
Sore harinya Lili dan Ferro pergi berbelanja untuk oleh oleh pulang kampung. Mereka ber pas Pasan dengan Revan yang sedang keluar rumah untuk joging.
" Revan mau kemana...?" Lili tersenyum.
" biasa Tante mau joging " jawab Revan sambil mengerak gerakan badan nya pemanasan.
" Em... Revan yakin gak mau ikut Tante besok pulang kampung...? teman teman nya Ferro banyak yang ikut loh ada si Rio juga katanya..." Lili memberitahukan sambil tersenyum.
" apa...!" Revan kaget.
" napa lo... jangan bilang kamu berubah pikiran..." selidik Ferro.
Revan terdiam sejenak, ia menjadi bimbang karena awal nya memang Revan tidak ingin ikut karena pasti membosankan karena tidak ada jaringan internet di sana.
" Tan aku temenin belanja yah " Revan merapat dan menarik tangan Lili.
" Revan ih kamu GK boleh ikut..." teriak Ferro kesal.
Revan tidak menggubris ocehan Ferro membukakan pintu mobil dan Revan masuk mengambil alih mengemudi.
Ferro dengan kesal masuk juga ke dalam mobil sambil memasang wajah cemberut, ia kesal jika Revan ikut dan mengacaukan waktu berduaan nya dengan Rio.
Revan tersenyum puas melihat wajah Ferro yang bete dan dengan tampang tidak berdosa Revan semakin menjadi akan menjahili Ferro.
" Tan kayaknya acara aku disini gak jadi deh soalnya temen temen aku pada sibuk mau liburan juga... jadi Revan putuskan akan ikut Om sama Tante liburan" kata Revan dengan mantap.
" gak... gak ada, kamu gak boleh ikut kan kemarin udah nolak..." Ferro cemberut.
" ih kan yang nawarin siapa, yang nolak siapa..." Revan ngeyel.
" ih Revan... mah...!" rengek Ferro.
di sepanjang perjalanan Ferro dan Revan terus berdebat sedangkan Lili hanya tersenyum dan menggeleng geleng kan kepala nya mendengar debat ke dua remaja tersebut.
mobil berhenti disebuah supermarket yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahan mereka mereka bertiga turun dan masuk untuk berbelanja.
Revan mengirim pesan ke pada Vian, Gilang dan Edo untuk ikut dengan nya liburan besok pagi dan harus sudah Dateng minimal pukul setengah tujuh.
Revan berbelanja hanya membelikan berbagai macam aneka minuman dan Snack saja. sedangkan Ferro dan Lili membeli berbagai kebutuhan dapur obat obatan dan berbagai macam jenis Snack.
setelah sekian lama mereka berbelanja dan bahkan pergi ke beberapa tempat lain untuk berbelanja Revan dengan sabar menunggu ibu dan anak tersebut berbelanja pedahal ia sangat tidak betah berbelanja terlalu lama.
mereka pulang dengan belanjaan yang begitu banyak Revan membatu Lili dan Ferro membawakan barang belanjaan masuk.
" terima kasih lo Revan, sudah mau nemenin Tante dan Ferro " Lili tersenyum.
" sama sama Tan" Revan dengan bangga lalu menoleh ke arah Ferro yang dudu di sofa sambil menyesap es krim nya.
" apa...!" Ferro melotot.
" pegal pijitin dong..." Revan dengan paksa duduk mendekat dan membelakangi Ferro sambil memberi isyarat untuk memijit pundak nya.
" gak mau...!" Ferro berusaha mendorong punggung Revan hendak bangkit berdiri dan lari.
" mau kemana..." Revan dengan cekatan menahan Ferro lalu memaksa nya kembali Duduk dan menyuruh Ferro untuk memijit.
" Mah Revan..." Ferro meminta pembelaan.
" pijitin dong, anggap aja balas Budi dari tadi kan kamu udah nyusahin Revan membawa barang begitu banyak..." jawab Lili lulu ikut duduk sambil menonton TV.
" ih... " Ferro dengan muka cemberut dan dengan malas malasan memijit punggung Revan.
Revan dengan senyuman penuh kemenangan memberi arahan memijit.
"sini nih pegal bahu gue... pijat yang ikhlas dong kayak gak ada tenaga..! " Revan menahan senyum.
" iya... bawel udah Untung di pijitin, kali ini Lo menang tunggu aja pembalasan ku " Ferro geram tangan nya gatal ingin mencakar cakar rambut Revan.
setelah beberapa saat Revan pamit pulang karena ia juga ingin berkemas kemas mandi dan beristirahat.
di rumah setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai nya ia hendak rebahan. belum sempat ia melangkah menuju kasur handphone nya berbunyi
Ferro Calling...
" napa kangen yah "Revan mengangkat telponnya dengan bangga.
" ih kepedean... ini...." jawab Ferro dengan ragu ragu.
" ini apa...? " jawab Revan dengan santai.
" mama gua pengen Lo nemenin gue belanja lagi soalnya ada yang kelupaan tadi, yah gua sih bisa aja keluar sendiri cuman kan ini, mama gua yang tetap maksain Lo buat ikut nemenin gue " Ferro gugup sambil mencari alasan yang pas.
" em.. mama lu yang maksa atau kamu yang maksa ni?" tanya Revan dengan jail.
" kalau gak mau, bilang aja udah gua tutup dulu ni telpon" Ferro kesal karena Revan meremehkan nya dan hendak matikan telepon.
" tunggu... tunggu... yah udah ni gua berangkat sekarang" Revan mematikan telepon nya lalu mengambil switer dan turun kebawah pergi keluar menuju rumah Ferro.
Ferro kelihatan gengsi malu malu karena ia meminta bantuan Revan. alasan Ferro selalu gengsi meminta bantuan Revan ialah karena Revan selalu menyombongkan diri dan mengejek nya jika telah menolong.
Revan melihat tingkah Ferro mencoba menahan senyum. dan dengan penuh gaya pura pura meremehkan dengan enteng.
" apaan sih buruan..." Ferro langsung masuk ke dalam mobil.
mobil bergerak dengan mulus melaju keluar dari komplek dan menuju sebuah supermarket yang tampak tidak terlalu jauh dari komplek perumahan mereka.
sampai di tempat tujuan Revan keluar dari mobil dengan terburu-buru lalu membukakan pintu untuk Ferro, lalu dengan penuh gaya Revan membungkuk.
" silahkan tuan putri...!" Revan menahan tawa.
" Revan apaan sih bikin malu" Ferro panik dan cepat cepat menghentikan tingkah konyol Revan.
Revan tak mampu lagi menahan tawa nya hingga ia tertawa terbahak bahak melihat tingkah lucu Ferro.
mereka berdua masuk ke dalam supermarket untuk berbelanja. Ferro buru buru mencari barang yang tengah dicari.
barang yang dicari Ferro ialah hansaplas karena mereka kehabisan stok. Sedangkan Revan mencari makaroni pedas kesukaannya.
setelah menemukan barang nya Ferro terburu-buru menuju kasir dan tanpa sengaja menabrak seseorang pria yang tampak tak asing lagi.
" aduh maaf maaf...!" Ferro memungut barang nya yang jatuh.
" Ferro..." ucap Rio terkejut.
" Rio..." Ferro sama terkejut nya.
" kamu ngapain...?" tanya Rio lalu tersenyum.
" lagi beli ini aja" sambil menunjukkan barang di tangan nya.
Revan setelah menemukan Snack kesukaannya lalu pergi mencari Ferro. setelah mencari ia melihat Ferro dengan Rio yang tampak asik mengobrol.
" gimana kamu pasti ikut besok " tanya Ferro.
" iya dong... gua kan udah janji..." jawab Rio.
Ferro tampak tersenyum senyum saat berbincang dengan Rio berbeda saat bersama Revan rasanya mau adu mulut terus.
" eh kak Revan " tampak suara yang muncul dari arah belakang.
Revan terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Ferro dan Rio yang tampak tidak terlalu jauh pun mendengar suara itu lalu datang menghampiri.
" Dea.." Revan gugup.
" Revan, ini Dea kan " Rio memastikan.
" hai..." jawab Dea.
" lu ngapain ke sini " tanya Rio kepada Revan.
" mau tawuran, yah belanja lagi" jawab Revan ngeyel.
" Revan..." Ferro menengahi.
" lu mau ikut liburan juga?" tanya Rio dengan tampang menjengkelkan bagi Revan.
" jangan tanya, kalau kurang jelas tanya no mama nya Ferro " Revan nantang.
" kalian berdua apaan sih.." Ferro panik.
" kalian kok liburan aja pada ribut dah..." Dea menyela.
" yang ngajak lu liburan siapa sih " Revan kepo.
" Revan udah gua yang ngajak Rio" Ferro menahan Revan sambil menggandeng tangan Rio.
Revan tampak cemburu dan ingin sekali ia memukul Rio sekarang juga tetapi ia mencoba mengontrol emosi nya.
" kalian mau liburan kemana, gua ikut dong" Dea dengan santai seperti Tampa melihat tatapan sengit Revan dengan Rio yang saling beradu.
Rio yang jengkel melihat tingkah Revan juga ikut Tan emosi tetapi Ferro menahan tangan nya, Revan yang tampak amat teramat cemburu lalu merangkul Dea dengan satu tangan.
" boleh... Lo boleh ikut kok" Revan tersenyum tetapi didalam hatinya menahan api cemburu.
" Revan..." Ferro ingin protes karena Tampa persetujuan nya.
" kenapa emang Kakek dan Nenek kamu kan juga udah anggap gua cucunya, jadi aku juga boleh dong bawa siapa saja" jawab Revan dengan berusaha santai.
" seriusan kak aku boleh ikut ? " Dea memastikan.
" iya... sini nomer hp kamu " Revan sok akrab dan memasukkan nomor WhatsApp nya.
" terserah dah..." Ferro jadi emosi lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Ferro merasa jengkel melihat Revan merangkul lalu tiba tiba sok akrab dengan cewek lain.
" nanti hubungi aja ok...." Revan memberikan isyarat jempol lalu menyusul Ferro.
Di sepanjang perjalanan Ferro tak mau bicara walaupun sekali kali Revan ngomong ditanggapi dingin oleh Ferro.
sesampainya di rumah Ferro langsung masuk kamar sedang kan Revan setelah mengembalikan kunci mobil lalu berpamitan kepada om Yudi lalu pulang ke rumah nya.