Friendzone

Friendzone
Episode 41. Sisi imut Revan



Malam berangsur pergi suara ayam jantan berkokok bersautan merupakan ciri khas dari perdesaan di waktu pagi hari.


Pukul menunjuk jam 05:20 pagi, Ferro perlahan membukakan matanya ia dengan tertatih berusaha duduk lalu bersandar.


Ia memandang satu persatu teman teman nya, yang masih tertidur dengan pulas. ia pun Bangkit dari tempat tidur nya merenggangkan otot serta beberapa bagian tubuh nya.


Mempererat jaket pemberian Revan lalu keluar kamar, di ruangan tamu yang terang karena lampu, penampakan para remaja cowok yang kelihatan seperti sedang terkapar tertidur pulas.


Ferro tersenyum dikala ia memperhatikan wajah Revan sedang tertidur, entah kenapa wajah Revan sedang tertidur sangat lah lucu hingga mengundang senyuman Ferro di pagi hari.


" ih tidur model apaan sih bikin gua pengen ketawa aja" ujar Ferro tersenyum.


Ia mengeluarkan handphone nya dan membuka kamera membidik fokus pada wajah Revan lalu memotret beberapa kali.


terpaku memandang wajah Revan hingga lupa dengan keberadaan Rio yang begitu di sanjung nya.


Ia bangkit beranjak berjalan menuju dapur untuk membasuh wajah mengambil segelas air lalu meneguk nya.


" hai mah... Nenek... " Ferro menghampiri mama nya dan Neneknya yang sedang memasak.


" cucuk Nenek udah bangun... nah gini anak gadis harus bangun pagi..." ujar Nenek Taro sambil mengiris bawang.


" iya Nek.." ujar Ferro.


" semalam kamu pergi kemana, dicariin tuh sama Rio..." tanya Lili.


" cuman cari angin segar aja kok di luar, tadi malam juga mereka udah ketemu kok..." Ferro terdiam sambil duduk dengan tangan nya menopang dagunya di atas meja makan.


Ferro senyum senyum sendiri saat mengingat kembali momen saat Revan memberikan jaket nya serta memeluknya.


" lagi mikirin apa, kok sampe senyum senyum sendiri..." Nenek yang tengah mengiris bawang memperhatikan cucu nya.


" enggak.,. enggak kok Nenek Ferro gak mikirin apa apa..." Ferro salah tingkah.


" malu malu kayak dipikir nya Nenek mu ini gak pernah muda..." Nenek mulai menggoda cucunya.


" Nenek..." Ferro gemes.


Nenek dan Mama nya tertawa dikala melihat Ferro tersipu malu, kebagian seperti ini sangat akan dirindukan saat pulang kampung.


Tak terasa waktu begitu cepat berjalan, kini sang matahari mulai menampakan diri di ufuk timur dengan begitu cerah nya.


walaupun ada beberapa awan hitam di beberapa area, begitu lah cuaca yang seperti nya susah di tebak.


Kadang panas tapi tiba-tiba mendung dan hujan deras memasuki bulan Desember memang sering terjadi hujan. walaupun beberapa hari ini belum Turun hujan yang deras hanya gerimis.


satu persatu dari mereka mulai bangun. Revan dan Vian merupakan anak yang paling susah untuk bangun pagi hingga mereka berdua menjadi bahan tawaan.


Mereka semua menertawakan Revan dan Vian karena posisi Vian memeluk tubuh Revan seperti sepasang kekasih.


" Romantis banget nih pasangan suami dan suami..." ucap Gilang lalu membukakan kamera handphone lalu berpose dengan Edo beserta Revan dan Vian yang masih tampak tertidur pulas.


" lagi lagi gua ikut..." ujar Ara.


Ara ikut berpose di depan kamera tingkah konyol mereka memancing kegaduhan.


" ada apaan sih..." Ferro dari dapur bingung melihat mereka tampak tersenyum dan tertawa.


Ferro menoleh kearah Revan yang tidur membelakangi Vian, sedang kan Vian berada di belakang memeluk Revan yang tampak mereka berdua terlihat seperti pasangan suami isteri


Revan terganggu dengan suara berisik yang menggangu tidur nya dengan berat membukakan matanya.


Tampak samar samar ia melihat semua orang tersenyum bahkan ada yang berusaha menahan tawa memandangi dirinya.


" apaan sih... ribut gua masih ngantuk..." tanya Revan lirih.


Merasa ada memeluk nya Sontak Revan menoleh ke arah belakang dan melihat wajah Vian yang masih dengan santai nya tertidur pulas gak sadar seperti orang mati.


" Aaa.... ! ngapain Lo gua telah ternodai, bangun bangun.... Vian bangun monyong..." Revan berusaha membangun kan Vian sampai memencet hidung nya.


" apaan sih... lepasin gak bisa napas tau..." Vian terbangun dengan wajah polosnya dan seperti orang linglung.


sontak mereka yang berada di situ tak mampu lagi menahan tawa nya hingga suara rami terjadi di situ.


Vian yang gak mengerti apa apa melongo saja dan kaget pada saat Gilang menunjukkan Foto nya.


" Aaa... gua udah gak suci lagi..." Vian teriak.


" Gua yang korban anjir..." protes Revan.


Suara tawa Semakin pecah saat melihat kedua bocah saling debat siapa yang jadi korban.


perdebatan mereka terhenti ketika Lili mengajak mereka untuk segera membasuh diri lalu pergi sarapan bersama sama.


Mereka kumpul untuk sarapan bersama duduk melantai dan melingkar tampak seperti sebuah keluarga besar.


Kakek dan Nenek sangat bahagia dengan momen ini karena biasanya mereka hanya sarapan berdua.


" hari ini kita akan bantu Kakek dan Nenek di kebun yah memetik cabai ok..." usul Lili.


" ok Tan.."


" ok..."


" baik Tante..."


Mereka semua setuju lagian pula mereka belum ada Rencana mau pergi kemana jadi ikut memanen cabai adalah acara terbaik mengisi waktu luang.


Suasana sarapan pagi begitu menyenangkan karena banyak tingkah lucu dan obrolan yang seperti tak ada habisnya membuat sarapan pagi terasa lebih lama.


sebelum berangkat ke kebun mereka terlebih dahulu mandi dan berganti pakaian agar kelihatan lebih fresh.


saat berangkat menuju kebun tampak sudah banyak para warga sekitar melakukan kegiatan Rutinitas nya sebagai petani di desa.


Udara pagi yang begitu segar membuat mereka semakin betah untuk berlama-lama disini.


" jaket kamu udah aku cuci dan sudah dijemur juga nanti sore pasti sudah kering, jadi bisa kamu pakai lagi..." Ferro membuka obrolan sambil berjalan bersisian dengan Revan.


" Ok terima kasih... oh yah nanti sore gua mau ajak Lo jalan tapi cuma berdua mau..." Revan dengan ragu.


" ok cuman jalan jalan doang kan..." Ferro Tersenyum sambil malu malu.


Revan tersenyum bahagia karena kali ini ia merasa keinginan nya diterima begitu saja tanpa harus ada syarat.


biasanya Ferro mau di ajak jalan jika di traktir makan kesukaannya.


disepanjang perjalanan mereka terus mengobrol dan sekali kali tertawa terbahak Ferro selalu mencubit Revan jika mereka sedang bercanda.


beberapa pasangan mata yang melihat itu tampak tidak senang dan merasa cemburu melihat kedekatan mereka.


Dea berjalan beriringan dengan Ara dan Tasya ia tampak kurang semangat karena dari kemarin ia belum ada kesempatan untuk berduaan dengan Revan.


Rani berjalan di belakang Dea, Ara dan Tasya mata nya selalu tertuju ke Ara Revan dan Ferro di depan. ia seperti nya cemburu tetapi Rani merupakan tipe gadis yang tidak banyak bicara dengan orang lain.


Rio dan Aslan berjalan paling belakang mereka berdua sama sama orang yang gak suka bicara atau pun bertingkah aneh tampang yang selalu cool dan bersikap selalu keren di depan orang.


perjalanan mereka sudah cukup jauh dan akhirnya mereka sampai di kebun cabai milik Kakek dan Nenek.


Mereka tampak takjub melihat hamparan tanaman cabai dengan buah yang begitu banyak berbaur warna merah dan hijau.