Friendzone

Friendzone
Episode 50. Empat sekawan anak rantau



Satu persatu dari antara mereka mulai bangun dan keluar Tenda, sedangkan kan Revan masih dengan setia terbaring di samping Ferro lantaran Ferro yang awalnya pura pura tertidur kini jadi benar-benar tertidur pulas dengan posisi masih memeluk tubuh Revan yang hangat.


" udah jangan di pandang terus, antar naksir lagi sama sahabat sendiri" bisik Vian dengan senyum jahilnya lalu bangun membereskan tempat tidur nya.


" diam lu" dengan mata melotot.


" ha ha ha.." Vian meledek lalu keluar tenda sekedar menghirup udara segar.


Ara yang masih tertidur pulas pun menggulung tubuh nya menggunakan selimut persis seperti ulat yang menjadi kepompong.


" em..." Ferro merintih lalu dengan perlahan membukakan matanya." ih kenapa liat liat, gak pernah liat gue yah!" Ferro dengan cepat menarik tangan yang masih melingkar di pinggang Revan.


Belum sempat menarik tangan nya, Tangan Revan dengan sigap menahannya lalu Revan mendekat kan wajah nya.


" enak aja main lepas lepas, kini giliran lu yang menghangatkan gua. gua kedinginan lu harus peluk gue sampai gua merasa panas" goda Revan.


Wajah Ferro mendadak memerah lalu dengan cepat ia menunduk" mata Lo, masih berani menatap gua, gua colok ni" ancam Ferro Lantaran ia jadi salah tingkah.


" gua mau liat lu colokin mata gue!" Revan menantang lalu semakin mendekat kan wajah nya, kini wajah mereka sangat dekat sehingga napas mereka sangat terasa.


" kau-" wajah Ferro semakin memerah ia tak bisa menjawab lalu pasrah dalam pelukan Revan.


Cukup lama berpelukan kini mereka sudah saling melepas dan terbangun, setelah merapikan tempat tidur nya, kini Revan dan Ferro keluar tenda untuk menghirup udara segar.


Ferro yang keluar hanya menggunakan baju tidur dengan celana pendek kini mengusap ngusap lengan nya lantaran hawa perbukitan di pagi hari sangat lah dingin.


" nih! kalau keluar itu pakai jaket" Revan memasangkan jaket pada Ferro lalu memeluknya.


" lepasin Revan..." Ferro merasa malu.


" Diam... aku hanya berusaha menghangatkan mu" Revan semakin mempererat pelukannya.


" Rev-" Ferro terdiam lalu pasrah sambil menatap ke arah depan dengan Revan masih memeluknya dari belakang.


Mereka berdua memandang hamparan perkotaan yang cukup luas diselimuti embun mendung di pagi hari, tampak mereka berdua seperti sepasang kekasih.


Jam menunjukkan pukul 08:24 menit rencana menelusuri jalan setelah yang mengitari bukit gagal lantaran resiko jalanan licin selepas hujan.


Kini diganti dengan mandi di bawah air terjun, kelompok Revan dan Kelompok Kriss berbondong-bondong menelusuri jalan setapak yang menuju air terjun.


" wow Dingin sekali" Ara merasa hawa embun yang tercipta dari hembusan air yang dihasilkan dari air terjun terbawa angin yang menghasilkan hembusan seperti embung.


Ferro Duduk di atas batu dengan jaket menutupi tubuh nya, ia terbebas dari pekerjaan lantaran masih sakit.


Ara mencuci pakaian Basah mereka tadi malam sedangkan Revan dan Vian bertugas mencuci perkakas masak yang kotor.


" kalian turun bukit jam berapa?" Revan menoleh ke arah Deva yang dekat dengan Nya.


" gak tau juga, mungkin sore hari" ucap Deva yang sedang mencuci pakaian.


" kalian pulang jam berapa?" kini Nomi yang bertanya, ia sendiri sedang membantu Deva mencuci pakaian.


" hm mungkin jam 12" Revan mengangguk angguk.


"em..." Deva masih sibuk dengan pekerjaan nya.


obrolan mereka sangat nyambung sekali kali Deva tersenyum di saat mendengar Revan bercerita.


Di atas batu Ferro diam diam melirik ke arah Revan dan Deva ada rasa sakit dihatinya, entah kenapa ia merasakan hal itu.


Mereka duduk melingkar serta posisi duduk masih tetap sama dikala mereka berkumpul malam tadi.


Deva yang duduk di samping Revan menunduk malu sambil tersenyum. ia masih terbayang dengan suasana tadi malam yang begitu berkesan baginya.


" Lo kenapa?" Revan melihat Deva yang sedari tadi menunduk tapi kadang kadang sedikit tersenyum.


" gak gak papa kok" Deva gugup.


Mereka semua sedang asyik menyantap makanan di hadapan mereka, sambil bercerita tentang sekolah.


" kami berempat satu kontrakan dan kami sekolah di SMA Tunas Bangsa di kota j" Kriss bercerita.


" kok kalian ngontrak? kenapa gak sekolah dari rumah langsung" Vian bingung.


" kami punya alasan tersendiri, dari alasan ini lh kenapa kami berempat bisa di persatu kan" Nomi merasa bangga.


" kalau pengen tau, alasan nya kenapa?" Ara penasaran.


Kriss dan teman teman saling menatap seakan kompromi dan memberi isyarat, lalu sedikit mengangguk.


" sebenarnya kami berempat dari kota yang berbeda beda gua dari kota T, Nomi dari kota B, Mega dari kota S, sedangkan Deva dari kota Y, kami merantau bersekolah di luar kota. alasan gue sih karena memang gua ingin mandiri dan ingin sukses belajar Tampa banyak minta bantuan orang tua" Kriss sedikit bangga dengan perjuangan nya lalu menoleh ke arah Nomi.


" kalau gua juga sama alasannya dengan Kriss juga ingin merantau, karena pengen hidup mandiri juga sih" Nomi juga bangga dengan perjuangan nya.


Mega sedikit murung sebelum menceritakan alasannya" alasan gua memilih sekolah jauh keluar kota, karena... gua,-" Mega sedikit menunduk seakan beret untuk mengucapkan.


Nomi dan yang lain sudah tau masalah Mega mengusap pundaknya memberikan semangat. Nomi mengangguk seakan memberi jawaban kepada Mega tidak apa apa.


" keluarga gua Broken home, gua sangat marah dengan mama gua, ia berselingkuh dengan pria yang lebih muda jika di bandingkan dengan gua iya hanya Tua dua tahun dari gua,-" Mega mulai menangis menunduk bersandar di bahu Nomi dengan tangan Nomi setia menepuk pelan menenangkan nya" hal ini membuat Papa gua emosi, dan ia juga membalas dengan menikahi wanita yang seru dengan gua. gua benci dengan para pelakor ini, mereka merampas semua hal yang terindah ku sebelum" Mega sedikit terisak menangis" sekarang gua masih tinggal bersama Papa gua, itu alasan gua sekolah di luar kota karena suasana rumah sudah tak seindah dulu" Mega menunduk setelah menyelesaikan cerita nya.


Keheningan sementara menghiasi makan pagi mereka, semua juga turut ikut sedih mendengar cerita kehidupan Mega yang begitu sedih dan mereka membayangkan jika posisi mereka berada di posisi nya Mega. mereka mungkin akan melakukan hal yang sama.


" sabar ya Mega, lu pasti kuat kok menghadapi semua ini apa lagi Lo Kun punya sahabat sahabat Lo ini. lu sekarang gak sendirian kok" Revan menenangkan Mega.


" makasih Rev" Mega mengangguk.


" alasan lu apa Dev, penasaran gue" Vian tanpa basa basi bertanya


" em gua kabur dari rumah, aku merasa terlalu di kekang oleh orang tua ku, sekarang semua ATM,debit dan semuanya sudah dibekukan Oleh Ayah ku, demi kelangsungan hidup agar tak kembali ke rumah aku kerja paruh waktu di sebuah cafe di kota j" Deva menceritakan secara singkat saja.


" wow kalian semua orang yang hebat, kuat" Ara kagum.


" tapi kenapa kalian liburan jauh sekali sampai di kota ini. di kota kelahiran kami ini pedahal kan jarak dari kota j ke sini sangat lah jauh" Ferro penasaran.


" ini lah healing, jalan jalan demi menyebutkan atau menenangkan pikiran walaupun jauh bermodalkan Nekat kami pasti bisa" ucap Kris semangat.


Acara makan pagi nya berjalan terlalu lama tetapi mereka semua menikmati nya. setelah selesai dengan makan Revan dan kelompok nya kembali ke tenda.


Vian dan yang lain sudah terlebih dahulu peluang ke tenda, sedang kan Revan ditahan sejak oleh Deva.


"Rev gua boleh minta kontak WA kamu gak?" Deva menunduk malu.


" ok nih" Revan membukakan WA nya lalu memberikan nya kepada Deva.


Setelah selesai Revan kembali ke tenda mengemasi barang-barang nya lalu membongkar Tenda.


Kriss dan teman teman memutuskan untuk membongkar tenda pada sore hari, mereka akan kembali kota mereka pada malam hari.