
Pagi yang cerah kini berubah perlahan mendung, angin bertiup cukup kencang awan hitam mulai menguasai langit putih.
Waktu masih menunjukkan pukul 09:20 pagi gerimis mulai turun, Dion mendatangi tenda Revan dengan mantel.
" gimana? Apakah rencana kita di tunda tunggu sampai hujan reda? "
Dion berdiri di depan pintu tenda, gerimis serta angin yang cukup kencang di luar tenda.
" kita lihat saja, jika reda dan memungkinkan untuk melanjutkan rencana sebenarnya kita tunggu saja! " berdiri menunduk di depan tenda.
" ok kalau gitu, gua kembali ke tenda dulu "
Dion berbalik pergi, Revan melihat ke arah Ferro dan Ara yang duduk meringkuk di kasur dengan selimut yang cukup tebal melindungi mereka dari suhu yang dingin.
" Vian Ikut gua! "
Revan menyodorkan sebuah mantel ke pada Vian.
" kita mau kemana? "
Vian yang Rebahan di sebelah Ara sedikit enggan untuk bangkit berdiri.
" jangan banyak protes ikut saja! "
Revan sudah siap dengan mantel nya.
" em ok ok... " Vian bangun segera mengenakan mantel nya.
Revan dan Vian keluar tenda cuaca sangat dingin di luar, Ferro hendak bertanya tetapi niat nya di urungkan lantaran Revan sepertinya mengabaikannya.
kruk.. Krukk..
Ferro dengan cepat menahan perutnya.
" heh... "
Ara yang sedari tadi fokus dengan ponselnya kini melihat ke arah Ferro.
" em.. Ini e-.. Aku sedikit lapar"
Ferro tersenyum menahan malu.
" Hem... Aku juga lapar mau gimana lagi, hujan turun kita gak bisa masak, mungkin kita hanya bisa menunggu mereka kembali memasak air panas untuk kita "
Ara tertunduk lemas.
" kamu tau mereka ngapain? "
Ferro berbisik, Ara menggelengkan kepalanya.
" hemmm...."
Ferro membuang napas lemah.
Revan dan Vian mendirikan sebuah tenda kecil tanpa alas di bawahnya, Revan memerintahkan Vian membawakan kayu yang di tutup nya menggunakan mantel di bawah mobil.
Vian bergegas mengambil kayu tersebut, Vian baru menyadari kalau Revan hendak memasak.
" simpan di sini " ucap Revan saat Vian membawakan kayu yang masih di bungkus menggunakan mantel.
Revan fokus membuatkan tungku menggunakan batu serta mengalaskan tanah yang basah menggunakan batu.
Membutuhkan beberapa menit untuk menyalakan api, Revan mengambil persediaan beras, sosis dan makanan kaleng serta sambal dari dalam mobil.
Vian kembali ke tenda mengecek keadaan tenda takut nya air akan masuk ke dalam tenda.
" kalian sedang melakukan apa ? "
Ara melotot ke arah Vian.
" diam saja, ini urusan laki laki "
Vian menatap dengan tatapan serius " jangan keluar tenda kalau tidak mau sakit, ingat!! "
Vian keluar lalu menutup kembali tenda lalu menghampiri tenda kecil di belakang.
" apa yang sedang mereka lakukan? "
Revan menoleh sekilas lalu kembali dengan kesibukannya.
" mereka sedang Rebahan tenang saja aku sudah melarang mereka untuk keluar..." Vian ikut berjongkok memperhatikan Revan " Wih.. Sangat beruntung bersama lo saat camping, Lo jenius tungku satu buat memasak nasi tungku satu nya lagi untuk menggoreng lauk wow... Aku gak pernah terpikirkan dan tidak bisa melakukan hehehe..."
" apa yang bisa lo lakukan cih.."
Revan kembali memasak.
Gerimis tidak ada hentinya waktu menunjukkan pukul 10: 15 menit, gerimis belum juga Reda Cuaca semakin dingin, Revan dan Vian saling bekerja sama mengantarkan nasi, lauk dan sayur ke dalam tenda.
" wow... Akhirnya!! gua kira kalian hanya main hujan di luar sana"
Ara kegirangan melompat dari tempat tidur.
" perhatikan mulut Lo, heh... Ferro kemari kalian pasti sudah lapar"
Vian telah selesai menata makanannya.
" ada apa? "
Revan meletakkan punggung tangan nya ke dahi Ferro.
" apaan sih "
Ferro sedikit mengelak dengan sedikit lesu.
" panas nah makan, setelah makan pasti akan membaik "
Revan mengambilkan nasi untuk Ferro.
" dikit aja " Ferro dengan segera menahan Revan " tadi sok cuek " batin Ferro.
Mereka menikmati makannya dengan lahap, cuaca di luar sangat dingin, gerimis mulai reda tetapi awan hitam semakin menumpuk seperti akan ada turun hujan lagi.
Setelah makan mereka duduk di sisi meja kecil, dengan segelas kopi dan susu masing-masing serta beberapa makanan ringan.
ngobrol ringan hingga mereka memutuskan untuk beristirahat dengan tidur siang.
Hujan memenang tak bisa di hindarkan hingga menjelang malam gerimis mulai berhenti akan tetapi angin malam semakin dingin.
Kelompok Revan di ajak kelompok Dion untuk kumpul bareng di tenda mereka lantaran tenda yang di bangun cukup besar.
Ferro sebenarnya malas untuk bergabung akan tetapi Ara ngotot untuk ikut, hingga Ferro mau tak mau ikut.
" selamat datang!! "
Dion berdiri menyabut kedatangan rombongan Revan.
" Wih kayak acara formal aja "
Ucap Vian lalu masuk diikuti Ara, Ferro dan Revan.
Mereka duduk bersisian Revan dan Vian di pinggir sedang kan Ferro dan Ara di tengah tengah mereka.
" Jon keluarin dong "
Ucap Dion yang langsung di mengerti apa itu oleh Joni salah satu rombongan Dion.
" wow bir.. Gile mabuk ni!! "
Vian bersemangat, lalu di cubit pelan oleh Ara.
" bikin malu Teriak Teriak" bisik Ara.
" gak seru dong, ngumpul diam diam aja "
Ucap Dion.
" biar gak sepi gimana kalau Kita bikin permainan aja!! "
Fanny tersenyum mengusulkan.
" emang permainan yang seru apa? " tanya Okta yang duduk di sebelah Fanny.
" permainan kejujuran atau minum gimana "
Fanny mengacuhkan jarinya tersenyum.
" ok siapa takut"
Vian bersemangat " gimana semuanya setuju!! "
" boleh "
" ok "
" baik lah "
Teman teman yang lain hanya mengangguk setuju lagi pula untuk mengisi waktu luang mereka.
Dion membagikan masing masing satu gelas bir dan sebuah kertas untuk masing-masing serta mengisi pertanyaan.
Lalu botol bir yang sudah kosong di letakkan terbaring untuk dijadikan Arah penunjuk.
Setelah mengisi pertanyaan mereka melipat dan meletakkan di sebuah kaleng untuk di undi.
" siap!! "
Dion hendak memutarkan botol tersebut.
" siap!!! "
Jawab mereka serempak, Dion memutarkan botol hingga berputar cukup cepat.
Setiap mata fokus ke Arah ujung botol, berharap agar tidak menunjuk ke arah dirinya.
Botol mulai bergerak dengan lambat, dan berhenti tepat menunjuk ke arah Fanny.
" wow..."
Seru mereka, Fanny tersenyum lalu memilih salah satu kertas yang berada di dalam kaleng, dengan sedikit gugup dan di saksikan semua mata tertuju pada sebuah kertas yang di tangan Fanny.