
Satu tahun telah berlalu kini Revan dan Ferro tengah duduk di bangku kelas dua belas SMA.
semenjak kejadian yang mengecewakan Ferro tak pernah berhubungan dengan Rio lagi, dan bahkan Rio akan menghindari jika melihat Revan.
Liburan semester ganjil telah tiba Ferro, Ara, Revan dan Vian sedang duduk di sofa dengan berbagai macam makanan ringan dan beberapa buah buahan dihadapan mereka.
" mau kemana ni, hari pertama libur di rumah sepertinya sedikit membosankan!! "
Vian mengeluh bersandar memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
" mau gimana kalian sih gak ada ide mau kemana kek gitu " celoteh Ara sambil memotong motong apel ke dalam mangkuk.
" mau kemana lagi, muncak!! "
Vian mengusulkan.
" boleh!! Ferro gimana? "
Ara menoleh ke arah Ferro yang rebahan malas.
Ferro menoleh ke arah Revan yang asyik sendiri main game di ponsel nya.
" gak tau "
Ferro bingung lantaran ia belum menemukan Jawabannya.
" yah, Van gimana!! "
Ara melemparkan batal lantaran Revan sedari tadi asyik sendiri.
buff...
" apaan!!! "
Revan terganggu " yah udah camping aja kali, tapi gak usah ke puncak capek bawa barangnya"
Mata Revan masih fokus ke ponselnya.
" terus mau kemana emang? "
" danau aja "
Revan mematikan ponsel nya bangkit berdiri lalu duduk sengaja menyempitkan Ferro yang masih mager.
" duduk sana dong, sempit gua!! "
Rengek Ferro.
Revan tampak cuek ia senang menjahili Ferro dan merasa lucu melihat Ferro yang merengek.
" gimana Ian? "
Ara mengangkat dagunya menunjuk ke arah Vian.
" ayok!!! "
" ok kapan kita berangkat? "
Ara balik bertanya kepada Revan.
" besok !! "
" Ok!!! "
Mereka pun merencanakan apa saja yang di persiapkan, hari semakin sore kini Ara dan Vian pamit pulang sekalian mere mau berbelanja untuk perbekalan besok.
" ingat besok jam 05:00 udah ngumpul sini yah "
" iya, Vian ingat jangan kesiangan!! "
Ara melotot.
" iya bawel ah.. Yuk pulang!! "
Vian dan Ara pulang berbonceng, Ferro dan Revan mengantarkan sampai depan.
" gua mau telpon mama dulu minta ijin"
Ferro masuk lalu duduk di sofa, sementara Revan duduk di sebelah nya sambil membuka TV menonton.
Sekali kali Revan menyela percakapan ibu dan anak tersebut hingga mengundang tawa.
Revan dan Ferro memutuskan berbelanja di malam hari.
Ferro meletakkan ponselnya lalu ikut nonton dengan sebungkus keripik di tangan nya.
" serem amat, tuh cewek Film apaan sih ni "
Gerutu Ferro sambil memasukkan keripik ke dalam mulutnya.
" tonton aja kali, nanti juga tau "
" ingat pesan mama, kamu harus jaga gua "
Ucap Ferro manja sambil terus mengunyah.
" tau makanya jangan bawel"
Revan lanjut menonton, saat adegan horor muncul hantu nya dan mengangetkan.
AAAHHAA....
Ferro teriak bersembunyi di balik punggung Revan dan listrik padam menambah kesan Horor membuat Ferro kembali berteriak dan memeluk Revan panik.
" AAAHHh... Revan tolong ayok keluar aku takut!! Ngapain sih nonton film begini "
Ferro bergetar ketakutan terasa sekali saat ia masih merangkul Revan ketakutan.
Revan menahan ketawa hingga ia hampir tertawa.
Saat listrik kembali menyala lampu depan cepat menyala kembali.
AAAhh...
Ferro kembali berteriak hingga tawa Revan pecah memperlihatkan wajah Ferro yang ketakutan setengah mati dan air mata berlinang.
" lucu banget sih ha ha ha... "
Revan menjewer gemes pipi Ferro yang diam malu lantaran takut sampai menangis.
Ferro mencekik Revan menggunakan lengan nya memiting walaupun tidak kuat tetapi berhasil membuat Revan kewalahan.
" lepas, lepasin..!!! "
Revan berusaha keluar dari Cengkraman Ferro, tetapi Ferro mempererat.
" ampun!!! Ok tolong lepasin!!! "
" ok tapi ada syaratnya nya!!! "
" apaan? "
" kamu harus jawab iya dulu !!! "
" gak!! Ntar yang aneh-aneh!! "
" yah udah bagus dah, gak akan gua lepasin "
Ferro tetap pada posisinya Revan yang sudah tak kuat mencoba meronta-ronta.
" ok ok ya gua nyerah!!! "
" nah gitu kek dari tadi!! "
Ferro melepaskan Revan lalu kembali bersandar sambil merapikan rambut nya yang acak acakan.
" lu cewek apa cowok sih!! Kok gak ada kalem kalem nya "
" sembarangan!!!, gua mau kamu traktir gua bakso malam ini, ok!! "
" kok bakso lagi? "
" etss jangan protes.."
" yah udah!! "
Revan pasrah sedangkan Ferro tersenyum puas lantaran ia selalu menang dengan aturan yang selalu ia buat sendiri.
***
waktu menunjukkan pukul 19:07 Ferro dan Revan berjalan jalan di pusat perbelanjaan Mereka membeli banyak makanan ringan, perlengkapan pemanggilan, dan bahan bahan penyedap rasa.
Tak lupa Revan juga membeli beberapa baju tebal untuk Ferro agar tak kedinginan Saat camping nanti.
" Van mau yang itu aja "
Ferro menunjuk ke arah hoodie warna putih bersih.
" em udah kebanyakan ini "
Kini giliran Revan yang gak mau.
" yah udah!! Aku gak mau semuanya deh, biarin gua sakit karena hanya pake sweater"
Ferro meraju dengan wajah sok sedih, setelah di pertimbangkan Revan membelikan dua Hoodie couple warna putih dan hitam.
Ferro dengan tingkah seperti anak kecil senang kegirangan hingga meninggal semua belanjaan kepada Revan. Ia berjalan di depan dengan paper bag sedang kan Revan membawa barang barang belanjaannya yang cukup banyak dan berat.
Setelah berbelanja mereka berada di sebuah warung bakso, Ferro yang begitu kelaparan hingga memesan dua mangkuk sekaligus bakso urat dan beranak.
" akhirnya... Gua puas!! "
Ferro mengelap mulutnya menggunakan tisu lalu tersenyum berseri saat melihat Revan memangku tangan menunggu nya selesai makan.
" pantesan aja gak kurus kurus, makan nya aja segaban!! "
" sembarangan!! "
Ferro melemparkan bekas tisu nya ke Arah Revan.
" rakus jorok lagi, gua yakin kalau semua cowok tau tingkah Lo!! yang sebenarnya, gua yakin seratus persen lu bakal jadi perawan tua!! "
Revan mengangguk sambil mengacungkan jari telunjuk nya ke arah Ferro.
" sembarangan ya kalau ngomong!! "
Ferro hendak meraih tangan Revan dengan cepat menghindar.
" gua gak sembarangan ngomong kok, apa lagi Lo suka marah marah fiks cepat tua "
Revan Terus Resek.
" Revan...!!! "
" gua harus cerita ke siapa yah, kalau Sifat kelakuan Lo itu begini "
Revan sok mikir.
" Revan kalau Lo berani macem macem dan kalau sampai gua gak laku laku gara gara fitnah Lo " Ferro menunjuk ke arah Revan " maka Lo tanggung jawab, Lo yang harus nikah sama gua!! "
" ogah!! siapa mau yang nikah sama perawan tua "
" Revan!!! "
Walaupun meja sebelah tampak memperhatikan Tingkah ke dua remaja itu tetapi mereka berdua tak berhenti berdebat.
" hati hati jangan suka berdebat, nanti jodoh tau!! "
Seorang kakek kakek yang lewat menegur mereka.
" jodoh!! Gak mau!! wekkkek!! "
" siapa juga yang mau Sama cewek rakus, jorok lagi ih ekekww!! "
Mereka berdua bertingkah Sama sama sok jijik sampai pulang pun perdebatan mereka masih berlanjut, entah kapan ini akan reda.
Ferro menginap dan tidur di kasur Revan sedangkan Revan terpaksa tidur di lantai menggunakan kasur yang tipis, mereka sempat berdebat tetapi Ferro yang pintar meminta bantuan kepada mama Hanna hingga mau tak mau Revan mengalah.
Ferro menginap agar ia tak kesiangan dan perlengkapan sudah di siapkan di mobil.
Sebelum tidur Ferro sempat diam diam mengintip Revan yang tidur di bawah, samar samar ia melihat wajah Revan lantaran lampu di matikan hanya menggunakan lampu tidur yang menyala.
Ia sedikit menahan tawa saat Revan kedinginan memeluk bantal guling depan selimut menutupi sampai leher.
Sedangkan saat Ferro berbalik Revan pelan pelan bangun memastikan Ferro sudah tertidur atau belum.