Friendzone

Friendzone
Episode 38. Pulang kampung



Ferro merebahkan tubuhnya didalam kamar ia memandang langit langit kamar nya. lalu kembali teringat saat Revan menarik lengan Dea lalu merangkulnya.


Tampa sadar ia meremas erat bantal guling nya dan memukul mukul nya beberapa kali.


" Cewek gatel, Revan juga dasar buaya..." gumam Ferro tanpa sadar.


" eh kok gua jadi sakit hati sih, sadar Ferro yang lu suka itu Rio. Revan itu Rival Lo musuh Lo " Ferro berdebat dengan pikirannya sendiri.


" ah...! " Ferro lalu menutup wajahnya menggunakan bantal.


ia masih terus terbayang Kejadian di supermarket tadi, apalagi saat Revan tiba tiba merangkul Dea semua pikiran itu membuat nya pusing lalu Tampa tersadar ia tertidur pulas.


Di rumah Revan juga sedang melamun di balkon rumahnya ia bersandar di sebuah kursi yang empuk dan ia terpaku melihat langit.


Revan masih teringat saat Ferro mencoba menahan dirinya dan merangkul lengan Rio kejadian itu bagi Revan seakan Ferro membela Rio dan seakan akan memberi isyarat kepada dirinya agar tidak menyentuh Rio.


Revan memukul pelan kursi nya tetapi penuh penekanan yang tak terkatakan.


saat Revan masih larut dalam lamunannya handphone nya berbunyi karena ada sebuah panggilan masuk.


" halo..." tanya Revan dengan datar.


" hai kak Revan..." jawab yang diseberang telpon.


" ini nomor siapa...!" Revan masih belum mengetahui siapa suara cewek yang menelpon nya.


" ini aku Dea... kak Revan gimana sih. gak bisa ngenalin suara aku..." suara Dea manja.


" oh sorry... gua minta maaf..." ucap Revan melembut.


" Kak gimana aku boleh kan aku ikut liburan nya? Dea dengan nada manja.


Revan berpikir sejenak pada awalnya Revan tidak ada niat untuk mengajak Dea untuk ikut liburan karena alasan mendesak dan telanjur emosi berbaur cemburu hingga Revan Tampa berpikir jernih lalu menyetujuinya.


" halo kak Revan, kok diam ?" tanya Dea lagi.


" oh maaf ini tadi lagi balas chat nya Vian jadi gak denger, gimana gimana?" Revan beralasan.


Revan diposisi yang salah jika ia mengijinkan Dea untuk ikut tetapi ia kepikiran dengan Ferro yang tampak tidak suka dengan kehadiran Dea.


jika ia menolak ditakutkan Dea kecewa dan Revan orang yang tidak enakan dan terus merasa bersalah.


" gimana Dea boleh ikut kan?" ulang Dea.


" em... boleh... sih, eh maksudnya boleh kok boleh..!" Revan terbata bata.


" seriusan kak !" Dea dengan semangat.


" iya..." Revan senyum terpaksa.


" thank you kak Revan..." ucap Dea .


" Dea... nanti info lanjut nya gua bales pake pesan WhatsApp yah soalnya gua mau berkemas untuk besok..." alasan Revan agar mempercepat telponnya.


" oh ok kak Revan...! jangan lupa di save ya nomor nya... dah...!" ucap Dea.


" ok bay...!" Revan segera mengakhiri panggilan tersebut.


Revan kembali tersandar lesu sambil menatap kosong kearah langit yang tampak dipenuhi bintang bintang yang bertaburan di langit.


angin berhembus sepoi-sepoi dan membuat Revan sedikit menggigil dan ia pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.


ia terbaring di kasur nya sambil memandangi Foto foto ia bersama Ferro di setiap momen dari kecil hingga Dewasa kini.


Revan tersenyum sendiri saat melihat beberapa Foto yang tampak berpose tidak serius dan terlihat lucu dan bikin senyum senyum sendiri.


Tampa tersadar Revan pun tertidur pulas dengan posisi tengkurap. diluar Awan malam mulai menutupi langit dan bintang bintang seperti nya akan mendung dan akan turun hujan.


Rombongan tersebut antara lain Revan, Vian,Gilang, Edo, Dea, Ara, Tasya, Aslan dan Rio.


Lili sangat senang melihat banyak rombongan yang ikut dengan mereka begitu juga dengan Yudi kedua orang tua Ferro sangat antusias menyambut mereka.


" ok gimana kalian siap, Rombongan nya kita bagi dua om Tante dan semua anak anak yang cewek satu mobil. sedangkan anak anak yang cowok satu mobil dengan Revan yang bawa ok" jelas Yudi menyampaikan.


"ok...!


" ok om..!


sebelum berangkat mereka berdoa terlebih dahulu lalu mengemasi barang-barang bawaan kedalam mobil dan berangkat menggunakan dua buah mobil yang di kemudikan Yudi dan Revan.


Di rombongan mobil Yudi Tasya dan Ara tampak baik dan lumayan akrab dengan Dea tetapi tidak dengan Ferro yang tampak tidak terlalu menanggapi setiap diajak bicara Dea.


Sedangkan di Rombongan anak laki laki Suara Revan dan kawan kawan lebih mendominasi sedangkan Aslan dan Rio yang duduk di bangku paling belakang hanya mendengar Tampa bersuara.


Rio menutup telinga nya menggunakan headset karena tidak betah mendengar ocehan Revan dan kawan kawan yang tampak tak berarti.


" mampus bosen bosen dah Lo satu mobil dengan gua "ucap Revan dalem hati sambil tersenyum puas setelah berhasil membuat Rio bosen.


perjalanan memakan waktu sekitar empat sampai lima jam perjalanan yang membuat mereka cukup tampak kecapean.


rombongan mobil Yudi Ferro dan anak anak cewek yang lain tertidur pulas selama perjalanan begitu pun dengan rombongan Revan mereka juga tertidur pulas.


" Vian bangun... bangun... monyet...!" Teriak Revan dengan panik.


" apa ada apa....!" Vian terbangun ikutan panik.


" kita udah nyampe di surga, tadi gua sengaja nabrak terus jatuh ke jurang" Ucap Revan dengan ekspresi konyol.


" yang benar ah tidak, gua belum lulus SMA belum nikah lagi" Vian panik.


" bangun monyet surga bapak lu, ini kita udah sampe di Rumah Kakek dan neneknya Ferro" Revan dengan santai.


" anjir... kampret loh... gua panik tau.." Vian mengucek matanya lalu terbangun.


mereka semua keluar dari mobil dan tampak terkejut melihat area sekitar yang begitu indah dan mempesona berbeda 180 derajat dengan kota mereka yang penuh dengan kebisingan dan polusi udara.


udara yang segar angin berhembus sepoi-sepoi pemandangan perbukitan, perkebunan dan persawahan yang luas serta terdengar samar-samar suara gemuruh air terjun.


mereka berbondong-bondong mengeluarkan barang masing-masing dalam mobil tampak sepasang kakek dan nenek serta seorang gadis cantik menyebut mereka dengan senyuman.


" Kakek Nenek..." Ferro berlarian memeluk lalu mencium pipi kedua pasangan lansia tersebut.


" cucuk Nenek udah besar... Nenek kangen...!" Mereka saling berpelukan.


" Lili sini kenapa jarang sekali bawa cucuk saya pulang kesini..." omel Nenek.


" hehe.. maaf Mah baru ambil cuti soalnya banyak kerajaan..." jawab Lili tersenyum.


" mah ini siapa kok baru nampak...?" tanya Yudi menunjuk kearah gadis yang bersama mereka.


" ini Rani dia yang berkerja paruh waktu bantu bantu disini..." jawab Nenek.


Nama sepasang lansia tersebut ialah Kakek Oh dan Nenek Taro mereka hanya memiliki anak bernama Lili Mama nya Ferro.


" Halo om Tante saya Rani yang bekerja paruh waktu di sini " ucap Rani gadis berambut panjang sepinggang dengan wajah seperti keturunan Korea tersenyum hormat kepada mereka.


" sudah punya pacar belum" Vian keceplosan Tampa sadar lalu dengan panik ia menutup mulutnya.


mereka yang semua sontak menoleh ke arah Vian terdiam dan suara tawa pecah melihat Vian yang salah tingkah.


" Sudah sudah mari kita masuk dulu kalian pasti lagi pada capek kan kita istirahat didalam dulu " ucap Nenek Taro sambil tersenyum membawa mereka masuk.


para rombongan melepaskan sepatu nya dan masuk satu persatu kedalam Rumah untuk meletakkan barang bawaan nya serta berganti pakaian.