
Semakin dekat Olive dengan tenda, semakin hatinya merasa tak enak. Ia berjalan cepat menghiraukan kakinya yang bengkak.
'Puk!'
"Arghh!"
Olive repleks menghindar setengah berjongkok, menutup matanya.
"Olive!"
Gadis itu mendongak melihat siapa itu, setelahnya ia sangat terkejut. Bagaimana mungkin? Tidak, apa matanya salah? Ia segera mengucek mata.
"Lho, lo cowok yang pernah nabrak gue di parkiran sekolah itu kan?" Tanya Olive kembali menegakan tubuh.
Pria itu tertawa kecil, dia menyentil dahi Olive.
"Aww! Apa apaan sih lo?" Olive risih.
"Iya, lo inget gue ternyata. Gue Tum. Masih inget dong pastinya," ujarnya mengingatkan Olive lagi, "Gue juga pernah ngobrol sama lo sebentar pas awal kali pertemuan kita di taman tsg kota."
Olive merasakan kepalanya sedikit pening, dia sepertinya tak bisa berpikir banyak setelah dirinya tenggelam dan selamat dari danau. Ia meringus sakit.
"Eh, lo gak papa?" Tum khawatir.
Olive menghindar, "Sshh gue gak papa, gue abis aja tenggelam tadi. Bersyukur banget gue sama Tuhan udah nyelametin gue," ucap Olive.
"Alhamdulillah. Gue seneng lo selamet. Eh? Maksudnya!" Tum tersadar.
Olive terkekeh, "Ceritanya panjang, gue mau ketemu temen gue dulu. Beruntung gue ketemu sama lo, gue sama temen temen gue tersesat disini. Lo bisa bantu gue kan?" Pinta Olive dengan puppy eyes nya.
Tum tersenyum, "Itu emang tujuan gue kesini kali," ucap Tum.
Mendengar itu, Olive tersenyum gembira. Dia tak memperdulikan rasa sakitnya, dia memeluk pria itu bahagia.
"Ups sorry!" Ujar Olive melepas pelukannya.
Tum tertegun, tapi segera dia hilangkan pikiran itu.
"Hemm."
"Kalau gitu gue harus temuin temen gue dulu, gue harus ke tenda," ucap Olive diangguki Tum.
Singkat waktu, gadis itu begitu terkejut saat melihat tenda yang dibuat teman temannya sudah hangus dan porak poranda.
"Lho? Ada apa ini? WIN! JEJE! AJEl! MARIA! JAEE! ELISAAAAA!"
Olive berteriak sangat kencang sambil mengontrol sekitar, lau kembali pada Tum.
"WIN!" Teriak lagi siapa tahu teman temannya masih ada.
"Kayaknya mereka udah gak ada disini lagi," ucap Tum.
Olive bersedih, dia menangis. Apa teman temannya meninggalkannya? Kenapa? "Gak mungkin kan mereka ninggalin gue?" Ujar Olive terisak.
Tum mengusap bahu Olive lembut, "Gak mungkin. Kayaknya ada yang sengaja ngincar teman kamu." Ucap Tum.
"Hah?"
Olive tak mengerti, tapi segera Tum menggandeng gadis itu untuk pergi. Olive tak bisa menepis, dia bingung harus mengikuti siapa jadi sia pasrah saja.
Sedangkan Jaerim dan Elisa. Dua orang itu menelusuri hutan, semak semak yang gatal membuat mereka kesusahan berjalan.
"Kemana kita Jae? Gue bingung," bisik Elisa.
"Kita harus jalan terus, sampe nemu warga atau apapun yang bisa bantu kita," jawab Jae.
"Gila lo? Mana ada warga ditengah hutan?" Elisa menyahut.
"Shutt! Berisik lo," Jaerim badmood.
Cukup lama mereka berjalan, tak ada tanda tanda kehidupan. Tapi, tak jauh dari posisi mereka, ada seseorang dengan membawa senapaan.
Sontak mereka kaget, karena orang itu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Sial! Gimana ini Jae?" Elisa panik.
"Lari!"
Mereka berlari menghindar sekuat mereka bisa, tak ada yang tahu siapa orang misterius itu. Jaerim dan Elisa hanya bisa berlari menyelamatkan diri.
"Hey berhenti!"
Ucap orang misterius itu, dari suaranya sangat berat menandakan dia adalah laki laki.
'Brugh!'
Elisa dan Jaerim terpental. Elisa jatuh ke tanah dan Jaerim yang masih bisa menyeimbangkan diri. Elisa segera bangkit dan berdiri dengan kaki sedikit masih merasa sakit. Dia melihat siapa itu, dan ternyata orang asing dan … "OLIVE!"
Elisa begitu senang dan terharu melihat siapa yang dia lihat. Jaerim juga ada disebelah Elisa dan ikut menutup mulutnya seakan tak percaya.
Mereka saling tatap dan Elisa segera hendak memelum Olive. Tapi seorang pria menghalanginya, "Hentikan! Siapa kamu?" Tanyanya.
"Dia teman gue, Tum. Namanya Elisa. Dan itu Jaerim." Jawab Olive pada Tum.
Elisa tersenyum mengangguk, tapi tak lama Elisa melihat orang yang tadi mengejar mereka sudah ada disamping Elisa dan Jaerim. Repleks Elisa bersembunyi dibelakang Jaerim.
"Jangan sakitin kami!" Teriak Jaerim pada orang itu.
Orang itu melepas topinya, terlihat wajahnya yang tampan dan rupawan. Namun, tak serupawan Tum apalagi Win.
"Lo! Lo salah satu panitia dicamp kan?" Tanya Elisa mengenali pria itu.
"Eits! Sabar, saya bukan orang jahat. Saya anak buah pak Tum. Jadi kalian gak akan saya apa apakan," jawab orang itu.
Olive melirik Tum. "Iya, dia anak buah saya. Tepatnya asisten pribadi saya. Dia Dave. Orang yang membantu saya menemukan kalian," jelas Tum.
Olive masih kebingungan.
"Kalian pasti bingung. Ya kan? Biar saya jelaskan, saya sebenarnya tertarik dengan Olive."
"Hah?" Olive diam diam terperangah.
"Karena itu, saya perintahin asisten saya untuk cari tahu selak beluk kamu, Liv. Maaf ya. Tapi niat saya baik kok, saya ingin tahu kamu. Jadi saat saya sudah mulai berani deketin kamu, saya susah tahu sebagian tentang kamu. Kebetulan juga, Dave ini juga saya tugasin buat kawal Olive sementara waktu. Karena saya merasa tidak enak hati soal Olive." Jelas Tum.
Olive terkekeh. Ia menertawai pria itu, "Tunggu tunggu, maksudnya lo suka sama gue ya?" Entah kesal atau bangga sebenernya gadis itu.
Tum menggeleng, "Tidak. Saya tidak menyukaimu sebagai pasangan," jawab Tum.
Seketika senyuman Olive pudar, "Terus?"
"Saya menyayangi anda karena anda adalah adik dari sahabat saya," jawabnya.
Olive semakin tak mengerti.
"Itu akan saya jelaskan nanti saat kita sudah sampai dirumah masing masing, kita bisa membahasnya lain kali. Untuk sekarang, kita harus keluar dari sini!" Ucapnya tegas.
Olive dan yang lain mengangguk.
"Jeje! Dia terluka, Maria celakain dia. Sekarang lagi sembunyi sama Ajel dan Win." Ungkap Jaerim.
Olive tersedak, "Apa!" Tentu dia tak menyangka, "Gimana bisa! Sekarang mereka dimana?" Olive sangat khawatir sekaligus paniked.
Mereka semua segera menemui Win dan yang lain, perasaan Olive seketika terbayang masa masa indahnya bersama teman temannya itu.
"Hikss … Gimana bisa sih?" Isaknya.
"Gue jelasin nanti Liv. Sekarang kita harus temuin Win sama yang lain, abis tuh kita balik."
Olive mengangguk dengab perkataan Jaerim. "Makasi Jae." Ujarnya.
Jaerim deg degan. Ini pertama kalinya dia berkomunimasi dengan Olive. Hatinya berbunga, ia sangat bahagia dengan momend ini.
Singkat waktu, Olive dan yang lain berhasil menemui Win dan temannya yang lain. Terlihat Jeje yang menggigil pucat dan Win serta Ajel yang menangisi Jeje yang belum sadar juga.
"Win!"
Olive memanggilnya dan memeluknya erat, Win terkejut bukan main. Dia memeluk erat balik Olive sambil tertawa tidak jelas. Sepertinya dia sama sekali tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Olive.
"Liv? Lo selamet? Dari mana aja lo hah! Lo tahu kita semua khawatir sama lo!" Isak Win memeluk gadis itu.
"Sorry Win. Gue akan jelasin itu nanti, sekarang kita balik ya?" Ucap Olive padanya.
"Liv …" Panggil Ajel menangis melihatnya.
Olive menatap Ajel. Olive segera berhambur memeluk sahabatnya itu, dibalas pelukan hangat juga dari Ajel.
"Gue kangen lo Liv. Hikss … Gue kangen," isak Ajel memeluk sahabat perempuannya itu.
"Gue juga kangen lo, Jel." Sahut Olive. Mereka melepaskan pelukan.
Olive melihat ke arah Jeje. Sahabatnya sudah tidak tahan lagi, dia butub pertolongan. Asisten Tum si Dave segera menggendong Jeje dan membawanya kaluar.
"Ayok cepat! Kita harus cepat pergi dari sini, teman kalian kayaknya sudah lemah sekali," ujar Tum diangguki yang lain.