Friendzone

Friendzone
Episode 53. Cemas



Lorong sekolah mulai ramai sepasang kekasih berjalan bersisian saling bergandengan tangan, banyak yang memuji keserasian mereka berdua bagaikan seorang pangeran dan putri kerajaan.


" mereka cocok yah....!"


" mereka berdua serasi sekali...!"


" wow iri banget....!"


Banyak siswa siswi saling berbisik-bisik sehingga membuat Ferro tertunduk malu, ia jadi gak enakan jadi pusat perhatian entah harus merasa bahagia bisa digandeng cowok ganteng atau harus malu jadi bahan omongan orang.


" kenapa?" saat Rio menyadari Ferro merasa gak nyaman.


" gua malu Rio" Ferro menengok ke arah Rio di sisinya.


" kenapa harus malu?" Rio menatap wajah kekasih nya.


Ferro menunduk berjalan dan hanya menggelengkan kepalanya tak tau harus jawab apa.


Saat didepan kelas Ferro langsung masuk setelah berpamitan dengan Revan, ia sempat melirik ke arah bangku Revan yang tampak masih kosong.


" pagi.." senyum Ferro saat melihat sahabat nya sudah datang lebih awal.


" cie...cie... yang sekolah di jemput sama ayang!" Ara menggoda sahabat nya itu.


" apaan sih..." Ara menonjok bahu Ara pelan.


Ferro mengeluarkan alat tulis dari tasnya menata kan di atas meja, ia melihat Vian, Gilang dan Edo baru saja masuk kelas tetapi tak mendapati sosok seorang yang dicarinya.


" Revan mana kok gak bareng kalian?" Ucap Ferro saat Vian berjalan melewati meja nya.


" bukannya ia selalu barengan sama Lo" tanya Vian balik, walaupun Vian tau Revan ada dimana.


" pagi tadi gua enggak bareng sama Revan" Ferro tersenyum getir.


" biasa yang lagi punya ayang " ucap Ara yang berada disebelahnya.


" Lo bareng Rio?" ujar Vian sambil duduk di kursinya.


" iya..." jawab Ferro lemah, Ferro lalu melihat ke arah jam dinding waktu menunjukkan pukul 06:58 pertanda jam pertama akan segera di mulai tetapi Revan masih saja belum nongol.


Ferro tak pernah melihat Revan bolos jam pertama, itupun karena mereka selalu barengan saat berangkat sekolah jadi jika Revan berencana bolos di jam pertama pun pasti sudah diomelin serta cubitan dari Ferro.


Bel berbunyi jam pelajaran pertama pun di mulai, Seseorang dari kelas lain datang masuk terlebih dahulu membawa amplop surat ijin dan menyerahkan nya kepada ketua kelas.


Jam pertama pun dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia Bu Yuli membaca surat ijin yang tak lain adalah dari Revan.


" Demam dan sakit perut...!" gumam Bu Yuli agak keras sehingga terdengar di dalam kelas yang siswa siswi yang masih senyap.


" sakit hati kali Bu...!" ucap Vian dari kesunyian kelas.


Sontak suasana kelas yang sunyi kini menjadi Ramai mendengar ucapan Vian mereka tertawa.


" Vian..., Ribut sekali lagi bawa buku dan pulpen kamu belajar di luar yah..." ancam Bu Yuli.


" iya maaf maaf Bu" Vian ketakutan sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


Belajar mengajar pun dimulai suasana di kelas berasa sunyi itulah yang dirasakan Ferro, ia merasa tak Fokus dan tak begitu memperhatikan apa yang sedang di pelajari.


Sehari Tampa kehadiran Revan ia menjadi kepikiran, ia ingin marah sekali sama Revan lantaran sudah mulai berani bolos.


***


Ditempat lain Revan sedang asyik bermain game online di warnet bersama teman temannya disekolah yang lain ada Leo juga.


" kok Vian dan yang lain gak ikut..." Leo melirik sekilas lalu kembali fokus ke layar komputernya.


" yah... jangan gangguin mereka belajar deh" Revan tak enakan.


" tumben lu bolos jam segini?" Leo masih fokus.


" yah.... cari Susana baru sumpek jadi orang pinter" Revan menengguk bir kaleng yang sebelumnya ia tak pernah coba.


Leo melihat hal itu sedikit tersenyum karena baru kali ini Revan melakukan nya, biasanya walaupun dipaksa ia takan pernah mau menyentuh barang itu.


Leo meletakkan Rokok di atas meja Revan, tanpa pikir panjang Revan pun mengambil satu batang menyalakan menggunakan korek lalu menyesap mengembuskan dengan mata masih fokus ke depan.


Doni salah satu anggota dari geng mere selalu mengabadikan momen bolos mereka dengan membuat story WA.


***


Jam istirahat telah tiba dan para siswa siswi berbondong-bondong ke arah kantin, Vian, Edo dan Gilang duduk di kursi dekat pintu masuk kantin mereka tertawa saat melihat status WA Doni.


" anjir ini Revan!!" mereka menjeda Vidio saat menangkap sosok Revan sedang minum bir dan merokok dengan santainya Vian tertawa ngakak baru kali ini ia melihat Revan minum bir dan merokok.sebelumnya walaupun tampangnya sangar tetapi ia tak akan pernah menyentuh barang tersebut.


" gila anying seriusan" Gilang mendekat kan wajah ke ponsel Vian lalu Edo menunjukan nya ke arah Edo yang berada di depan nya.


" Revan....!" Ferro yang baru saja masuk kantin melihat ke arah layar Hp Vian yang sedang mengarah ke arah Edo tetapi pas kebetulan Ferro lewat dari belakang kursi Edo melihat hal tersebut.


Sontak Vian, Edo dan Gilang terkejut bukan main mereka tau pasti Ferro akan marah besar melihat hal tersebut.


" Ferro biar gue jelasin" Vian hendak bangun tetapi terhenti melihat tatapan mata yang tajam kearahnya.


Ferro mengeluarkan ponselnya menelpon ke nomor Revan Tetapi tak diangkat. 21 panggilan WA tak terjawab.


Ferro mulai emosi ia tak akan pernah mau bicara dengan Revan sebelum ia menjelaskan semua ini dan berjanji tak akan mengulangi nya lagi.


Ferro mendatangi Vian dengan penuh emosi meminta mengirim kan Video tersebut awalnya Vian menolak tetapi terus didesak dan diancam Ferro akhirnya Vian menurut.


Hari ini Ferro sangat emosi ia memutuskan untuk tidak mau berurusan dengan namanya Revan dan segala hal yang bersangkutan dengan Revan.


Jam pulang sekolah kini telah tiba Ferro ditunggu Rio di depan kelas, setelah mengemasi bukunya Ferro keluar dan berjalan disisi Rio.


" hei ada apa? kok wajah murung gitu!" Rio menyadari Ferro sedang tidak mood tampak sangat jelas dari wajah dan tingkah nya.


" gak papa kok" Ferro Terus berjalan.


Dari arah belakang terdengar suara memanggil manggil nama nya, Ferro dan Rio menoleh ke arah sumber suara.


" Vian.. kenapa?" Ferro Bingung.


" em..." Vian melihat ke arah Rio" ikut gua bentar gua mau ngomong" Ucap Vian.


" disini aja" Sanggah Rio.


Vian melirik ke arah Ferro mengisyaratkan sesuatu yang sangat penting.


" em Rio lu tunggu di mobil aja yah, bentar doang kok" Ferro memohon.


"ok.." Walaupun sepat ragu akhirnya Rio pergi.


" kenapa?" Ferro mulai menginterogasi.


" Revan..." Ucap Vian.


" hah... Revan kenapa?" Ferro mendesak Vian agar cepat memberi tahu nya.


" em... em.. mabuk berat, dia lagi di club" Vian tak kuasa mengatakannya.


" bodoh... bukan urusan gue...!" teriak Ferro berbalik pergi dengan emosi tak terkatakan.


Diperjalanan menuju parkiran ia tampak bimbang menemui Revan atau mengabaikannya. saat mendekati mobil Rio ia memperlambat langkahnya.


Dalam pikirannya sangat lah kacau ia berdebat sendiri dengan pikirannya, sehingga lamunannya buyar saat Revan memangilnya.


" sayang cepetan dong " Rio sudah menunggu nya di dalam mobil.


Ferro mendekat pintu mobil" Rio gua pulang nya sama Ara yah, soalnya gua lagi ada urusan masalah perempuan" Ucap Ferro beralasan.


" gua anterin..!"


" jangan!!"


" eh maksudnya, gua dan Ara naik mobilnya Ara aja" Ferro berusaha untuk Rio tak mengikuti nya.


" ok.... yakin"


" yakin!!"


" aku duluan ya"


" bay..."


Setelah Rio pergi Ferro memberi pesan WhatsApp ke Vian untuk memberi tahu tempat keberadaan Revan.