
"What the hell??" sindiran seseorang.
****
"Apa yang sedang kalian lakukan disini? Ini gak mimpi kan gw? Gw masih di bawah umur woyy," Ujar Richo hingga menutup mata
Dengan rasa terkejut saat tau Richo menyaksikan dua insan yang menikmati suasana romansa, suasana di bawah pohon rindang itu menjadi canggung, sunyi dan hanya cibiran Richo lah yang berbicara sendirian seperti berbicara kepada hantu.
"Hhmm, lo ngapain juga sih dateng kesini? rusuh aja nih," sindir Rayyen
Gadis yang berada di bawah pohon melipat kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya dalam dalam, wajahnya memerah seperti kepiting rebus menahan rasa malu terhadap teman semasa kecilnya.
'Richo kenapa dateng sih suasana hati gw lagi labil susah di jelasin deh, jadi unmood ahhhhh kesel,' Batin Maissha.
"Gw udah enggak diperlukan di sini kan? mau pulang ya, takut mama cariin gw," ujar Maissha
"Ka Sha udah gw bilangin ke mama lo kalau lo lagi bantuin gw buat cari jambu biji dan mama lo minta di bawain, pokoknya lo harus bantu cariin," ujar Richo
"Wegelaseh, jangan asal bablas ae tuh mulut ya. pokoknya gw enggak mau manjat kek monyet cape gw kalau cari buah sama lo selalu gw yang manjat," sindir Maissha
"Emang lo monyet gw dah" sindir Rayyen
Maissha pun memasang muka cemberut tanda dia kecewa saat teman semasa kecilnya meledeknya, dan mereka pun tertawa bersama.
Saat di perjalanan mereka bersorak ceria untuk saling bercanda dan mengejek, tanpa sadar kawanan yang lainnya membuntuti untuk ikutan mengambil jambu biji di pohon yang sama, memang anak kecil itu suka ngeselin tetapi menggemaskan.
Sampai di tempat tujuan, "manjat sono Ray," ujar Maissha
"Enggak ah takut gw, ngeri jatoh. kan sakit klo jatoh," balas Rayyen
Dan akhirnya Rayyen yang mengambil buah yang sudah di petik oleh Maissha dan Richo di atas pohon yang tingginya sebatas sedang dari pohon jambu air.
POV Maissha
Perasaan Maissha diselimuti rasa kekhawatiran seperti sesuatu yang ingin berkomunikasi tetapi Maissha Tidak menyadari itu semua karena dia dari kecil tidak punya kemampuan seperti orang-orang yang menyebutnya dengan 'Indra keenam'.
'Kok badanku terasa berat? Apa hanya kecapean aja kali yah? Yasudah aku turun saja deh daripada kenapa-kenapa,' Batin Maissha.
Saat ingin turun seperti ada yang loncat dan menggelantung di pundak ku..,,
Dan
BRUKK...
"Ka Sha awas jatoh!!" Teriakan yang menggema.
"TOLONG ADA YANG JATUH!! Sha please jangan pingsan, Sha lo liat baju lu penuh darah," ujar Rayyen panik hingga terisak kecil, hanya Rayyen yang gampang menangis memang perasaannya selembut kapas jika tertiup ia akan terombang-ambing angin.
Banyak warga yg membantu Maissha dan membawanya ke rumah Maissha. Rasa panik menyelimuti hati Rayyen melihat gadis kecilnya penuh noda merah tertoreh di bajunya, ia pun berlari secepat mungkin untuk melihat keadaan selanjutnya setelah gadis kecilnya sudah di antar ke rumah kediaman Tante Lyra.
******
Ia sudah sampai di kediaman Tante Lyra dan langsung memasuki ke dalam rumah Maissha dan berlari menuju kamarnya.
"Sha maafin gw enggak bisa jagain lo, aturan tadi gw larang lo buat manjat tapi lo kan keras kepala. Gara-gara Richo lo jadi begini sialan tuh anak emang ya!!!" rahang tengang Rayyen tercetak jelas menandakan ia marah
Saat lelaki bermanik coklat memutarkan badannya untuk segera keluar dari kamar gadis kecilnya tersentak dengan melihat orang tua Maissha yang berusaha menahan tangisan itu agar tidak pecah di hadapan orang lain, tetapi Rayyen pun mendekati Tante Lyra-mama Maissha-. "Tante kalau mau nangis, menangislah di hadapanku. Aku tidak suka melihat seseorang yang menahan tangisannya padahal itu semua sangat menyakitkan dan harus ada pelampiasan yang tepat," ujar lelaki bermanik coklat sangat bijak membuat Tante Lyra menangis lepas.
******
To Be Continue
Jangan lupa memberi ❤️ dan komentar🌞