegang dan sedikit gugup, " tunggu aku minum " Ferro dengan cepat meneguk segelas bir hingga habis.


" wow..."


" wow.."


Dion tersenyum lalu kembali memutar kan botol nya, botol perlahan berhenti ke arah Revan, dengan santai Revan membaca kertas yang di ambil dari dalam kaleng.


" sebutkan inisial cewek atau cowok yang Lo suka"


" nah jawab ha ha ha"


Vian bersemangat.


Semua mata tertuju ke arah Revan, Ferro melirik menggunakan mata nya melihat ke arah Revan.


" em gua minum"


Revan meneguk habis segelas bir nya.


Semua kecewa bahkan Ferro yang sebenarnya penasaran dengan sahabat nya itu pun tak mendapatkan jawabannya lalu tertunduk lesu.


botol kembali berputar dengan cepat lalu perlahan melambat menunjuk ke arah Ferro kembali.


" Ferro seperti nya kamu beruntung hari ini "


Dion kembali menyodorkan kalengan berisi kertas pertanyaan nya.


" em.. jika kamu cowok pilih salah satu cewek di sini dan jika kamu cewek pilih salah satu cowok disini lalu bilang i love you.. " Ferro tertegun lalu belum sempat yang lain bereaksi Ferro dengan cepat meneguk minumannya.


" yah kecewa lagi..."


Beberapa dari mereka penasaran bahkan Ara pun kecewa penasaran.


Permainan terus berlanjut banyak dari antara mereka memilih menjawab dan sedikit yang memilih untuk minum.


Permainan berhenti saat mereka kehabisan stok bir Revan dan kelompok pamit Ara mengandeng Ferro yang sedikit susah berdiri.


Di luar tenda hujan gerimis kembali mengguyur Ara sedikit kesusahan mengandeng Ferro baru dua gelas Sudah membuat nya merasakan pusing.


Revan mendahului dan berjongkok di depan Ferro " cepat naik lah, hujan semakin deras..."


Ferro awalnya menolak tetapi Revan dengan cepat membopong Ferro ke tenda, Ferro mual dan mau muntah Revan memberi isyarat kepada Vian dan Ara untuk duluan.


Ferro muntah sedikit jauh dari tenda Revan dengan sigap kembali ke tenda mengambil air mineral lalu dengan cepat kembali memberikan kepada Ferro.


" minum lah!! "


" gimana? "


Sedikit mendingan tetapi masih sedikit pusing, Revan membopong Ferro kembali ke tenda untuk berganti pakaian.


Revan dan Vian kembali ke tenda kecil untuk membuat air panas setelah selesai mereka kembali kumpul di tenda.


Ferro duduk dengan lesu, pusing yang di rasakan membuat nya tak bisa tenang.


" hei nih minum lagi, banyak banyak lah minum air putih "


Revan menyodorkan kembali air putih kepada Ferro dan ia meneguknya sedikit.


" istirahat lah, besok juga pasti sudah sembuh" Revan membantu Ferro untuk beristirahat ia dengan perlahan membantu Ferro berbaring lalu menyelimuti nya dengan selimut.


Setelah membantu Ferro Revan duduk di depan pintu masuk.


" tidurlah Lo juga banyak minum kan "


Revan menepuk pundak Vian.


" he he lu tenang aja, gua gak selemah para cewek cewek "


Jawab Vian dengan bangga.


Malam semakin larut gerimis kini mulai semakin deras, seharian gerimis berhenti sebentar lalu turun gerimis bahkan lalu hujan deras cuaca memang sulit untuk di tebak.


Vian dan Ara tertidur lelap Revan terbangun saat mendengar Ferro mengigau, tubuhnya menggigil tetapi banyak mengeluarkan keringat.


Revan dengan cepat menempelkan punggung tangan nya ke kening Ferro.


" panas! "


Revan segera mengambil handuk dan membasahinya, lalu menempelkan di kening Ferro menyelimuti hingga sebatas leher.


Revan mengusap rambut Ferro pelan, ia memperhatikan kedua sahabat nya di sebelah yang tertidur sangat pulas.


Napas Ferro kedengaran seperti sangat kedinginan, Revan terjaga walaupun ia menahan kantuk.


Revan memutuskan untuk memasak air untuk dibikinkan kopi, hendak bangkit berdiri tangan Ferro menahan nya.


Revan sempat terkejut tetapi setelah di pastikan Ferro masih tertidur, ia pun mengurungkan niatnya lalu berbaring di sebelah Ferro de tangan masih di pegangan oleh Ferro.


Pagi yang cerah awan hitam kini benar benar telah pergi, suara burung burung menghiasi nuansa alam di pagi hari.


Vian dan Ara masih tertidur sangat pulas Ferro perlahan membukakan matanya, ia terkejut saat ia bangkit untuk duduk sebuah handuk terjatuh dari keningnya.


Ia melihat Revan masih tertidur di sebelah nya dengan posisi tangan Ferro masih memegang tangan Revan.


Ferro tersenyum saat melihat wajah Revan yang tampak begitu polos walaupun seperti ada warna hitam di bawah kantung matanya.


" kamu kok jelek sekali sih "


Ucap Ferro sangat pelan sambil menahan tawa." tapi kamu selalu sok kuat, bangga diri, selalu menganggap remeh gua kan, terus biasanya marah tak jelas " sambung Ferro curhat terhadap dirinya sendiri.


Ia melihat lekat wajah Revan lalu menyingkirkan rambut yang menutupi keningnya, ada senyuman yang tak di sadari oleh dirinya sendiri.


Cukup lama ia memandangi wajah Revan, hingga saat Revan mulai terbangun ia sangat panik lalu dengan cepat ia pura pura memijit kepalanya.


" em.. " Revan membuka matanya lalu mengucek, melihat Ferro yang sedang duduk sambil memijit kepalanya " kenapa? Apakah masih pusing? "


" em..." Ferro mengangguk.


" tunggu " Revan segera bangkit berdiri lalu keluar tenda.


Ferro memperhatikan Revan tetapi sosok nya menghilang saat tenda di tutup kembali.


Ferro bersandar menggunakan bantal dan tas ia menunggu cukup lama, ada samar samar suara batuk dan sedikit bau asap tetapi ia ragu untuk keluar.


satu jam lebih berlalu Revan masuk membawa mangkuk dan segelas air putih membuka kan tenda lalu merentangkan matras dan meletakkan meja kecil lalu menata mangkuk dan air putih.


" kemari lah.. "


Revan melambaikan tangan nya mengisyaratkan untuk Ferro merapat.


" em.. "


Ferro dengan lesu beranjak dari tempat tidur nya, lalu duduk di samping Revan " Hem... Kamu masak bubur? "


" iya semalam kamu muntah kan, terus mabuk dan pasti sedang masuk angin, sekarang gua buatin sarapan buat Lo... Yah itung-itung lu ngutang Budi lagi sama gua... " Revan tersenyum mengejek.


" dasar tukang perhitungan, ikhlas Dikit Napa..."


Ferro menyendok lalu meniup bubur yang masih panas tampak ia seperti kesusahan lantaran badan nya masih lemes.


" sini biar gua aja.. " Revan dengan sigap mengambil mangkuk dan sendok dari hadapan Ferro.


" eh gua aja, gua bisa kok " Ferro sempat menahan tangan Revan.


" kalau nunggu Lo yang nyuap sendiri bisa bisa habisnya nanti sore!! Sini biar gua bantu!! " Revan menarik lalu meniupkan untuk Ferro.


" suapin gua bukan termasuk utang kan? " Ferro menyiapkan matanya.


" nanti deh gua pikir pikir dulu " Revan tersenyum.


" kalau gitu gua gak mau makan...! " Ferro ngambek.


" iya iya... Gua cuman bercanda dong... Nih " Revan menyodorkan satu sendok yang telah di tiup nya.


Ferro dengan patuh memakan nya, Ferro sesekali memperhatikan Revan meniupkan bubur untuk nya hingga saat Revan menyuapi nya mata mereka saling beradu pandang.


Cukup lama dalam posisi itu jantung keduanya saling berdegup kencang, sudah terbiasa bersama akan tetapi semenjak mereka tumbuh dewasa mereka sering merasakan jantung nya berdebar saat jarak mereka terlalu dekat.


" Hem.. Udah gua-.. Gua udah kenyang"


Ferro dengan cepat membuang muka.


" em.. Tunggu dulu " Revan masuk ke dalam tenda lalu kembali membawakan obat.


" nih minum dulu, biar Lo cepat sembuh"


Ferro menerima lalu meminum dengan patuh, setelah selesai mereka duduk bersantai ngobrol ringan.