
Yudi melangkah maju dan menghadap ke arah anak anak yang masih takjub akan indah nya pemandangan perkebunan di Desa.
" anak anak... cara memanen buah cabai harus di lakukan oleh dua orang, jadi om harap kalian memilih pasangan kalian masih masing ok..." ucap Yudi sambil mengacungkan jempol.
" ok..."
" ok om..."
Jawab mereka semua dengan anggukan kepala lalu mencari pasangan masing-masing, Rio menoleh ke arah Ferro dan hendak menghampiri nya.
" Revan gua bareng lu yah...!" Ferro tersenyum lalu menarik tangan Revan dan melangkah menuju salah satu bedengan cabai.
Rio memasang muka geram serta mengepalkan tangannya menahan api emosi yang tak terkatakan, ia terdiam mematung melihat ke arah Revan dan Ferro.
" Rio... kenapa?" Ara menepuk pundak Rio dengan wajah polosnya.
" gak... gak papa.." Rio tersadar dari lamunannya.
" oh... em... kamu mau gak berpasangan dengan gua..." tanya Ara sambil malu malu menahan senyum.
"ok..." jawab Rio dengan wajah datar.
" asyik...!" ucap Ara pelan membelakangi Rio tersenyum lebar hingga membuat nya tidak sanggup berkata kata.
" Kita ambil di sebelah mana..." Rio menepuk pundak Ara yang membelakangi nya.
" aku ikut kamu aja.." Ara tersenyum.
" ok..." Rio pergi terlebih dahulu.
Ara mengikuti Rio dari Arah belakang sambil tersenyum malu lalu memberikan isyarat kepada Ferro.
Ferro yang melihat itu tersenyum kaku lalu kembali ngobrol dengan Revan Dan tertawa lagi.
waktu terus berlalu kini terik panas matahari semakin menyengat kulit, jam menunjukkan pukul 10:28 menit anak anak yang sudah tidak tahan berjemur di bawah teriknya matahari memilih pergi untuk berteduh.
" Fer ikut gua yuk..." Revan menarik tangan Ferro lalu pergi.
" Revan pelan pelan mau kemana sih kita..." rengek Ferro.
" ikut aja nanti juga kamu tau..." Revan terus berjalan dengan Ferro mengikuti nya di belakang.
di sebuah bukit kecil terdapat sebuah pohon besar dan rindang tumbuh di tengah tengah bukit.
" nah udah sampai..." Revan lalu duduk bersandar di pohon tersebut.
" kok kesini..." Ferro tampak kecewa lalu duduk lesu di samping Revan.
" kamu liat dulu..." Revan memegang dagu Ferro lalu menunjukkan nya ke arah seberang.
Tampak air terjun dan alam sekitar yang begitu indah luas membentang.
" wah... kok gua baru tau sih ni tempat... kamu kapan kesini...!" ucap Ferro tak percaya dengan apa yang di lihat.
" sebenarnya sih sore ini gua pengen ngajak Lo jalan jalan ke sini... cuman tadi gua perhatiin Lo capek lesu gitu... jadi yah gua bawa Lo kesini buat Lo bisa segar lagi..." ucap Revan dengan pandangan lurus ke depan.
" em... sok so sweet... Lo" Ferro tersenyum menoleh ke arah Revan.
Angin berhembus sepoi-sepoi hingga menyejukkan badan dengan cepat Revan masih fokus duduk terdiam dengan pandangan lurus memperhatikan alam sekitar.
Ferro diam diam memperhatikan Revan, dan sedikit mencoba menahan senyum.
" Revan ternyata kalau dilihat lihat lumayan ganteng sih..." Ferro berbicara dalam hati.
" ngapain Lo... senyum senyum sendiri... kemasukan jin pohon lu..." Revan membuyarkan lamunan Ferro dengan menempelkan punggung tangan nya ke dahi Ferro.
" apaan sih Revan..." Ferro membuang muka membelakangi Revan dengan pipi yang mulai memerah.
" Lo kenapa woi..." Revan Mendorong punggung Ferro pelan.
" gak papa ih... kamu deh mulai..." Ferro tertawa malu.
" kenapa sih ni anak aneh bener..." Revan ikut tertawa.
tak terasa mereka melewati hari begitu cepat waktu menunjukkan pukul 11:00 kini mereka harus segera pulang ke rumah setelah menjual buah cabai yang di panen kepada pengepul.
" pinggang gua sepertinya patah deh..." Vian dengan lebai langsung rebahan dengan posisi terlungkup.
" seriusan... sini gua periksa.." Revan yang baru datang langsung naik menginjak pinggang Vian.
" ah... sakit gila lu berat banget..." Vian meringis kesakitan.
" ah lu aja yang terlalu kerempeng..." Revan turun lalu duduk di sebelah Ferro.
" ini silahkan diminum dulu..." Lili membawakan napan teko berisikan es semangka.
diikuti dengan Rani di belakang nya membawakan napan dengan piring berisikan jumput jumput pisang goreng.
" kebetulan gua udah haus banget Tante... laper juga..." Vian dengan semangat bangun kembali dan paling duluan mengambil gelas serta gorengan.
" makan elit disuruh kerja sulit..." ucap Revan dan disertai galak tawa teman teman yang lain.
" sembarangan gua makan sama kerja seimbang, lu liat aja badan gua kurus banget enggak di bilang gemuk gak mungkin..." Vian memamerkan badan nya.
Rio terdiam termenung seperti tidak memperdulikan sekitar Ara yang sedari tadi nempel dengan nya pun canggung karena Rio sedari tadi irit bicara.
Ferro sedari tadi ikut memperhatikan Rio tetapi ia sedang bersama Revan jadi ia tidak terlalu menghiraukan Rio.
" anak anak hari ini terakhir kita disini karena besok kita akan kembali ke rumah kita masing-masing..." Yudi berdiri dengan segelas es di tangan nya.
" yah..."
" em..."
mereka tampak belum cukup puas dengan liburan nya di sini, tetapi apa boleh buat karena papa dan mama Ferro harus kembali ke kota karena masa cuti kerja sudah habis dan harus segera kembali bekerja.
" yes..." seru Vian heboh sendiri.
" napa lu..." Edo heran.
" eh gak gak papa..." Vian tersenyum mengangguk kan kepala nya.
mereka terus mengobrol dan sekali kali gelagat tawa dikala Revan dan Vian saling beradu mulut mengoceh tak jelas.
" Revan kayak nya jalan sore kita di cancel deh..." Ferro berbicara pelan mendekat kan wajah nya ke telinga Revan.
" kenapa..?" Revan heran.
" gua cape banget..." Ferro memegang pundak dengan kaki nya.
" oh... ok kamu istirahat aja ok... biar besok kembali fit.." Revan menepuk bahu Ferro pelan.
" e... em... " Ferro tersenyum.
siang hingga sore mereka habiskan untuk istirahat dan tidur karena terik matahari begitu panas hingga membuat mereka jadi malas untuk keluar Rumah.
menjelang malam mereka semua baru selesai makan bersama kini masing-masing dari mereka di sibukkan dengan aktivitas masing masing ada yang mengobrol dan ada juga yang sedang main catur dengan Kakek dan om Yudi.
suara jangkrik dan kodok menghiasi suasana malam Ara dan Ferro sedang ngobrol berdua di pondok belakang Rumah.
" Fer maaf ya... gua jadi gak enak sama Lo.." Ara tertunduk lesu.
" kenapa harus minta maaf..." Ferro tersenyum lalu memeluk Ara.
" gua tau kok lu suka kan sama Rio..." Ara masih tertunduk.
" heh... kok kamu ngomongnya gitu, kan kita semalam udah sepakat, gua akan berusaha menghindari Rio dan lu harus pepet dia terus..." ucap Ferro dengan nada lirih.
" gua menyerah Fer..." Ara menangis ia berusaha menahan suara Isak tangis nya.
" Ara..." Ferro pun ikut sedih dan berusaha menahan air mata nya.
( ternyata malah kemarin setelah berganti baju sebelum tidur Ara mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya bawa ia sangat menyukai Rio tetapi ia berusaha menutupi karena Rio seperti nya menyukai Ferro.
dan seperti nya Ferro juga menyukai Rio jadi Ara menyimpan jauh perasaan nya demi sahabat nya, setelah mendengar kan curhatan Ara, Ferro merestui Ara untuk mencoba mendekati Rio dan Ferro akan berusaha untuk menghindari Rio selama Ara melakukan pendekatan).
" Ferro gua merasa gua egois..." Ara Semakin tak bisa menahan tangis nya.
" udah Ara jangan menangis lagi..." Ferro terus berusaha menenangkan Ara.
mereka berpelukan cukup lama hingga membuat Ara sedikit tenang dan mulai memegang tangan Ferro dan menatap mata Ferro.
" Fer... seperti nya gue iklas jika Lo yang jadian sama Rio... gua tau kok lu suka kan sama Rio...
jadi lu harus semangat, gua putuskan dari sekarang untuk berusaha melupakan Rio dari ingatan gua. dan lo jangan merasa gak enakan sama gua ok... Fer lu juga perlu bahagia..." Ara tersenyum dan berusaha berjanji terhadap sahabat nya itu
" ini rahasia Kita berdua..." ucap Ara lagi.
" Ara.. udah iya... tapi janji lu gak boleh nangis lagi ..." Ferro ikut tersenyum.
mereka berdua kembali berpelukan dan tersenyum karena masalah mereka sudah selesai.
pring...
suara seperti kaca pecah membuat Ara dan Ferro terkejut dan mereka menoleh ke arah sumber suara.
Saat di cek ternyata Ada bekas piring pecah dan mereka tidak tahu penyebab nya, Ara dan Ferro juga mengira mungkin kucing lewat karena mereka juga tidak melihat orang lain disitu selain mereka berdua.
Revan berjalan tertunduk lesu menghampiri Vian, Gilang dan Edo yang masih asyik bermain gitar di teras Rumah seperti nya Vian dan teman teman nya sengaja menarik perhatian cewek cewek desa tetangganya Kakek dan Nenek.
" napa lu kusut bener tuh muka, kayak kain yang udah gak dicuci 8 hari.." ucap Vian lalu meletakkan Gitar nya.
" apaan sih lu... " Revan lalu Rebahan di sandaran kursi depan.
" ngapain sih lesu benar tuh Napak..." Edo ikut mengomentari.
" sut... awas cowok pms gak usah di ganggu..." Gilang dengan wajah jail nya.
mereka bertiga tertawa terbahak bahak sementara Revan tidak menggubris omongan dari teman teman nya.
Yang ada dipikirannya sekarang ialah tentang pendengaran nya tadi saat ia tak sengaja mendengar pembicaraan Ara dan Ferro di belakang.
Hati Revan bergemuruh sangat kencang dan Rasanya ingin mengamuk sejadi jadinya tetapi ia berusaha untuk menahan nya.