Friendzone

Friendzone
Episode 48. Duet romantis



Kriss membahas ulang apa saja kegiatan mereka malam ini hanya bertiga dengan Vian dan Ara, sedangkan Revan masih terlelap memeluk erat selimut tebal dengan Ferro yang masih gak bergerak di dalam balik selimut tersebut.


" jadi gimana apa kita hanya membuat api unggun dan BBQ aja?" Kriss mengoreksi rencana mereka.


" iya gua rasa ini aja udah cukup" Ujar Vian.


" ok jadi rencana selanjutnya dilakukan besok pagi dengan joging menelusuri jalan setelah itu kan" Kriss memastikan dengan menunjuk jalan setapak.


" ok!" Vian setuju.


Sekarang Pukul 23:30 Vian yang sedari mengumpulkan kayu bakar dibantu Kriss dan Ara mereka pun membangun kan teman nya masing-masing.


" Oi Rev bangun..." Vian menggoyangkan tubuh Revan.


"em... ngapain sih" Ucap Revan lirih.


"bangun..." Revan menarik tangan Revan.


"em... lima menit lagi ngapa" Revan kembali meringkuk kedinginan memeluk selimut yang menggulung Ferro didalam sebagai guling.


" lima menit, lima menit bangun woi udah pagi" Vian berhenti menarik Revan.


"apa...!" Teriak Revan langsung terduduk langsung buru buru membuka layar Hp nya.


" makan tuh pagi" Vian tersenyum lebar lalu mengambil pemanggangan di dalam tenda.


" sial lu..." umpet Revan.


" kenapa sih ribut ribut...!" Ferro keluar dari selimut nya.


Mereka pun keluar setelah membasuh wajahnya, Revan membantu merentangkan plastik dan merentangkan dengan posisi melingkar.


Setelah selesai ia pun menyalahkan Api di atas pemanggangan dengan menyiramkan minyak goreng di tisu lalu membakar nya meletakkan di di briket arang hingga api menyala.


Detik detik jam 23:00 mereka semua duduk melingkar sambil menggenggam tangan orang di samping kiri dan kanan berjabat tangan.


Lagi lagi Revan di apit oleh dua wanita yang cantik nya sama sama gak mau kalah. Dengan Ferro di sebelah kiri dan Deva di sebelah kanan.


Dengan saling berjabat tangan mata saling tertutup, mereka membuat berdoa membuat permohonan agar untuk Tahun kedepannya mereka bisa melalui hari hari yang baik dan dilancarkan dalam segala urusan.


" Ara dibantu Mega, Nomi dan Ferro meletakkan Ayam, ikan,dan sosis di atas piring lalu membagikan kepada setiap orang masing-masing.


Mereka kembali duduk melingkar dengan hidangan dan minuman di depan masing masing.


" gimana kalau kita nyanyi aja, gua bawa gitar" usul Ara.


" Ok setuju Deva lu nyanyi duluan " Kriss menyarankan Deva.


" maaf aku gak bisa, suara aku kurang bagus" Deva beralasan lataran malu.


" jangan bohong, ayok nyanyi demi teman teman baru kita" Ujar Mega yang tau sahabat nya itu pemalu.


" ayok dong Dev hibur teman teman kita" bisik Nomi yang berada di samping nya.


Setelah Ara kembali dan tenda mengambil gitar dan desakan dari teman teman nya kini Deva pun mau tak mau menyanggupi untuk bernyanyi.


" sebentar yang main gitar siapa?" Ara bingung.


" Vian..." Ara menyerahkan gitar nya ke Vian.


" kenapa gua, kan Lo semua tu gua gak bisa main gitar" Vian bingung, tiba tiba ia tersenyum penuh arti." Revan..." mata Vian menyipit menatap ke arah Revan karena ia tau Revan sangat mahir di bidang Olahraga, otomotif, dan musik salah satu nya.


Sedangkan yang di tatap sedang asyik makan Tampa perduli dengan kebisingan sekitar.


" Revan lu main gitar" Vian dengan cepat menyodorkan gitar di pangkuan Revan.


" lah kenapa jadi gua" Revan gak siap.


" ayok lah... lu tega merusak kebahagiaan malam Tahun baru kita dengan tidak mengindahkan permintaan kami semu" ucap Vian dengan sedikit tersenyum menang.


Revan menatap sekitar memperhatikan mereka menatap Revan penuh harapan," ok hanya main gitar gak lebih" Revan meletakkan sendok nya lalu menyeka tangan nya menggunakan tisu.


Revan menoleh ke arah Deva" mau lagi apa?"


" em...gua mau nyanyiin lagu saat bahagia deh" Deva sedikit malu.


" ok " Revan mengangguk lalu mulai memetik senar gitar dengan begitu indah.


Saat bahagiaku


Duduk berdua denganmu


Hanyalah bersamamu


Mungkin aku terlanjur


Tak sanggup jauh dari dirimu


Kuingin engkau slalu


'Tuk jadi milikku


Kuingin engkau mampu


Kuingin engkau selalu bisa


Temani diriku


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku


Iringan petikan gitar Revan dan lagu yang dinyanyikan Deva serta nuansa alam yang begitu sepi walaupun terdengar letupan kembang api dari kejauhan.


Hingga ujung waktuku


Selalu


Seribu jalan pun kunanti


Bila berdua dengan dirimu


Melangkah bersamamu


Ku Yakin tak ada satu pun


Yang mampu merubah rasaku untukmu


Kuingin engkau s'lalu


'Tuk jadi milikku


Kuingin engkau mampu


Kuingin engkau selalu bisa


Temani diriku


Sampai akhir hayat mu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku


Hingga ujung waktuku


Selalu


Mungkin aku terlanjur


Tak sanggup jauh dari dirimu


Kuingin engkau s'lalu


'Tuk jadi milikku


Kuingin engkau mampu


Kuingin engkau selalu bisa


Temani diriku


Sampai akhir hayat mu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku


Hingga ujung waktuku


Selalu...


Semua orang bertepuk tangan gembira sungguh kolaborasi yang sangat baik, Deva tersenyum puas dengan lagunya sendiri di tambah paduan suara dari Revan di beberapa reff semakin menambah kekaguman teman teman nya.


" wow... keren... selamat Tahun baru...!" Nomi paling kegirangan.


"SELAMAT TAHUN BARU!!!" semuanya pun ikut berteriak senang dan puas dengan kegiatan yang mereka lakukan saat ini.


"nyanyi lagi lagi.." Mega juga gak kalah girang nya.


" udah ah... " Deva tersenyum menunduk malu, hingga poni yang panjang menutupi hampir separuh wajahnya.


Dalam hati ia sangat senang, baru kali ini ia sangat merasa bahagia dikelilingi orang orang yang baik dan entah apa yang membuat nya kini lebih suka memperhatikan Revan.


Pedahal lebih banyak cowok ganteng, kaya, dan populer mengejar cinta nya, tetapi baru beberapa saat bersama Revan ia merasakan hal yang berbeda.


Dari Raut wajah Ferro ia berusaha menampilkan senyuman di wajahnya tetapi tidak dengan hati nya, entah kenapa akhir akhir ini saat Revan banyak di kelilingi para wanita hati ia merasa tak tenang.