Friendzone

Friendzone
Episode. 29. Pak Pedrik



Setelah mereka semua menyusuri area danau biru, Elisa tak henti hentinya berjalan sambil memegangi baju milik Jeje. Jeje yang merasa risih pun menepis tangan gadis itu, "Lo ngapain sih?" Tanya Jeje.


Elisa nyengir, "Gelap, hp gue 2 persen lagi. Sayang kalau dipake buat senter," alasan Elisa.


Aje melihat saudaranya dan Elisa bertengkar malah menggoda keduanya, "Ciee ... Pdkt nich!" 


Jaerim dan Win melirik mereka bertiga, "Ada apa?" Tanya Jaerim.


"Tuh si Jeje sama si Elisa pegangan terus dari tadi, lagi pdkt kayaknya," tunjuk Ajel pada kedua orang itu.


Jaerim melirik mereka, mendecih kemudian, "Sudah lanjut cari!" Suruhnya.


Mereka semua diam dan lanjut menelusuri danau, walau bulan sudah terlihat di atas kepala, tapi tak menghalangi pencarian mereka. Beberapa waktu kemudian, mereka mendesah lelah.


Dari sedari tadi tak ada apapun yang bisa dijadikan petunjuk, mereka semua kelelahan dan mengantuk. Ingin rasanya merebahkan diri, tapi mereka tak bisa karena memikirkan keadaan Olive diluar sana.


"Jel, lo capek gak si?" Tanya Jeje disahuti anggukan.


Melihat teman temannya yang kelelahan, Jaerim mengerti, "Win." Panggil Jaerim berbisik pada laki laki ambis itu.


"Apa?" 


"Kita ke tenda dulu aja ya, besok pagi kita cari Olive." Ucap Jaerim segera ditolak keras oleh Win.


"Gilak lo? Lo mikir kagak keadaan si Olive diluar sana hah? Kita enak cuman lelah sesaat, dia? Belum tentu dia lagi baik baik saja, pikir Jae!" Win marah.


Jeje dan Ajel serta Elisa terkaget mendengar bentakan Win. "Win, apa apaan sih?" Ujar Elisa melerai mereka.


"Apa lo? Mau balik ke tenda juga? Udah sana balik! Gue cari Olive sendirian, gak butuh gue bantuan kalian!" Elisa pun kena marah.


Ajel mendekati Win. "Udah udah, kita cari Olive lagi ya? Kalau dalam waktu 60 menit kita gak nemu, kita balik ke tenda dulu. Besok pagi kita lanjut cari Olive. Lo gak kasian sama si Elisa? Dia cewek Win." Ajel menengahi.


"Tapi-"


"Iya Win. Bukan cuman lo yang khawatir sama si Olive. Tapi lo juga harus pertimbangin temen temen lo yang lain, gue juga sama kayak lo khawatir sama si Olive." Jeje membenarkan saudaranya.


Win yang merasa dipojokan sedari tadi, akhirnya pun menahan egonya, "Gue udah bilang, lo semua kalau mau balik tenda, udah sana!" Rupanya laki laki itu masih keras kepala.


"Gak usah bebel deh lo Win. Yang khawatir sama keadaan Olive juga bukan lo! Jangan egois, bisa? Sekarang kita balik tenda, besok subuh kita cari lagi Olive." 


Win tertegun, mendengar tuturan temannya, Jeje. Ia memalingkan wajahnya malu sekaligus kesal. Ia tak akan bisa tidur apalagi beristirahat jika Olive tak ada disampingnya, ia meneteskan air matanya tanpa siapapun ketahui. Pada akhirnya, mereka semua termasuk Win memutuskan untuk mencari Olive sebentar lagi, jika masih tidak ada jejak, mereka terpaksa kembali sementara ke tenda.


Dan benar saja, 60 menit kemudian, tak ada jejak yang Olive tinggalkan. Mereka semua terpaksa kembali ke tenda dengan perasaan hampa. Di perjalanan, Elisa hampir saja tersandung. 


"Hati hati makanya, bodoh," Jeje memaki.


Elisa memberenggut, "Kaki gue sakit gak sengaja nginjek duri, makanya gue hampir jatuh," Elisa kesal.


Jeje yang melihat gadis itu sedikit pincang, dengan berat hati membiarkan gadis itu memegangi bajunya hanya untuk sekedar menuntun agar tidak terjatuh lagi. 


Ajel melihat itu, dia terkekeh melihat adiknya kesal. Dia melihat jalan yang ia lewati, sesaat ia melamun sambil berjalan. Bagaimana keadaan sahabatnya? Apa dia sudah makan? Apa dia kedinginan? Dia sangat mengkhawatirkan.


Ini semua salahnya, andai saja dia tak meninggalkan Olive bersama Maria atau Elisa. Pasti Olive sekarang ini masih ada bersamanya.


"Hey, jangan coba coba ngelamun lo. Kesambet, baru tahu!" Tegur Jeje pada saudaranya.


"Win!" Panggil Ajel.


Win menoleh, "Kenapa?"


"Apa kalian sadar, kalau dari awal kita gak nemu ekosistem sama sekali?" Ungkap Ajel.


"Shutt! Itu hal tabu dibicarakan disini, mending kita ke si Maria dulu. Kalau udah sampe tenda, baru kita bahas," Jaerim membisikan itu seolah memberi kode agar tidak berbicara apapun untuk sementara.


Jeje menepuk bahu kakaknya, "Bener, lo taruh lagi itu kura kura," ucapnya.


Ajel yang tersadar perkataannya salah, ia segera mengembalikan kura kura itu ke habitatnya. Setelah itu, mereka semua mulai berjalan kembali ke arah tenda sebelumnya.


Singkat waktu, mereka semua sudah sampai di tepi sungai sebelumnya. Begitu shok, karena ada banyak orang disana, diperkirakan ada 10 orang ramainya.


Elisa menghampiri Maria. "Ada apa ini, Mar?" Tanyanya.


Kebetulan sekali, Maria keluar dari tenda bersama seorang pria tua yang pertama kali menemui Maria di awal. Melihat teman temannya sudah kembali, Maria bersyukur. Tapi setelah menyadari jika Olive tak ada bersama mereka, Maria sedikit kecewa.


"Syukurlah kalian sudah pulang, ada yang mau gue kasih tahu ke kalian," jawab Maria.


Elisa dan yang lain bertanya tanya, kecuali Win yang terlihat sangat gedek dengan sikap acuh wanita jadi-jadian itu.


Sekarang mereka sudah ada di dalam tenda gubuk buatan, terdapat Jaerim. Ajel. Jeje. Elisa. Maria dan pria tua asing tersebut. 


"Win mana?" Tanya Maria.


Ajel bergedik bahu, Jeje menunjuk ke luar dengan jempolnya, "Tadi si keluar, percuma lo mau suruh dia ikut kesini. Dia udah enek sama lo," sarkas Jeje.


Maria berdehem kecil, sedikit tertekan batin saat Jeje terang terangan menyindirnya. Setelah itu, ia menatap yang lainnya.


"Ini Pak Pedrik. Beliau ini orang yang sama kayak kita tersesat di hutan ini," ungkap Maria.


Semua terkejut, "Maksud lo?" Tanya Elisa.


Jaerim hanya menunggu saja, menyimak dan beropini di akhir. Dia membetulkan kacamatanya, ia sudah menduga pasti perkiraanya benar.


"Biar saya jelaskan, saya Pedrik. Saya adalah inspektur pertambangan di gunung ini atas perintah salah satu perusahaan batu mulia. Saya dan tim saya hendak menelusuri dimana letak bagian gunung yang akan kami tambang, tapi tanpa sengaja saya dan anak buah saya malah di serang hewan buas dan tersesat. Kami sudah tinggal di hutan ini selama 2 tahun. Kami sudah mencari jalan keluar, tapi tidak pernah menemukannya. Sampai kami pun harus naik ke puncak, tapi sampai sekarang kami tak menemukan jalan keluarnya sama sekali," inspektur bernama Pedrik itu curhat.


Semuanya menyimak sembari mendengarkan perkataan inspektur pertambangan itu. 


"Dari jumlah orang 70 orang banyaknya, hanya tersisa belasan saja. Sampai saya menemukan teman kalian saat ingin mengambil air di sungai. Saya pikir kalian pendaki, ternyata sama seperti saya dan rekan saya yang tersesat lamanya," lanjutnya mengungkapkan.


Sembari pak Pedrik bercerita, Ajel diam diam keluar tenda tanpa diketahui siapapun. Niatnya ingin menghampiri Win. Setelah berhasil keluar, ia segera berjalan cepat mencari kelinci itu. 


Tepat tak jauh dari sungai, Win terlihat tak jauh dari tenda ternyata. Segera Ajel menghampirinya, lalu menepuk bahunya pelan sambil memanggil namanya.


"Win …"


Laki laki itu menoleh sesaat, laku fokus kembali ke arah sungai.


"Lo harus ikut nyimak ke dalem, ini penting," kata Ajel.