Friendzone

Friendzone
Episode 59. Demam



Revan merasa tangan nya penat tetapi ia tidak bisa bergerak lantaran Deva memeluk nya sangat erat, Revan tidak bisa tidur lagi jantung nya berdebar lantaran wanita cantik sedang berada di sebelah nya bahkan tidur memeluknya.


"emh..." Deva mulai tersadar berusaha membukakan matanya.


Revan kaget setengah mati ia buru buru memejamkan matanya dan pura pura masih tertidur.


" Hah.." mata Deva membulat sempurna ia melihat Wajah Revan sangat dekat dengan wajah nya bahkan hidung Deva tak sengaja menempel di pipi Revan.


Ia menjauhkan wajahnya lalu melirik tangan nya yang memeluk Revan" astaga!!" Deva dengan cepat melepaskan pelukannya.


Jantung yang berdebar debar menatap langit langit berusaha menetralkan pernapasan nya.


"em.. Ua...MMM" Revan merentangkan tangan nya seakan akan baru bangun dari tidur nya" em kok kayak nya ada suara hujan?" ucap Revan lirih beralasan.


" iya hujan " jawab Deva lirih sedikit gugup.


Revan bangun untuk duduk " jam berapa sekarang" melirik ke layar handphone nya" gua mau mandi dulu siap siap" Revan bergegas bangun selain menghindari Deva ia juga harus cepat pulang.


Deva yang sedikit sudah tenang bangun lalu keluar dan pergi ke arah dapur menuangkan air lalu meneguknya.


" gila apa barusan yang aku perbuat!!"


Revan baru saja keluar mandi dan telah rapi Deva meminjam kan celana dan baju milik ayah nya dan ternya cocok dengan Revan.


Mereka duduk berhadapan Deva sedikit canggung apalagi saat mengingat kejadian tadi pagi. Revan sebenarnya juga ikut gugup tetapi ia berusaha untuk bersikap normal Seolah-olah ia tak merasakan apa-apa.


" em... Gua kayaknya Bentar lagi mau pamitan pulang deh" Revan membuka obrolan.


" em.." Deva hanya mengangguk tak tau harus ngomong apa.


" lo sendiri gimana? Masih mau liburan di sini?"


" yah... Sebenarnya aku masih pengen liburan disini sih tapi besok masih harus masuk sekolah kan" ucap Deva dengan sedikit tak rela.


" yah... tapi kapan kapan jika pengen liburan sini lagi hubungi gua aja"


" boleh.. Nomor watshApp mu"


" em ni..." Revan membuka ponselnya dan Deva dengan cepat memasukkan nomor WA Revan.


Sarapan pagi mereka berjalan dengan baik dan tak ada kesan canggung lagi obralan mereka Santai.


***


Pukul 10:00 Mereka berpisah Deva kembali ke kota nya menggunakan mobil nya sedang kan Revan memilih pulang sendiri menolak tumpangan Deva ia lebih memilih naik taxi online.


Di rumah Ferro masih memikirkan kejadian di cafe tadi malam ia tampak Familier dengan sosok lelaki yang baru keluar dari cafe dengan digandeng seorang wanita.


" itu Revan bukan yah, tapi itu cewek siapa?"


" ah kenapa aku jadi mikirin Revan sih... Sadar Fer, sadar Lo jangan kepo in Revan lu punya pacar!!!"


Ferro terduduk lemas di meja belajar ia tak fokus mengerjakan PR nya lantaran pikiran nya hanya pada Revan.


Entah apa sebenarnya dengan dirinya saat berada di dekat Revan ia seolah tak merasakan apa-apa bahkan sering berantem, risih jika Revan menjahilinya, tapi saat berjauhan sehari aja tak melihat Revan, ia bahkan galau tak karuan.


Sebuah taxi berhenti di depan rumah Revan, Ferro melihat dari jendela kamar nya.


" Revan!! "


Ferro buru buru turun kebawah dan berlari untuk menghampiri Revan.


" makasih pak yah!!"


Setelah membayar taxi tersebut perlahan meninggalkan, Revan berbalik baru satu langkah kini ia terhenti.


" Revan!!!"


Revan menoleh dengan cepat Ferro menarik kerah bajunya dan mendorong Revan ke pagar.


" habis dari mana? Kenapa semalaman gak pulang? Udah berani gak bales chat? udah berani sekarang cuekin aku? Kamu gak khawatir sama Mama cemas nungguin kamu pulang? Mikir!!" Ferro berteriak melupakan semua unek unek di kepalanya.


" apaan sih, lepasin!!"


" lepasin malu tau gak diliatin sama orang!"


" gak kamu sekarang lo punya hutang sama gua, Lo harus bayar Lo harus traktir gua karena Lo udah berani mengabaikan gua?" Ferro melotot" oh yah satu lagi semalam Lo keluar kemana dan sama siapa" aura yang dikeluarkan Ferro seperti sedang mengintrogasi seorang penjahat.


" gak kemana mana, gua di rumah Leo main PS bareng ngumpul Ama anak anak, kenapa emang?" Revan mulai panik lantaran Ferro pasti melihat nya tadi malam.


Hidung Ferro mengkerut seperti nya ia sedang mencium sebuah kebohongan" gua gak percaya!!"


" Lo bisa tanya Vian!"


" gua Udah chat Vian!!!"


" lepasin.."


Revan dengan sedikit tenaga melepas kan diri dari cengkraman Ferro hingga membuat nya sedikit mundur.


" gua mau masuk!!" Revan berbalik lalu pergi.


" Revan tunggu!!"


" Revan... Revan tungguin!!"


" heh heh... Ada apa ribut ribut..." Mama Hanna memperhatikan sedari tadi tingkah kedua anaknya tersebut.


" Tante tu tuh, sih Revan udah berani kelayapan tanpa memperdulikan keadaan orang rumah!!" kata kata Ferro penuh dengan penekanan.


" emang ada apa dengan orang rumah?" Revan jual mahal lantaran masih kesal dengan Ferro sambil menuangkan segelas air.


" Tante liat Revan!! em..."


" sudah sudah kalian berdua udah gede masih aja suka ribut"


" Ferro Revan tadi malam sudah ijin Sama Tante kalau dia mau nginep di rumah teman nya, dan kamu Revan lain kali Mama gak mau liat kamu keluyuran gak ada ijin sama Mama atau Ferro mengerti!!" Hanna mencoba menengahi.


" kok jadi aku sih mah..?" Revan bingung.


" pokoknya dengerin mama!!"


" iya mah!" Revan melotot ke arah Ferro.


" Tante Revan!!"


" Revan!!!" Hanna melototi anaknya tersebut.


" iya mah..."


Ferro menjulurkan lidah nya mengejek Revan ia merasa puas karena merasa menang.


*****


Menjelang malam Setelah mandi dan berganti pakaian Revan merasa tak enak badan suhu tubuh nya terasa dingin.


Ia bersembunyi di balik selimutnya yang tebal tetapi masih belum bisa menghangatkan tubuhnya.


" Revan makan dulu nak..." Hanna membukakan pintu" Revan!!"


" iya mah nanti aja masih kenyang" Revan mencoba bangun lalu duduk bersandar.


" kamu kenapa? Kok wajah kamu kayak pucat gitu" dengan cepat Hanna menempelkan tangannya ke dahi Revan.


" ya ampun panas, udah hayu makan dulu setelah itu minum obat" Hanna keluar untuk ngambil makanan.


" apa!! Revan sakit Tan, ok yah udah Ferro kesana sekarang Tan ok!!!" Ferro buru buru keluar kamar lalu berlari ke arah rumah sebelah.


Tampak ia khawatir tentang keadaan Revan entah mengapa ia selalu cemas jika sesuatu terjadi pada Revan walaupun Revan bukan tipe pria yang ia sukai dari segi penampilan dan ganteng nya masih jauh. Tetapi Revan seperti orang yang berharga dalam hidup nya.


" ini tolong ya Ferro!" Hanna menyerahkan napan berisi piring nasi, air putih dan obat demam.


" ok Tan biar Ferro yang urus" Ferro lalu naik ke lantai atas ke kamar Revan.