
malam di puncak suasananya sangat lah sejuk, mereka masih menikmati makanan malam nya.
" sumpah ini nasi goreng enak loh" Kriss yang begitu bersahabat dengan rasa senang nya memuji masakan tersebut walaupun ia belum tau siapa yang memasak.
" iya beneran enak, menurut lu Dev?" Mega ikut memuji lalu menayangkan ke pada Deva.
" iya enak" Deva mengangguk.
" ini siapa yang masak sih... enak banget?" Mega penasaran.
Kelompok Revan terdiam saling pandang memang nasi goreng yang mereka bawa sangat lah enak bahkan layak untuk ikut kontes memasak.
" yah enak lah kami langsung bawa koki kami loh" Vian memecah keheningan.
" emang siapa yang masak?" Kriss juga penasaran." siapa sih Ra?" lanjut Kriss lagi menanyakan langsung kepada Ara.
" ini Revan yang masak" Ara menyunggingkan bibirnya ke arah Revan sedangkan yang di tunjuk pura pura sibuk makan.
" seriusan...! wow calon suami idaman ya gak Deva" puji Kriss lalu menyenggol lengan Deva.
" eh.. iya" Deva mengangguk malu.
Semua tertawa saat melihat tingkah Deva yang malu malu sedangkan Revan memasang muka polos seolah olah tidak merasa bangga.
Mendengar ucapan Kriss tentang suami idaman membuat Ferro menunduk cemburu, entah kenapa saat mendengar kata-kata tersebut membuat Ferro merasa ada hal yang mengganjal.
" eh tengah malam menyambut Tahun baru kalian mau buat acara apa" tanya Mega.
" paling mau bikin api unggun, sama BBQ aja sih" jawab Vian.
" wah seru tuh..." Nomi bersemangat.
" Kalian boleh gabung kok" ucap Ara dengan antusias.
" seriusan...!" Kriss menyakinkan.
" iya... " Ara mengangguk pasti.
Mereka ngobrol panjang lebar tentang Rencana menyambut malam Tahun baru, Ferro sedari saat di tanya Hanya menjawab sekedar nya saja dan lebih banyak diam.
Entah apa yang membuat nya kini seperti tak bersemangat berbeda jauh saat mere mulai berangkat camping.
Acara makan malam nya kini telah usai Revan dan kelompok nya kembali ke tenda mereka, istirahat sejenak sebelum mereka kumpul kembali setengah 12 guna menyiapkan api unggun dan BBQ.
" Ferro..." Ara menggoyangkan punggung Ferro yang sedari tadi hanya rebahan dengan telungkup menutup wajahnya menggunakan bantal menyembunyikan tubuh nya di dalam selimutnya yang begitu tebal.
" em... kenapa sih" Jawab Ferro lirih.
" sini dong temani aku ngobrol" Ara Terus menarik tubuh Ferro pelan.
" gua cape banget Ra" Ferro tetap gak mau bangun ia lebih suka merenungi semua hal di pikiran nya.
" ih Ferro gak seru..." Ara menyerah lalu duduk di sebelah Vian yang duduk di depan pintu tenda.
Dengan wajah cemberut Ara menatap ke arah luar tenda, Vian yang memperlihatkan wajah Ara yang lemes sedikit tersenyum.
" kenapa?" Vian tersenyum.
" gak gak papa..." Ara sedikit manyun.
" eh gua sebenarnya pengen ngomong sesuatu deh sama kamu" ucap Vian lalu duduk menghadap ke arah Ara sedikit berbisik.
" ada apa?" Ara mendekat kan wajah nya lalu berhadapan dengan mata saling menatap.
" em..." Vian menatap mata indah milik Ara kini pandangan wajah mereka saling berdekatan hingga napas yang begitu terasa karena jarak yang begitu dekat." sebenarnya gua suk-"
Vian dan Ara kaget dan langsung mengubah posisi saling menjauh, dengan degup jantung berdebar. Vian yang terkejut tak sempat mengucapkan kata terakhirnya.
" Revan ngapain sih nongol tiba-tiba kayak hantu aja bikin kaget" Vian sedikit gugup.
" kalian berdua lagi ngapain sih bisik bisik segala" Revan kepo.
" gak... gak... kami berdua gak ngapa-ngapain" Vian beralasan.
" Vian ngomongin apa sih?" Revan lalu berjongkok di samping Ara.
" gak tau lu aja, datang datang ngagetin" Ara juga tadi terkejut.
" ok sorry sorry... kalem lanjuti ngobrol nya, tapi suaranya sedikit gede ya sapa tau nanti gua bisa bantu..." Revan tersenyum mengangguk sok ganteng lalu terbaring di sebelah Ferro.
" eh em... tadi mau ngomong apa?"ucap Ara.
" gak, gak jadi deh" nyali Vian lalu menciut.
" kirain..." Ara mengangkat bahu, kembali duduk dengan kaki lutut menopang dagu serta pandangan kosong lurus ke depan luar tenda.
Sedangkan Revan sibuk menjahili Ferro yang terbaring membisu, beberapa kali Revan menjahilinya pun Ferro tetap malas meladeni Revan.
Revan yang kelelahan menjahili Ferro pun lalu tertidur pulas di samping Ferro.
waktu terus berjalan Suara ledakan mercon pun bergema dari Arah perkotaan walaupun pedahal Waktu belum menunjukkan pukul 12 malam.
Dari arah tenda tenda yang cukup jauh dari mereka, terdengar suara tawa para remaja yang camping juga menghabiskan malam Tahun baru di puncak.
Suasana di tenda kelompok Kriss tidak jauh berbeda dengan tenda kelompok Revan, sama sama sepi karena sedang mager pengen Rebahan di dalam tenda.
" Nomi Menurut Lo, gantung mana Pito anak terkeren di SMA kita atau Revan cowok di tenda sebelah" ucap Mega.
" jelas ganteng Pito lah" ucap Nomi Tampa basa basi.
" iya juga sih... tapi kok masih ada yah cewek yang nolak cinta nya Pito" Mega tersenyum senyum sengaja melihat reaksi seseorang.
"seriusan wah... salut sih gua sama tuh cewek, Pito kurang apa coba kaya iya, ganteng iya, cowok terpopuler lagi di sekolah" puji Nomi yang tidak tau siapa yang di singgung.
"nah gua juga bingung sih, sama itu orang " Mega mengangguk angguk.
" em.." Deva terbangun dari tempat tidur nya.
" Lo kenapa Dev, sakit" Nomi menoleh ke arah Deva.
" gak kok, gak papa" Deva lalu duduk di depan tenda, duduk di antara Mega dan Nomi." sebenarnya gua memang gak suka sama Pito" ucap Deva pelan sedikit menunduk.
" maksud Lo" Nomi yang baru sadar siapa yang di bicarakan sedikit terkejut.
" iya gua pernah menolak ajakan Pito, ia mengajak gua untuk pacaran " Deva masih menunduk.
" Terus alasan Lo, nolak dia apa sih Dev" Mega yang sudah tau hal itu, tetapi ia belum tau alasan Deva menolak Pito.
" gua juga gak tau, tapi ada sesuatu yang bikin gua gak mau sama dia" Deva bingung.
" kenapa Lo gak cerita ke kami semua sahabat Lo, gua dapet informasi ini dari anak anak satu tongkrongan Pito" Mega jujur dan alasan Ia mengungkit masalah ini karena ia pengen tau apa alasan sebenarnya.
" gua gak enak aja, kan aku juga gak terima cinta nya Pito... maaf soal ini" Deva lalu Semakin menunduk.
" ok kami terima maaf kamu, tapi ingat jika punya masalah harus selalu cerita ke kami, kan kita semua sahabat" Mega tersenyum menghibur Deva lalu mereka bertiga pun berpelukan.
Waktu pun terus bergulir kini jam menunjukkan pukul 23:00 malam, masih ada sekitar 1 jam lagi Kriss sibuk bolak balik ke tenda Revan ia membahas apa apa saja yang di persiapkan untuk menyambut malam Tahun baru bersama kelopak Revan.