Friendzone

Friendzone
Episode. 23. Olive Menghilang



"Lo liat Olive kagak?" Tanya Win pada Jae.


"Gue dari tadi masang tenda, mana bisa gue pecah diri jadi dua?" Jawab Jae.


"Ini udah malem, tapi si Olive sama yang lain belum pulang juga, perasaan gue jadi khawatir," ujar Win menatap resah ke arah hutan.


"Bagaimana?" Tanya Jeje setelah pulang dari arah sungai.


Jeje dan Aje memperlihatkan banyaknya ikan yang mereka tangkap dengan susah payah, "Dapet banyak lo Je?" Tanya Jae senang.


"Iya dong, ikannya kekecoh sama kebisingan kita tadi," sahut Jeje.


"Nice!" Fuji Jae.


"Yeahh ..." Sahut Aje dan Jeje bersamaan menggunakan bahasa Korea.


"Win lo gak papa?" Tanya Aje merasa aneh dengan sikap sahabatnya.


"Gue sih gak papa, tapi gak tahu mereka bertiga. Perasaan gue kok cemas yah?" Ujar Win masih menatap kearah hutan.


Tak lama mulai terlihat dua orang teman mereka, hanya saja Win fokus mencari keberadaan gadisnya.


"Win! Jae!" Panggil seseorang dari arah hutan.


"Maria, Elisa kalian kenapa baru pulang? Mana Olive? Kalian tahu ini udah malem?" Tanya Win dengan nada tinggi.


"Kita tadi menemukan pohon apel kebetulan berbuah banyak. Jadi kami sempat kan waktu untuk memetik buahnya," jawab Elisa.


"Yang gue tanya sekarang, dimana Olive!" Win bertanya dengan tidak santai membuat orang orang disekitarnya ikut merasa cemas.


"Kami tidak bersamany-"


"Apa? Bagaimana mungkin kalian ninggalin dia gitu aja! Kalian tahu kita berada dimana? Kita itu harus saling jaga satu sama lain dan harus terus sama sama!" Bentak Win. Semua orang disitu kaget mendengar penuturan Elisa serta Maria.


"Dengerin kita dulu Win, tadi kita memang sama sama nyari kayu bakar. Tapi, Elisa usul mau balik duluan karena capek, karena gue juga kecapean gue minta ikut Elisa. Tapi, gue gak niat buat ninggalin Olive. Terus Olive bilang dia gak papa, lagi pula jaraknya ke tenda ini gak terlalu jauh. Dia bisa jaga diri gue yakin, Win." Jelas Maria.


"Mar lo gak mikir apa ha? Alasan kita bagi tugas dikelompokkan karena buat jaga satu sama lain bukan saling ninggalin. Sekarang Olive belum balik dan itu gara gara kalian berdua ninggalin dia sendiri!" Win pergi ke arah hutan.


"Win lo mau kemana?" Cegah Maria.


"Bukan urusan lo!" Jawab Win ketus menangkis tangan maria.


"Win tunggu!"


"Apa?" jawab Win tak santai.


"Gue tahu lo khawatir, tapi ini udah malem. Gak baik lo keluar dengan keadaan begini," ujar Maria.


"Ok kalau gitu kita cari Olive sama sama, ayok!" Titah Win.


"Gak!"


"Maksud lo?" Itu Elisa bertanya.


"Kita gak boleh pergi kehutan, disana pasti banyak bahaya. Gue gak mau pergi kehutan," ucap Maria.


"Gak tahu malu ya, Inget! Olive belum pulang gara gara lo bodoh! Dan jika Olive gak ketemu, jangan harap lo bisa tenang setelah itu, paham!" Win menunjuk wajah Maria penuh penekanan.


"Tapi, Win ..."


"Maria! Kalau lo gak mau ikut nyari Olive kehutan, artinya lo sengaja ngebiarin Olive tersesat, iya kan?" Jeje mulai memperlihatkan kecemasannya.


"Nggak! Maksud gue k-kita gak mungkin bisa nemuin Olive sekarang. Gue yakin Olive bukan tersesat, tapi ia sengaja karena terlanjur terjebak," ujar Maria menunduk.


Hening …


Mereka semua pergi ke arah hutan untuk mencari Olive, Maria melihat kepergian mereka hanya merasa sendu.


"Bagai mana cara gue kasih tahu kalian, kalau Olive jatuh ke danau biru itu. kalian cuman akan mendapat lelah dan putus asa pada akhirnya," ucap Maria merasa bersalah.


'Flashback on …'


Maria sedang membantu Elisa memungut buah apel dihutan dan merasa ada sesuatu meminta tolong dari arah barat. Karena pesanan akhirnya ia mengikuti arah suara itu dan meninggalkan Elisa yang masih setia memungut apel.


Langkah demi langkah gue pacu tatkala suara itu makin kenceng di pendengaran gue.


"Tolong!"


"Olive!" Teriak gue melihat Olive terjebak diantara akar akar pohon. Entah apa yang terjadi tapi akar akar besar itu melilit kaki dan tangan Olive.


"Olive!!"


"Maria tolong! Gue gak bisa gerak. Ini akar apa Mereka hidup?" Tanya Olive tak percaya.


"Gue panggil yang lain dulu. Lo harus bertahan ok!" Maria hendak pergi ngasih tahu ke temen temen tapi perkataannya dipotong Tm Tiba tiba.


"Nggak Mar! Akar akar ini makin lilit gue, gue gak bisa bertahan lama!" Olive semakin dililit oleh akar akar besar itu sampai ia hampir kesusahan bernafas.


"Mar tolong!"


Maria melihat akar akar itu membawa Olive ke sebuah danau di dekat pohon besar tersebut. Dia tak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa meneriaki nama Olive.


"Danau biru?" Dirinya merasa mimpi, jadi benar bahwa di puncak gunung ini ada sebuah danau biru, dimana siapa saja yang melihatnya itu artinya orang itu adalah manusia pilihan alam. Tapi, kenapa Olive bisa menemukannya?


"Maria!!"


Teriakan terakhir kalinya Maria denger dari Olive minta tolong pada dirinya, tapi aneh nya semua bagian tubuh Maria dan suaranya juga tidak berfungsi sama sekali.


Mari terduduk lemas melihat apa yang dirinya lihat, Olive dibawa akar akar itu kedalam danau biru itu. Air mata Mari menetes dan dia remas rambut kepalanya saking merasa frustasi.


"Olive ..." Lirihnya menangis.


Melihat tidak ada pergerakan dari dalam air, Maria berteriak memanggil Olive. Ia pun pingsan.


Beberapa waktu kemudian … Maria yang tersadar sendiri terbangun, menatap sekitar dan mencoba mengingat kejadian beberapa saat lalu. Tapi karena kepalanya sedikit pusing, dia tidak bisa berpikir jernih lagi.


"Dimana ini? Bukannya gue ada di-"


"Maria!" Panggil seseorang dibelakangnya.


"Elisa?"


"Ngapain lo disini? Cepet balik ke tenda. Muka lo kenapa lagi, kusut banget. Abis nangis lo ya?" Elisa terkekeh.


Maria mengingat semuanya, ia hanya bisa mengatakan, "Olive Sa, Olive!" Teriak Maria panik.


"Kenapa si lo? Olive kenapa?" Tanya Elisa ikut panik melihat sekitar mereka.


"Olive tadi-"


Hendak menceritakan apa yang dia lihat, Maria mengerti jika teman temannya tidak akan mempercayainya dan pasti akan menuduhnya balik. Dari pada mendapat masalah serius, lebih baik Maria pura pura tidak tahu saja.


"Olive udah balik belum?" Tanya Maria.


Elisa bernafas lega, ia kira terjadi sesuatu pada gadis itu, "Mana gue tahu, palingan Olive udah dijemput ajudannya si kembar. Udah lah ayok balik, mereka pasti nungguin bayu kabar," ajak Elisa.


Maria mengangguk, ia sangat bersalah. Tapi setidaknya ada harapan Olive kembali. Ia dan Elisa pun kembali ke tenda dengan perasaannya yang masih shock.


"Semoga aja yang tadi cuman mimpi, gue gak tahu lagi kalau Olive beneran tenggelam di danau itu. Tapi … Kalau iya gimana?" Pikir Maria gelisah dalam hatinya.