
Saat mereka semua tampak sudah berganti pakaian Rani datang menghampiri mereka semua.
" maaf semuanya mengganggu waktu nya, saya hanya memberitahukan bahwa Kakek dan Nenek mengajak Om, Tante dan semuanya untuk makan siang di pondok belakang Rumah" ucap Rani dengan Ramah.
" terima kasih yah Rani, kami semua akan segera menyusul" ucap Lili tersenyum.
" akhirnya makan udah laper nih..!" suara Vian pelan sambil mengusap perutnya.
" makan aja semangat... disuruh giliran nyetir mobil malah molor...!" gerutu Revan.
" gak sengaja Van... mata gue gak bisa di ajak kompromi..." alasan Vian.
" udah udah hayu... laper " Gilang merangkul mereka berdua lalu pergi menyusul yang lain.
Mereka berjalan beriringan yang dituntun Lili yang mengenal Rumah nya sendiri.
mata mereka tampak terpesona melihat alam yang begitu luas dan memanjakan mata.
Belakang rumah Kakek dan Nenek terdapat pondok yang cukup besar hingga dapat menampung kurang lebih dua puluh orang.
suasana persawahan serta angin berhembus menyejukkan hati.
" Ferro sini dekat Nenek..." ucap Nenek sambil tersenyum.
" iya Nek.." Ferro nurut.
" oh iya Nenek lupa, cucuk Nenek yang satunya lagi mana..." sambil menatap di kerumunan.
" cucuk Kakek... Revan mana..." Kakek pun tak kalah ingan melihat Revan.
" Ini Kek.. Nek.." Revan maju.
" sini duduk di tengah samping Ferro..." perintah Kakek.
" tapi Kek..." protes Ferro dengan manja, lataran Ferro masih kesal dengan kejadian kemarin bersama Revan.
" jangan gitu sama calon suami kamu..." Ujar kakeknya.
semua yang mendengar menjadi diam sunyi sejenak, Vian yang tak kuasa menahan tawanya pun tertawaan ngakak dan diikuti yang lain.
" Kakek..." Ferro manja.
Nenek dan Kakek pun ikut tertawa melihat Ferro dan Revan salah tingkah. suasana semakin rame suara tawa canda mereka yang tampak tak habis habisnya.
Kakek dan Nenek sangat senang dengan kehadiran mereka semua dan jika memungkinkan mereka harus tinggal di sini selama nya bersama.
saat asyik ngobrol dan menyantap hidangan Rani diam diam memperhatikan seseorang cowok dan dari tatapan matanya Rani menyukai cowok tersebut.
" gays... sore ini kita mau kemana?" Ara bersemangat.
" bobok ngantuk gua... ya gak Lang, Do.." seru Vian.
" Yoi..." Gilang mengacungkan jempol.
" gas lah..." Edo setuju.
Ara sebal dengan tidak kompak nya rombongan Vian dan teman teman nya, sambil memasang muka kesal lalu menoleh ke arah Rio dan Aslan.
" kalian berdua mau tidur juga.." tanya Ara
" Gak sih... gua pengen keluar mau liat liat kampung sekitar..." jawab Rio.
" gua ikut..." Tasya bersemangat.
" Fer Lo Ikut yah, yang tau daerah ni kan cuma elo.." usul Ara.
" iya deh iya..." Ferro nurut.
Revan bingung sebenarnya ia pengen Rebahan karena sangat melelahkan menyetir mobil sepanjang perjalanan di satu sisi ia juga gak pengen memberikan kesempatan untuk Rio berduaan dengan Ferro.
" gua ikut..." Revan dengan terpaksa.
" gak boleh kamu temenin mereka di rumah aja, kasihan kan kalau mereka ntar bangun terus pengen main gak tau jalan sesat ntar..." Ferro menolak dan menunjukkan Vian dan teman teman sebagai alasan.
" Benar juga tuh..." Vian yang tak searah dengan pikiran Revan lalu membujuk Revan tetap tinggal.
" Vian lu apaan sih..." protes Revan.
" Lo tega yah sama temen Lo sendiri yang lemah tak berdaya ini...." Vian memohon dengan muka sok sad nya.
" ok gua di rumah..." Revan mengalah.
Ferro tersenyum ia berpikir tidak ada lagi orang yang akan menggangu waktu nya bersama Rio.
Dea yang awalnya menolak ikut dipaksa oleh Ara dan Tasya.
setelah acara makan makan nya selesai mereka bubar dengan urusan nya masing-masing.
Ferro, Ara, Tasya, Dea, Aslan dan Rio pergi jalan-jalan keliling kampung sekitar, sedangkan Vian, Gilang, dan Edo molor di pondok.
Revan pikiran nya gak tenang berbaur kesal perasaan cemburu melihat Ferro bersama Rio, Ia berjalan jalan disekitaran kolam ikan yang tak jauh dari pondok tersebut.
Revan terus menerus menggerutu Tah apa yang diucapkan nya karena hanya mulut nya berkomat Kamit sambil tangan nya memetik sambil melemparkan daun singkong ke dalam kolam.
" hei...! sendirian aja..."
Revan sontak kaget dan memalingkan wajahnya menghadap sumber suara.
" sendirian aja melamun lagi..." sindir Rani.
" siapa yang melamun... gua Hanya fokus ni beri makan ikan..." Revan beralasan.
" kok gak ikut yang lain " Rani basa basi.
" tadi nya pengen tapi tuh, tiga bayi kebo lagi pada molor gak mau ditinggalin..." Revan memonyongkan mulut nya menunjuk Vian dan yang lain tengah asyik tertidur pulas.
Rani menahan tawa dengan cepat ia menutup nya menggunakan tangan. hembusan angin sore membuat rambut panjang yang terurai melayang pelan tampak kecantikan alami dari seorang gadis desa.
Revan tampak sedikit terpana hingga dia hanya diam mematung sambil menatap ke arah Rani.
Revan terkaget dari lamunannya saat tangan Rani melambai di depan wajahnya ia mundur tersadar.
" maaf sorry..." Revan terbata.
" kamu ngapain sih liatin aku segitunya..." Rani tersipu malu.
" kamu kelas berapa..." tanya Revan random asal bicara.
" sebelas... " jawab Rani.
" oh yah sama dong..." Revan kaget.
" em... Kamu beneran lupa Sama aku " tanya Rani yang membuat Revan bingung.
" maksud nya..." Revan bingung.
" coba dah lu ingat lagi nama gua...!" perintah Rani.
Revan berusaha keras untuk mengingat nama tersebut. namun otak Revan yang lemot membuat Rani membantu mengingat kan kembali.
" aku yang kamu bela sampai berkelahi sama anak anak cowok di kampung ini waktu kita masih kecil..." jelas Rani.
flashback...
Rani menjelaskan kepada Revan yang masih lupa dengan hal tersebut. waktu Revan masih duduk di bangku SD ia sering sekali ikut keluarga Ferro untuk pulang kampung.
sehingga Kakek dan Nenek Ferro yang sudah sering bertemu dengan Revan pun menyukai Revan dan menganggap sebagai cucunya juga.
Pada saat duduk di bangku kelas enam SD libur kenaikan kelas pun tiba Revan dan keluarga Ferro kembali liburan di kampung halaman.
di lapangan bola yang tak jauh dari air terjun tampak anak cewek dibully karena berbadan kurus dan dekil anak cewek itu menangis menjadi jadi.
pada sore itu Revan dan Ferro pulang dari ladang setelah menyusul Nenek dan Kakek nya di ladang.
mereka berdua disuruh Nenek pulang duluan karena hari sudah sore.
Revan mengajak Ferro untuk membasuh kaki terlebih dahulu di air terjun sebelum pulang ke rumah.
Ferro menolak karena ia merasa sangat lelah dan ingin cepat cepat sampai di rumah walaupun dengan kaki yang dekil dan wajah yang comel karena tanah Ferro berlarian untuk pulang.
Revan memilih membasuh tangan dan kaki nya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Revan mendengar suara tangisan anak cewek dan suara beberapa anak cowok yang tertawa.
" Rani jelek...!"
" Rani jelek kurus kayak bangau...!"
" ha ha ha jelek jelek..."
Revan menghampiri Suara tersebut dan melihat empat orang anak cowok mem bully seorang anak cewek yang tampak seumuran dengan nya.
" kalian ngapain... pergi gak..." bentak Revan yang menghampiri mereka.
" kamu siapa, mau jadi jagoan..." tanya salah satu dari mereka.
Tampa basa basi salah satu anak tersebut menyerang Revan dengan pukulan dan di susul anak anak yang lain.
Mereka berkelahi dengan seru walaupun terkena beberapa pukulan di wajah dan membuat memar di bagian bibir Revan berhasil mengalahkan anak anak bandel itu.
setelah Anak anak itu pergi Revan menghampiri gadis kecil itu dan mengulurkan tangannya.
" hai nama aku Revan... nama kamu siapa...?" Revan tersenyum.
"Rani..." sambil berdiri Rani mengucek mata nya.
" udah jangan menangis lagi... kan ada aku..." Hibur Revan dengan bangga.
Rani mengangguk lalu Revan mengajaknya membasuh diri di air terjun setelah itu pulang bersama dan mereka berpisah.
saat Revan pulang ke rumah Nenek Lili menayangkan memar di bibirnya Revan beralasan bahwa ia terpeleset dan jatuh menabrak batu.
kembali massa sekarang...
Revan tertawa terbahak bahak mengingat dan mendengar cerita penjelasan dari Rani. Revan baru ingat dan tak berhenti tertawa.
" wah sumpah gue gak nyangka jadi itu elo... beda banget sama Lo yang sekarang kok jadi cantik..." ucap Revan jujur santai.
Rani mendengar pujian cantik dari Revan jadi tersipu malu dan membuang muka sambil menahan senyum.
obrolan mereka terus berlanjut serta candaan Revan yang membuat Rani terus menerus tersenyum dan berusaha menahan tawa.