
Ditempat club' Revan minum sampai mabuk walaupun Leo dan kawan kawan sudah berusaha merebut botol bir di tangan nya, akan tetapi Revan terus melawan dan ingin terus minum.
Leo dan kawan kawan nya enggan memaksa Revan untuk terus berhenti takut nya Revan akan mengamuk lantaran orang mabuk akan sulit di tangani jika dilakukan dengan paksa.
" ambil kan minum lagi" Revan menyodorkan gelas nya dengan mata yang semakin sayup.
" Van Udah yok pulang..." Leo terus membujuk Revan agar berhenti.
" gak... gua gak mau pulang!"
" lu udah mabuk berat Van... gua gak tau harus ngomong apa sama nyokap bokap lu..." Leo cemas.
" kalau kalian mau pulang... pulang sama!!" Revan cegukan karena sudah terlalu banyak minum.
Leo dan kawan kawan saling tukar pandang bingung harus bagaimana lagi, Revan meracau gak jelas kadang ia menangis dan lalu tertawa sendiri.
Pintu ruangan karoke mereka diketuk tampak Vian dan Ferro sedang berada di luar.
Vian masuk lalu berbisik dengan Leo musik yang dari tadi gaduh sekarang sudah senyap, Setelah berbisik Leo pun pamit pergi bersama teman temannya.
Revan kini tertidur dan sekali kali bangun lalu tertidur lagi seperti seseorang yang Sedang menginggau.
" Rev..." panggil Ferro dengan pelan lalu duduk mendekat.
Revan Tampa ekspresi tetap diam dengan mata terpejam. Ferro sedikit mengoyakkan bahu Revan menyadarkan nya.
" gua panggil taxi ok..!" Vian keluar untuk memanggil taxi.
Ferro terus mengoyakkan bahu Revan untuk menyadarkan nya, Revan membukakan mata nya kini tampak Ferro sedang berada di hadapannya.
Mata yang sedang beradu dengan jarak yang sangat dekat, refleks Revan menautkan bibir nya ke arah bibir Ferro kini Revan dengan beringas mencium Ferro.
Ferro hendak melepaskan pelukan Revan namun apa daya tenaga Revan sangat lah kuat, Ferro ingin berteriak marah tetapi dengan bibir yang masih terpaut membuat nya gak bisa bicara.
Setelah sekian lama Ferro berhasil melepaskan ciuman nya, dengan napas yang tersengal tak beraturan.
" Revan.. ih.." Ferro mendorong tubuh Revan di sofa.
Tetapi Revan Tampa ekspresi kembali memejamkan matanya dengan Mulut yang komat kamit, pusing yang kuat membuat nya tak sanggup menahan matanya.
Ferro sangat geram tetapi ia bingung mau marah tetapi orang yang didepan nya diam seperti orang mati.
Pintu diketuk lalu terbuka Vian kembali dari luar" taxi nya Uda nunggu di depan" ujar Vian lalu membopong tubuh Revan.
Vian dan Ferro membopong disisi kiri dan kanan Revan dengan langkah Gontai dibopong beberapa kali memperontak namun tenaganya sudah lemah.
" kita kemana?" Ujar Vian berada di kursi depan dan Revan dan Ferro berada di kursi belakang..
" emm.... jika kita bawa dia langsung pulang, bisa jadi ada masalah besar. tempat Lo gimana?" usul Ferro.
" nyokap bokap gue ada dirumah, gua gak enak bawa Revan dalam kondisi mabuk begini" Ujar Vian.
Mereka berdua saling termenung," ok ya udah ke rumah gue" ucap Ferro lalu memberitahukan sopir ke alamat rumah Ferro.
Sepanjang perjalanan Revan terus menerus memeluk Ferro seperti seorang anak yang sedang manja di pelukan ibunya.
Dengan mulut yang terus mendegumel entah apa yang diucapkannya, Ferro yang tak tega hanya diam dan mengusap rambut Revan menenangkannya.
Setelah sampai di rumah Ferro Vian mengendap endap masuk ke dalam rumah agar tak ketahuan oleh orang rumah Revan.
Ferro dan Vian susah payah membopong tubuh Revan masuk ke dalam kamar Ferro, kini Revan seperti seorang yang sedang lumpuh dengan badan yang lemah untuk bergerak.
" sekarang gimana?" Vian bingung.
" em... Lo sebaiknya pulang sekarang deh, takut nya bokap nyokap lu nyariin. soal Revan biar aku yang urus" Ucap Ferro.
" lu yakin.." Vian ragu.
" yakin kok" jawab Ferro pasti.
Setelah mengantar Vian sampai depan Ferro berganti pakaian lalu menjaga Revan yang masih tertidur lelap.
Sekali kali Ferro terkejut oleh ulah Revan yang tiba tiba teriak seperti orang yang kerasukan. waktu menunjukkan pukul 18:50 malam.
Panggilan telpon dari Mama Hanna untuk Ferro masuk, buru buru Ferro keluar kamar untuk mengangkat panggilan tersebut.
" halo... Ferro kamu lagi bersama Revan gak"
" gak Tan, aku... lagi gak bersama Revan..."
" oh gitu, kamu tau Revan lagi dimana?"
" em.. itu Revan... Revan tadi lagi ngerjain tugas bersama Vian dan yang lain tugas kelompok Tante, tadi dia ngabarin ke Ferro kalau dia pulang agak malam atau nginap kalau tugas nya belum selesai"
" oh anak ini gak ijin Ama orang tua nya, yah sudah makasih ya sayang, em.. kamu udah maka n sayang? kalau belum sini ke rumah Tante kita makan bareng"
" sudah..., eh maksudnya aku udah makan kok Tan.."
" yah udah.... tidur yang awal yah sayang jangan begadang, ingat jaga kesehatan papa mama kamu masih diluar kota kan. jika takut tidur sendiri sini tidur di rumah Tante ok"
" ok Tan..."
" dah..."
" ok makasih Tante.."
" iya..."
Setelah sambungan telepon terputus Ferro kembali ke kamar, Ferro terkejut melihat Revan berjalan menyusuri berpegangan pada dinding kamar.
" mau kemana?" Ferro buru Buru membopong badan Revan.
" Kamar mandi gua kebelet..." jawab Revan lirih dengan wajah kusut bangun tidur.
" kamu bisa?" ucap Ferro ragu ragu lalu melepaskan pegangan nya.
" iya bisa..." Revan terus melangkah.
Saat melangkah Revan tak mampu menopang tubuh nya yang masih oleng lalu jatuh tersungkur.
" Revan!!!" Buru buru Ferro membantu Revan bangun" biar gua bantu..." Ucap Ferro.
" gak usah malu ih..." tolak Revan berusaha melepaskan pegangan Ferro.
" sini... bawel.. lu mau kencing di celana ini kamar gua loh " ucap Ferro memperingatkan.
" tapi-" Revan terdiam ia masih sangat pusing, akhirnya ia menurut.
Di kamar mandi Ferro menahan tubuh Revan dari belakang dengan memeluknya sementara wajah di sembunyikan menempel di balik punggung Revan.
Revan sebenarnya malu tetapi apa daya ia sekarang yang masih sangat lemah kini hanya pasrah.
Setelah kembali Ferro dengan perhatian menyelimuti Revan dengan masih menggunakan seragam sekolah.
Ferro duduk di meja belajar nya, kini ia sedang belajar dan mengerjakan PR nya tak lupa ia juga mengerjakan PR milik Revan yang sedang ketinggalan pelajaran lantaran bolos pagi tadi.
Setelah selesai mengerjakan PR ia memeriksa keadaan Revan, ia terkejut melihat Revan seperti orang yang menggigil lalu dengan cepat memeriksa kening Revan yang terasa panas.
Dengan cepat Ferre mengambil handuk dan wadah berisi air, ia menempelkan handuk basah k kening Revan guna meredakan panasnya.
Ferro terjaga menarik kursi belajar nya menjaga Revan, ditatapnya Lekat lekat wajah Revan lalu Ferro sedikit tersenyum.
" dulu Lo selalu menindasku, suka memerintah, melarang, hingga banyak anak cowok yang menjauhi ku, gua sangat benci dengan Lo pada saat itu, tetapi gua merasa aneh saat jauh dari Lo gua merasa sepi, kehilangan, dan kadang gua emosi sendiri" gumam Ferro sambil tersenyum" mana Lo yang sok keras, sok kuat, yang katanya selalu jagain gua, ini aja Lo yang gua jagain" Ferro semakin tersenyum saat melihat wajah lucu Revan saat tertidur.
Ferro mengambil ponsel nya berpose memotret wajah Revan sedang tertidur dengan handuk kecil menempel di keningnya.
Lalu Ferro juga mengambil gambar mereka berdua dengan Ferro menjulurkan lidah nya mengejek Revan dengan wajah yang kusut.
Saat keasyikan berfoto Revan mengigau lalu menarik Ferro dalam pelukannya, Ferro berusaha keluar dari pelukan Revan tetapi tak bisa.
" jangan pergi, plis.. jangan tinggalin aku" Ucap Revan lirih.
" Revan..." Ferro memastikan Revan apakah ia tersadar atau sedang mengigau.
Setelah di selidiki Revan memang sedang mengigau efek demam nya, Ferro pun lalu tak berusaha untuk melepaskan pelukan Revan entah kenapa saat berada di pelukan Revan ia merasa nyaman dan aman.
Ia memandangi wajah Revan yang sedang tertidur tampa di sadari ia pun ikut tertidur pulas di pelukan Revan.