
Saat asyik mengobrol Revan melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang berjalan bersisian dengan seseorang lelaki disebelahnya baru lewat dari pintu masuk.
Revan secara reflex membalikkan badan sedikit merendah lalu agak menunduk, Deva menyadari keanehan dari sikap Revan.
" ada apa?" Deva sedikit berbisik.
" pulang yuk!!" Revan sedikit memohon sambil memegang perutnya.
" kenapa, ada apa sih Revan?" Deva bingung.
" Perut gue sakit banget!!" Revan beralasan.
" kok bisa?" Deva sedikit keheranan.
" gak tau, udah yuk gua udah gak tahan" Revan bangkit berdiri sesekali ia menoleh ke arah Ferro dan Rio yang sedang duduk memegang buku menu.
" lu yakin kenapa gak ke toilet aja dulu" tawar Deva.
" gak gua paling gak bisa nyetor di toilet umum atau cafe pantat gua pemilih soalnya rada rada gak enakan" dalam kondisi seperti ini Revan masih aja bercandaan.
" ok ok gua ke kasir dulu" Deva bangkit diikuti Revan.
Setelah melakukan transaksi Deva buru mengandeng Revan sedangkan Revan berpura-pura seolah olah memang sedang sakit pedahal ia hanya berpura pura menghindari Ferro.
" sialan kenapa mereka bisa ada di sini!" batin Revan lalu keluar cafe.
Ferro melihat sosok punggung seseorang yang sangat familiar baru keluar dari cafe, sweater yang ia kenakan sangat lah familiar.
" Revan, kok mirip Revan sih! tapi kalau itu Revan dia sedang sama siapa?" Ferre berucap pelan.
" kenapa?" Rio tak terlalu jelas mendengar lalu melihat ke arah yang sama dengan Ferro.
Tetapi sosok Revan telah menghilang sebelum Rio menoleh.
" gak, gak ada papa kok ayok lanjut aja. mau pesan apa?" Tanya Ferro mengalihkan perhatian Rio" itu tadi beneran Revan bukan sih tapi jika ia Berarti ia sedang sama siapa?" Ferro mulai gelisah.
***
" gimana masih sakit?" Deva bertanya kepada Revan saat mereka telah masuk ke rumah Deva..
" Udah mendingan kayak nya, gua ke toilet aja sih biar tuntas" Revan beralasan lalu pergi.
Revan melihat sebuah pesan WhatsApp masuk.
Ferro: lu lagi dimana? kenapa belum pulang 🤬🤬
Ferro: oi kalau di chat itu dibales, gak ada kuota?
Ferro: bales atau gua gak mau teguran.
Revan: kenapa?
Ferro: kenapa, lo bilang. Lo dimana pulang sekarang!!!😡😡
Revan: ngapain?
Revan lalu mematikan handphone nya pergi ke kamar untuk istirahat, Deva telah menawari nya untuk bermalam dirumahnya awalnya Revan menolak tetapi saat ia melihat Ferro dengan Rio di cafe membuat nya mengurungkan niatnya untuk pulang.
Sebuah ketokan pintu membuat Revan terkejut lalu dengan cepat tersadar lalu membukakan pintu
" ada apa?" Revan melihat Deva memakai baju tidur Doraemon berlengan pendek serta celana pendek naik melewati lutut.
Revan sedikit terpukau sosok Deva yang sangat cantik waktu mode pakai baju tidur.
" aku belum ngantuk, kamu gimana?Deva menatap ke arah Revan.
" sama gua juga belum sih" pedahal ia berencana mau beristirahat.
" aku boleh masuk?" Deva meminta ijin walaupun itu rumah nya.
" silahkan " Revan membukakan pintu memberi jalan.
" Thanks..." Deva lalu duduk di atas tempat tidur.
" Rev aku-" Deva menunduk poni nya yang panjang menutupi sebagian wajah cantik nya" aku,.. Aku takut tidur sendirian. Jadi aku boleh gak tidur bareng Lo malam ini aja" Deva semakin menunduk suara nya lembut sedikit bergetar karena gugup.
" hah"
Revan sedikit kaget ia bingung mau mengatakan apa" kok, em... Maksud gua bukannya ini rumah Lo, dan malam kemarin Lo udah nginap disini kan, kenapa Lo jadi takut" Ucap Revan sedikit bingung.
" maaf... em... Aku baru nyampe sini tadi pagi, jadi sebenarnya aku hanya mampir disini waktu siang aja dan malam nya rencananya mau nginep di hotel. Tapi kita gak sengaja ketemu dengan kondisi kamu tadi siang jadi aku putuskan untuk nginep disini sambil ngerawat kamu"ujar Deva malu.
" tapi-"
" maaf.. Kalau kamu keberatan aku tidur di sofa aja" Deva bangkit gugup dan hendak pergi.
Sebuah tangan mehalangi jalan nya" Lo disini aja, gua, gua.. Gak keberatan kok" Revan gak enakan.
" Serius!!"
" Yap" Revan mengangguk.
Revan dan Deva tidur dengan bantal guling sebagai pembatas suasana kamar yang gelap hanya lampu tidur yang menyala.
Revan masih belum tidur ia sedikit gugup lantaran ada seorang gadis cantik tidur di sebelah nya.
Deva merasa jantung nya berdegup lebih kencang tetapi ia berusaha untuk menetralkan napasnya.
Suasana canggung membuat mereka termenung dalam kesunyian malam hingga menghantarkan mereka ke dunia mimpinya.
****
" sayang... Kenapa sih dari tadi cuma Sibuk dengan henpon, lagi chatan dengan siapa sih" Gerutu Rio sambil menyetir fokus ke depan..
" enggak, enggak chat siapa kok" Ferro terus menatap layar ponsel nya menunggu notifikasi masuk pesanan balasan dari Revan" nih anak kemana sih " gerutu Ferro dalam hati.
Mobil berhenti di depan rumah Ferro turun dari mobil Tampa menunggu Rio, lantaran terlalu fokus dengan ponselnya hingga ia lupa dengan kebenaran Rio.
" eh say.. Sayang" Rio keluar dari mobil meraih tangan Ferro.
" ada apa Rio" Ferro kaget.
" kamu lagi nunggu chat dari siapa?" Rio curiga lantaran dari cafe tadi Ferro hanya fokus dengan ponsel dari pada dirinya.
" gak nungguin chat dari siapa siapa!"
" kenapa dari tadi kamu mengabaikan aku?"
" kamu kenapa sih Rio"
" kamu yang kenapa?"
Rio marah hingga ia membalikan badan lalu masuk ke dalam mobil.
" Rio..., Rio.. Dengerin aku dulu Rio..."
Mobil melaju meninggalkan area kompleks meninggalkan Ferro yang masih memanggil Nya.
" aduh Rio marah lagi, Revan lu juga ngilang aja kerjaannya" Ferro menghentakkan kaki nya lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
malam telah berlalu kini pagi datang menyambut namun cuaca di pagi hari mendung angin bertiup kencang hingga suhu di luar rumah sangat lah dingin.
Rintik-rintik hujan mulai terdengar walaupun belum terlalu deras. Suasana didalam rumah kini juga mulai dingin.
Revan merasa badannya hangat ia hendak membukakan matanya tetapi masih terasa berat, perlahan lahan ia mulai membuka mata, sedikit terkejut sosok wajah yang cantik imut putih bersih sangat terpampang jelas berada di samping wajahnya.
Serta tangan Deva melingkar di tubuhnya dengan selimut menggulung melilit mereka berdua, bantal guling yang digunakan sebagai pembatas kini jatuh di lantai.
" cantik!" ucap Revan lirih Tampa Bergerak banyak Takut Deva akan terbangun" jarak wajah yang begitu dekat hingga membuat Revan menahan napas dan berusaha agar tak bersuara.
Hujan semakin deras hembusan angin yang kuat membuat suhu udara semakin dingin Deva mempererat pelukannya lantaran ia merasa semakin dingin.
Revan yang gugup pun jadi hanya bisa pasrah dan diam seperti patung.