Friendzone

Friendzone
Episode 56. Gadis misterius



Jam pulang telah tiba siswa siswi berhamburan untuk keluar kelas, entah apa yang membuat mereka keluar kelas seperti sedang terjadi gempa.


"Fer... pulang sekolah mau kemana dulu" ujar Ara yang berjalan di sisi Ferro.


"palingan gua langsung pulang.." Ferro sedikit menoleh ke belakang lalu cepat pandangan nya lurus ke depan.


Revan dan Vian hanya berjalan bersisian mengikuti langkah para cewek cewek di depan.


"yah... gak nyantai dulu shopping atau ngopi cantik..." ujar Ara.


"emm..." Ferro sedikit Ragu" gua-"


"Ferro.!!"


Terdengar suara dari arah belakang yang tampak sangat familiar.


"Rio..." Ferro menoleh.


"hei...! gimana jadi kan pulang bareng..." ucap Rio setelah menjajarkan posisi langkah Nya dengan Ferro.


"ja..di.. kok!" Ferro mengangguk kaku.


Entah ada apa dengan perasaan nya saat ini Ferro semakin bingung, sebelum ia jadian dengan Rio ia sangat mengidolakan nya, tetapi setelah jadian ia mereka ada yang janggal dan rasa tak nyaman.


"Jalan dulu yuk..!!" Rio memberi saran.


"gak ada... Ferro harus segera kembali ke rumah!!" suara menyahut dari belakang.


"Rev... gua ini pacar nya Ferro sekarang, sarah gua dong mau ajak pacar gua kemana, ada masalah?" Rio yang tak terima sekaligus kesempatan memprovokasi Revan lantaran selalu dekat dengan Ferro.


Tatapan tajam Rio membalikkan badan nya menghadap Revan yang sedikit Rendah dari nya, Hanya sebatas hidung Rio.


"oh ok Lo pacar nya... tapi gua yang dipercaya untuk menjaga Ferro dan jika sampai terjadi sesuatu pada nya orang pertama yang bertanggung jawab sama bokap dan nyokap nya adalah gua" ucap Revan dengan nada penuh penekanan dan menunjukkan jari telunjuk ke arah dada Rio.


"wow... gua bangga sama Lo" Rio bertepuk tangan" dan gua ucapin terima kasih atas pengorbanan Lo, tapi sekarang Udah ada gua jadi Lo silahkan bebas!!" ucap Rio Santai.


"Rio!!!" Ferro protes.


"kenapa sayang... gua hanya ingin dia jangan terlalu dekat dekat sama Lo aja" ucap Rio Tampa rasa bersalah.


" tapi-"


"Lo.!!"


"Revan...!!!" Vian dengan sigap merangkul Revan yang hendak memukul Rio.


"lepasin gua Ian..!!!" Revan memberontak.


" kenapa!! sini pukul gua pukul ayok...." Rio terus memprovokasi Revan.


" Revan... Rio.. Kalian berdua udah dong berhenti..." Teriak Ferro berusaha meleraikan.


"Revan..." teriak Ara.


" Rio ikut gua..." Ferro menarik tangan Rio untuk menjauh dari Revan.


Revan yang melihat hal itu semakin terbakar api cemburu, dengan kuat ia melepaskan rangkulan Vian lalu mengayunkan tangan nya memukul angin, serta ingin berteriak kesal.


Setelah di mobil Ferro langsung memerintahkan Rio segera jalan, mobil berderu berjalan meninggalkan area sekolah.


"Rio... kamu kenapa sih, tiba tiba jadi aneh begini?" Ferro memijit kepalanya yang sedikit pusing melihat tingkah kedua cowok tersebut.


" gua hanya gak suka aja, kita berdua yang pacaran Kenapa tiba-tiba dia yang ngatur sih!" Rio berusaha menjelaskan ke Ferro.


" tapi Rio... Revan dan gua kan udah lama bersahabat jadi Menurut gua wajar dong ia melarang..."


" jadi kamu lebih memilih dia... iya!!" Rio melirik ke arah Ferro.


" bukan-"


" Terus!!"


" gua gak mau hanya masalah sepele membuat kalian berdua berantem..!" Ferro berusaha tidak memihak.


"tapi wajar dong gua begini karena gua sayang sama Lo, gua gak mau ada cowok lain di hati Lo!!" jelas Rio.


"iya gua tau, udah cukup, jangan dibahas lagi" Ferro memijit pijit kening nya yang terasa semakin pusing.


Mobil berhenti di depan rumah Ferro, Ferro langsung keluar Tampa menunggu Rio membukakan pintu.


" Ferro.. aku minta maaf!" Rio dengan cepat keluar menahan tangan Ferro." plis maafin aku, ok aku akui aku yang salah... ok! gua janji gak akan mengulang lagi" Rio melipat kan tangan nya memohon.


"ok...!! masalah ini gua yang salah, tapi kamu harus maafin aku ok!" Rio berusaha membujuk Ferro.


"pliss!!!"


Rio memohon dengan tangan di dada, Ferro yang memiliki perasaan dengan Rio pun akhirnya sedikit luluh.


setelah memaafkan Rio ia langsung masuk ke rumah, melemparkan tas ke atas kasur lalu merebahkan dirinya.


Rasa pusing dan cuaca yang panas serta badan yang sangat lelah membuat nya tergeletak di atas kasur ingin Rebahan dan tidak mau di ganggu.


****


" Rev... cukup Rev!!! Revan...!!"Vian merampas kaleng bir yang tengah di tengguk Revan.


" lu apa apaan sih Vian..." Revan melotot ke arah Vian.


"sadar Van... kenapa sih belakangan ini sifat Lo tuh suka berubah ubah.. kemarin Lo sampe mabukan. gua tau lu bandel tapi gak pernah gua ketemu Lo separah ini" Vian yang sudah tak tahan lagi ingin mencari akar permasalahan sahabat nya tersebut yang kini tempramen.


"semua orang bisa berubah bro!" ucap Revan dengan lirih.


Revan mengambil Bir di atas meja dan meneguknya hingga habis, kepalanya terasa berat dan ia mulai mabuk.


Melupakan semua hal yang membuat nya patah hati teramat sangat, walaupun efek nya sementara akan tetapi Revan menikmati nya.


Vian berusaha membujuk agar Revan berhenti dan berusaha membawanya untuk pulang, tetapi Revan bersikukuh untuk tetap minum.


" mau kemana Van!!" Teriak Vian saat Revan bangun membuka pintu Ruangan karaoke lalu keluar dengan tertatih


" pulang lah masa nginap..." ucap Revan Tampa menunggu tampa menghiraukan Vian.


"Aah...!!!" Vian bangun meraih tas milik Revan lalu menyusul ke luar.


Mereka keluar dari tempat karaoke Revan berjalan menuju sebuah minimarket, perut nya kini tersa lapar karena belum makan.


" ngapain?" Vian mengikuti Revan dari belakang.


" karaoke!!! ya belanja lh lu liat kan ini minimarket!" Revan masuk dengan sedikit gontai efek minum terlalu banyak kini ia setengah sadar.


" Van mending lo tunggu Duduk di luar, biar gua yang masuk" Vian menahan tangan Revan ia hawatir takut akan ada masalah lantaran Revan sedang mabuk.


" lama ah bacot!!" Revan menepis tangan Vian lalu masuk.


Vian geram kesal sendiri lalu mau tak mau ikut Revan masuk ke dalam.


" cari apaan sih?"


" makan lah..." Revan mengambil beberapa roti dan susu.


" tumben laper bos..!" Vian tersenyum.


"bacot!!"


"eh sini aja, biar gua yang bayarin Sono keluar aja dulu tunggin gua" Vian dengan sigap mengambilnya lalu pergi ke kasir.


Revan menurut tetapi pandangan nya kini mulai tak karuan kepalanya terasah berat saat keluar toko ia menabrak seseorang.


"Aah!! sorry!! kepala gua sakit banget!" ucap Revan lirih.


"kamu gak papa?"ucap seorang gadis.


"gua-" samar samar Revan seperti mengenal gadis tersebut lalu pingsan.


Dengan cepat gadis tersebut memapah Revan sampai di mobil nya karena jarak mobil nya tak terlalu jauh.


Mobil dengan cepat meninggalkan Area parkiran, Vian keluar dengan sekantong belanjaan kepalanya menoleh kesana kesini mencari Revan.


"Kemana tuh anak, ngilang aja" Vian meraih hp di dalam saku celananya menghubungi nomor Revan berdering tetapi tak di angkat nya.


Beberapa kali Vian melakukan panggilan Via watshApp tetapi tak ada respon.


Vian; bre Lo dimana sih!?


Gadis yang membawa Revan pergi tadi kini akhirnya membuka hp Milik Revan di sakuku baju nya lantaran dari tadi berbunyi.


kebetulan handphone Revan tak bersandi sebuah pesan WhatsApp dari Vian, gadis tersebut dengan inisiatif membalas pesan nya walaupun sedikit ragu dan memikirkan alasan nya lalu ia pun mulai mengetik.


Revan; gua udah pulang 🙏


Gadis tersebut lalu mematikan handphone nya kembali melanjutkan perjalanan, Vian yang melihat balasan pesan tersebut menggeleng kepala lalu memutuskan untuk pulang.