Friendzone

Friendzone
Episode 44. Vian sang pahlawan.



Revan dan Ferro turun kebawah menuju meja makan, disitu sudah tampak Yonathan menunggu di sana dengan Hanna yang tengah menata piring.


" Ferro sini duduk sayang, kita makan dulu..." ucap Hanna sambil mempersilahkan Ferro duduk.


" makasih Tante..." Ferro tersenyum menunduk lalu duduk makan bersama.


" oh ya gimana liburan nya...?" Yonathan melihat ke arah kedua Remaja tersebut.


" Menyenangkan kan kok Om...!" Ferro tersenyum lalu menoleh ke arah Revan.


" ham..." Revan mengangguk lalu lanjut menyuapkan nasi ke mulut nya.


" Maaf ya Tante sama om gak sempet ikut... Om kamu ini sibuk kerja..." Hanna sedikit sedih.


" iya Tan..." jawab Ferro.


" gimana kabar Nenek dan Kakek...?" ucap Yonathan.


" Kabar mereka baik om... dapat salam dari Mereka..." Ucap Ferro tersenyum.


" ok tolong sampaikan salam balik dari kami..." Yonathan tertawa.


Obrolan mereka terus berlanjut sekali kali Yonathan tertawa saat mendengar cerita dari Ferro.


Suasana makan malam kini terasa ramai dengan kehadiran Ferro, bagi Hanna dan Yonathan Ferro sudah di anggap keluarga sendiri.


***


Di sebuah tempat karoke Ara menghadiri sebuah acara ulang tahun teman SMP nya. suasana begitu Ramai dengan lampu disko terpancar diruang tersebut.


Ada beberapa anak sekolah lain yang tidak dikenali Ara sedangkan sebagain lagi masih dikenali sebab yang hadir kebanyakan alumni sekelas dengan nya waktu SMP.


" Sinta selamat ulang tahun..." Ara memberikan selamat dan menyerahkan sebuah kado.


" Ara terima kasih..." Sinta senang.


" selamat ulang tahun yah Sinta" ucap teman teman yang lain.


Dari jarak beberapa anak laki laki bergosip mereka membicarakan Ara yang begitu tampak imut dan manis.


" lihat wah... lucu banget..." ucap salah satu dari antara mereka.


" gimana kita taruhan siapa yang dapat mengencaninya malam ini, dapat traktiran satu bulan penuh..." ucap lagi salah satu dari mereka.


Tawaran yang cukup menggiurkan hingga tampak tingga orang cowok berdiri bergantian merayu Ara.


Suara karaoke yang begitu berisik dan lampu disko yang sedikit membuat pusing Ara memilih untuk pamit untuk keluar sebentar.


" hai cantik kenalan dong..." pria kurus tinggi mendekat menjulurkan tangan nya.


" lu apaan sih kan giliran gue..." Cowok rambut pirang sedikit gondrong menarik lengan Ara.


" ahh.. sakit, lepasin.." Ara memberontak.


" " ikut gua aja..." salah satu dari ketiga di antara mereka tak ingin kalah.


" lepasin kalian bertiga ngapain sih ganggu aku..." Ara cemas.


" woi... lepasin cewek itu...!"


Teriak seseorang dari arah belakang yang begitu lantang membuat ketiga cowok tersebut berhenti dan menoleh ke arah belakang.


" apa Lo..." ucap salah satu dari mereka.


" Vian..." Ucap Ara lirih.


" Gua bilang lepasin..." Vian mendekat.


" emang Lo siapa hah..." mereka bertiga pun ikut mendekat siap menantang.


" dia... dia... pacar gua..." Vian gugup lalu membusung kan dada nya.


" terus...!" ketiga cowok tersebut hendak menyerang Vian.


" woi..." teriak seseorang lagi dan diikuti beberapa anak laki laki.


ketiga anak cowok tadi pun berhenti dan melihat seseorang dengan diikuti beberapa anak laki laki dibelakang nya pun kini tertunduk takut.


" Vian ada apa..." Leo menepuk bahu Vian.


" heh kalian..." Leo menunjuk mereka bertiga.


" maaf... maaf... kami gak ada maksud....


ini salah paham ok... kami salah" mereka menunduk ketakutan karena mereka sangat mengenal Leo yang kebetulan satu sekolah sama mereka bertiga.


setelah di beri kode untuk pergi mereka pun tidak berani melawan lulu pergi ketakutan.


" kamu gak papa..." tanya Vian.


" em... makasih Vian.." Ara malu.


" ok... sekarang gue anterin Lo pulang..." Vian menarik tangan Ara Setelah pamit dengan Leo mereka pun pulang.


Ara menahan senyum melihat Vian yang kelihatan suka konyol dan bikin masalah kini kelihatan lebih cool dan gentleman.


" kenapa ?" Vian yang sedari tadi memperhatikan Ara agak terheran.


" hah... gak gak papa..." Ara membuang muka menghadap ke arah lain dengan pipi sedikit memerah karena malu.


" kok kamu bisa sih, ketemu orang yang seperti itu?" Vian penasaran.


Ara menceritakan kejadian yang ia alami, soal tentang ulang tahun dan ketiga orang yang mengikutinya tadi.


Vian mengangguk dan sedikit kesal entah apa yang membuat nya begitu kesal saat mendengar ada pria yang berani mengangguk nya secara tidak sopan.


mobil kini berhenti di sebuah Rumah yang cukup mewah Ara keluar dari mobil diikuti Vian.


" terima kasih ya Vian... kalau GK ada kamu gua gak tau lagi mau gimana..." ucap Ara menunduk.


" ha.. udah jangan di pikirin, em... gua pamit dulu ok bay..." Vian tersenyum lalu masuk kembali ke dalam mobil.


Ara melambaikan tangan nya saat mobil Vian mulai bergerak meninggalkan Ara yang berdiri di depan rumah.


Ara terbaring di kasur nya ia senyum senyum sendiri saat mengingat perkataan Vian menyebut bahwa ia adalah pacarnya.


" em..." Ara berguling-guling menutup wajahnya menggunakan bantal guling ia ******* ***** bantal guling saking gemesnya.


***


Setelah Makan malam selesai kini Ferro ijin pamit pulang karena takut papa dan mama mencari nya.


Revan mengantar Ferro pulang hingga di depan pagar mereka berpisah.


Revan kembali ke rumah Nya begitu pun dengan Ferro. libur sekolah masih panjang sebentar lagi akan Tahun baru.


Cuaca yang berubah ubah tak menentu, sebuah pesan WhatsApp masuk kedalam ponsel Revan.


* *pesan WhatsApp *


Vian; gua ada rencana tahun baru... Lo harus ikut.


Revan; gak males...


Vian; gua sudah ajak Ara dan seperti nya Ara akan bawa Ferro kalau lu gak mau Ferro mungkin ajak cowok lain biar double date.


Revan; et'ss gua belum bilang gua gak ikut, gua cuma bilang males... gua putuskan untuk ikut.


Vian; kalau males jangan masa diri...


Revan; gua gak diajak mari putuskan persahabatan....


Vian; gak seru baperan... ok jangan kasi tau yang lain ingat tujuan kita...


Revan; atur aja*....


Revan membuang hp nya di atas kasur lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lalu tertidur.


Ferro menerima pesanan dari Ara untuk ikut camping dan hanya beranggotakan empat orang gak lebih.


Awalnya Ferro menolak karena terus di desak dan di paksa akhirnya ia menyetujui untuk ikut dengan Ara.


Tahun baru tinggal dua hari lagi kini sudah tgl 29 Desember, Vian memesan lokasi camping yang di mana lokasi camping nya harus di boking dari jauh hari agar bisa mendapatkan lokasi.


karena banyak remaja juga ingin menghabisi malam tahun baru dari atas bukit.


Vian yang di temani Revan mengecek nomor lokasi camping milik mereka. kini setelah memasang patok mereka kembali ke rumah dan menyiapkan peralatan serta perlengkapan camping.