
"Gak usah ngelamun lo, takut tahu gak?" Tegur Elisa menjauhi Ajel.
Ajel melihat Elisa yang seperti ngeri padanya jadi kesal, enak saja, "Terserah," sahut Ajelio lalu menghampiri saudaranya lagi.
Win berdiri menghadap danau, danau ini seperti banyak cabang aliran air, "Je!" Panggil Win.
"Apa?"
"Menurut lo, apa ada opini yang buat kita berpikir kalau Olive-"
"Jangan ngawur Win. Gak mungkin lah Olive dengan begonya nyeburin diri ke danau? Lagian dia tugasnya nyari kayu bakar, bukan nyari ikan atau berenang," sanggah Jeje menetralkan pikiran buruk temannya itu.
Sebenarnya pikiran mereka sama, hanya saja Jeje masih tak percaya jika Olive bisa senekat itu. Sedangkan Jaerim mulai memperhatikan sekitar, tempatnya sangat terawat. Aneh, bukan kah seharusnya hutan tak tersentuh ini kotor dan banyak semak belukar?
"Kalian ngerasa gak si? Kalau tempat yang udah kita lewatin dari tenda sampai kesini itu, kayak terawat dan ada yang rawat," ungkap Jaerim mengeluarkan unek uneknya.
Win menyahut, "Iya gue ngerasa gitu juga, tapi apa mungkin ada orang yang tinggal disekitar hutan tanpa sinyal gini? Ini pedalaman gunung," Win.
Jaerim mengangguk, "Gue juga paham, tapi mungkin aja kan?" Sahut Jarim lalu memanggil Elisa. "Oh iya El. Bokap lo kerja di pertanian kan?" Tanyanya pada Elisa.
Gadis itu mengerutkan dahi, sejak kapan? Dasar sok tahu, "Bapak gue kerja di pertambangan bukan pertanian, gak usah sok tahu deh lo," sahut Elisa.
"Ah iya itu maksud gue," jawab Jaerim menggigit lidahnya, salah sangka.
Ajelio mendekat, "Emangnya kenapa kalau bokap si Elisa kerja di pertambangan? Emang ada sangkut pautnya sama kita?" Pertanyaan cerdas, Jaerim tersenyum mendengar kalimat dari laki laki manis itu.
"Yap, gue pernah baca satu buku yang menguak soal pertambangan dan hutan. Biasanya di semua gunung pasti menyimpan misteri dan kelebihannya masing masing. Gue yakin, gunung ini punya sesuatu yang makanya orang orang ngelarang kita buat ke puncak," jelas Jaerim.
Semua orang mulai fokus mendengarkan kalimat Jaerim. Benar juga, tapi apa hubungannya? Mereka semua masih bingung.
"Maksud lo apa? Ngomong yang jelas," tegur Elisa.
"Maksud gue, mungkin aja si Olive di culik orang lokal? Nah orang lokal ini, yang dijaga sama menteri kehutanan dan pertambangan, karena pasti adanya orang lokal itu ada sesuatu yang berharga. Dan pemerintah pasti tutup akses puncak gunung ini karena pengen ngejaga atau serakahnya memiliki benda berharga itu," jelas Jaerim panjang lebar.
"Apa hubungannya sama pertambangan goblok?" Kesal Elisa yang merasa ngawur dengan perkataan dari Jaerim.
"Emang gak ada hubungannya, tapi maksud gue itu disini pasti ada emas atau harta karun yang tersembunyi. Makanya pemerintah pengen nambang gunung ini sebelum akses menuju puncak di buka!" Lama lama ia kesal karena orang orang inu dongo semua.
Setelah mendengar hal itu Elisa dan yang lain ber oh saja. Karena sedikit demi sedikit mereka paham maksud dari perkataan Jaerim.
"Jadi maksud lo, Olive lagi di culik mereka?" Tanya Ajel.
Jaerim mengangguk.
"Terus kalau ternyata dugaan lo salah gimana?" Tanya Ajel lagi yang masih ada keraguan.
"Gue perkirakan pake rumus phytagoras, hitungan gue gak salah. Olive pasti dibawa orang lokal disini," jawab Jaerim dengan gagahnya.
Win sedikit menunduk mencerna semua itu, ia memikirkan apakah iya? Jika begitu, itu artinya akan sangat sulit merebut Olive kembali pada mereka.
"Terus, kita harus gimana sekarang?" Tanya Elisa.
"Nah itu," sahut Jaerim menunjuk Elisa. "Kita harus gunakan skill bapak lo, El." Lanjutnya.
Elisa mengkerut, "Kenapa jadi ke bapak gue?" Tanyanya tak nyaman.
"Kan bapak lo kerja di pertambangan!"
"Tapi bapak gue kan di rumah bukan disini!" Balas Elisa dengan kesal.
Jaerim yang hendak balas menyahut di buat diam, "Benar juga," sahutnya pelan, bodoh sekali dirinya.