Friendzone

Friendzone
Episode. 35. Flash Back



Olive dan yang lain berjalan pulang, tak ada percakapan. Win seperti biasa menggandeng lengan gadis nya itu possesive. Trauma akan kehilangan Olive, Win menjadi orang yang tak mau melepasnya saat ini.


Olive sendiri nyaman digandeng pria itu. Jaerim melihat hal itu jujur cemburu, tapi dia lebih tertarik dengan tatapan Tum pada mereka berdua.


Tum seakan menatap keduanya penuh rencana, senyum tipis itu selalu Jae lihat saat pria itu menatap Win dan Olive.


"Mencurigakan," gumam Jaerim.


Singkat waktu, mereka semua kembali ke air terjun sebelumnya. Tum dan asistennya itu yang sibuk menggendong Jeje menembus air terjun tersebut.


Singkat waktu, mereka keluar dari goa tersebut. Seperti yang sudah di duga, diluar sana sudah ada anak buah Tum dan yang lainnya.


Mereka semua terkejut, karena Maria ada disana. Berdiri sambil menatap mereka khawatir. Ajel menghampiri segera Maria dan …


'BUGH!'


Satu pukulan mendarat dipipi wanita jadi-jadian itu.


"Hey!" Teriak Maria sakit.


"Anjing lo! Sialan, biadab lo bencong!" Maki Ajel.


No, itu hanya ilusi Ajel saat itu. Nyatanya tidak ada siapa siapa disana. Mereka berjalan cepat mengimbangi satu sama lain dan segera bergegas pulang.


Akhirnya …


Dibawah kaki gunung, semua reporter ada disana. Wartawan bahkan media tv lainnya yang sedang memberitakan mereka.


"Segera masik ke mobil!" Titah Tum pelan.


Semuanya menurut, asisten Tum memasukan Jeje ke dalam 1 mobil alvard bersama teman temannya dan juga Tum. Tidak, kecuali Tum. Asistennya itu mengkode supir itu, untuk mengantarkan mereka.


"Antar mereka ke rumah sakit, tangani dan obati!" Ucap Dave pada si supir yang mengiyakan.


Olive kebingungan, "Kalian mau kemana?" Tanyanya. Pasalnya, Tum dan Dava tak ikut bersama mereka.


Tum tersenyum.


"Kami ada urusan sebentar, kalian pergilah ke rumah sakit. Kami akan menyusul," ujar Tum.


Olive menggelengkan kepalanya tak mau, "Lo juga pasti luka kan? Secara kalian nolongin kami dan jauh jauh ngedaki buat nemuin kami semua."


Tum sekali lagi hanya tersenyum lalu menghela nafas, "Tenang aja, aku harus jelasin ke reporter tv dulu. Mereka pasti shol liat kalian turun gunung setelah berbulan bulan hilang," jawab Tum.


Pintu mobil ditutup oleh Dave. Mobil mereka membawa mereka pergi untuk pulang menemui keluarga, sedangkan Tum ditemani asistennya harus menjelaskan pada media masa.


"Selamat malam pak! Dengan siapa kami berbicara?"


"Apa hubungan anda dengan mereka?"


"Dari mana anda dan kapan anda bisa bertemu mereka?"


"Apa kalian yang menemukan mereka?"


"Bagaimana caranya kalian bertahan hidup?"


"Pak-"


Banyak pertanyaan para reporter menyerbu Tum dan Dave. Tum hanya tersenyum dan membiarkan asisten pribadinya itu menjelaskan. Setelah lama berlalu, mereka memutuskan untuk pergi juga dan menyusul Olive dan kawan kawan.


**


10 hari kemudian, mereka semua sudah bersekolah kembali dan menjalani rutinitas seperti biasanya. Jeje juga sudah siuman dan masih dirawat dirumah. Hanya saja, sepertinya hanya Olive yang masih bingung.


Dikantin kelas, dia hanya diam dan banyak bersuara. Berbeda dengan Ajel dan Win yang yang kini semakin akrab dengan Elisa serta Jaerim. Mereka sekarang sudah menjadi teman dekat, tapi tidak dengan Maria.


Entah kemana orang itu, setelah saling menjelaskan semuanya mereka pun akhirnya mengerti. Jika Maria bukanlah siswa ataupun siswi disekolah mereka dan merupakan penyusup.


Sedangkan Pak Pedrik? Nasib dan kabarnya mereka tak tahu, mereka tak perduli. Terpenting, mereka sudah selamat dan bisa hidup dengan nyaman.


"Gue ngerasa banyak banget kejanggalan pas waktu itu, beruntung kita semua selamat, alhamdulillah." Ucap Ajel.


"Iya, alhamdulillah." Sahut Jaerim.


"Btw, disini lo doang yang belum ceritain pengalaman lo waktu itu, Liv." Ucap Ajel pada Olive yang sedari tadi hanya menyimak.


Olive tersenyum canggung. Ia masih ragu harus menceritakannya apa tidak, sebab ia yakin pasti mereka akan hanya menganggapnya halu atau ilusi saja.


"Gue gak inget, inget inget gue tenggelam terus keseret arus abis tuh sadar sadar udah ditepi danau lagi."


Ajel menatap sahabatnya itu, curiga. Masa iya?


"Serius lo?" Tanya Ajel memicingkan tatapannya.


Olive memutar bola matanya malas, lalu menggeplak bahu sahabatnya itu, "Iyalah, peak lo!"


Win terkekeh manis melihat Olive. Asal kalian tahu, sekarang Olive merasakan ada kecanggungan diantara mereka.


Walau begitu, mereka tetap bahagia dan tertawa bersama. Olive yang merasakan kenyamanan masing masing diantara mereka, merasa sangat bersyukur. Ia sangat bahagia mendapat teman sebaik mereka, apalagi perjuangan Win yang kekeh mencarinya disaat hujan akan datang.


"Pulang sekolah nanti kita jenguk adel lo ya Jel." Kata Elisa.


Jaerim berdehem, "Jenguk apa mau apel, lo?" Sindir Jaerim bercanda.


Elisa menekuk alisnya, "Apa si? Gak jelas," ucapnya menghindari pertanyaan itu.


"Halahh bilang aja lo suka sama si Jeje. Iya kan?" Goda Jaerim lagi.


Elisa yang merasa terpojok kan, terlihat kaku dan pipinya yang berubah rona merah. Artinya iya kan? Semua meledek Elisa.


**


Jam olahraga, Olive bermain Voly. Hanya saja dia tengah istirahat dan duduk ditepi lapang. Sedang asik dia meneguk air mineralnya, Win datang dengan menyodorkan sapu tangan.


Olive berhenti minum, dia mengambil sapu tangan itu dan mengelap keringat diwajahnya, "Makasi."


Win berdehem, dia menggeser duduknya dan merapat dengan Olive. "Kenapa lo?" Tanya Olive heran.


"Liv. Gue boleh tanya gak?" Tanyanya.


"Itu lo nanya," jawab Olive.


Win cengengesan.


"Gue mau tanya, cowok type idaman lo kayak gimana si?" Tanya Win sambil sok jaim.


Olive menekuk alisnya tak mengerti, type idaman? Cowok? Ahh … Gadis itu baru menyadarinya. Sahabatnya itu mulai sudah berani menunjukan rasa suka.


"Gak ada," Olive singkat.


Win terbengong, "Yakin?"


Olive pun mengangguk.


"Terus, sekerang lo lagi deket sama siapa?" Tanya Win.


"Gak ada, tapi kayaknya bakal ada."


"Siapa!"


Olive menatap Win. Tiba tiba saja ia harus menutup telinganya sebelah saat Win berteriak didepan telinganya. Orang orang sempat melirik sekilas ke arah mereka, itu karena suara Win yang bass.


"Santai, oke?" Ujar Olive dibalas ouh yang kaku oleh Win.


"Si-Siapa? Lo lagi suka sama orang?" Win bertanya.


Olive menggeleng. Dia memanyunkan bibirnya, sambil mengetuk dagu dengan jarinya gemas. Win greget, ingin sekali mengigit pipi berbisi dan berkilau itu.


"Dia ganteng, tinggi, tapi gengsian dan ngebosenin."


'Deg'


Apa itu dirinya? Win berbatin keras. Dia overthinking siapa orang itu.


"Oliiiiivee …" Rengek Win tiba tiba.


Olive terkejut, ada apa dengan orang ini? Memeluk tiba tiba, "Kenala lo?"


Win menangkup dua pipi gadis itu dengan tangannya, wajahnya ditekuk sambil menatap ke kedua retina gadis itu dalam.


"Janji, gak boleh pacaran sama siapapun!" Rengeknya lagi.


Olive menyatukan dia alisnya heran, "Lho kok gitu?"


"Pokoknya gak boleh!" Rengeknya lagi.


Olive diam diam tertawa dalam hati, dia melepas tangan Win dari pipinya lalu bangkit dan berjalan pergi tanpa pamit.


"Eh eh? Olive! Lo mau kemana? Gue langi ngomong serius woi!" Teriak Win memanggil teman perempuannya itu.


Olive tak menoleh dan pura pura tak mendengar. Dia berjalan terus tak menggubris Win sama sekali. Kelinci bongsor itu bangkit dan berlari ke arah Olive yang pergi.


"Olivee!" Panggil Win mengejar gadis itu.


"Olive!"


Win mencekal pergelangan tangan gadis itu, menariknya sampai mereka saling berhadapan dan bertatapan. Olive membuang mukanya gugup, sedangkan Win tampak gelisah dengan sikap gadis itu yang baru ia ketahui.


"Kok lo pergi sih? Gue lagi serius," ujar Win tak suka.


"Udahlah ih, lo gak usah ikutin gue terus. Gue lagi bad mood."


Win menggelengkan kepalanya tegas, kedua tangannya dilipat di dada. Dia pikir gampang menyuruh Win? Tidak sama sekali perguso.


"Lo lupa ya? Gue itu penyandang zodiak Aquarius. Semakin lo larang, semakin gue gencar ngelanggar!" Ungkap Win.


Olive memutarkan bola matanya malas, dia menatap Win bosan. Pada akhirnya dia tahu akhir ceritanya.


"Terserah!"


Olive pergi. Win melepas lipatan tangannya dari dada. Dia menunjuk Olive yang pergi.


"Lho, Olive!" Panggil Win mengejar gadis itu.


Singkat waktu, sepulang sekolah. Olive menghindari Win yang terus mengikutinya, sampai dia harus bersembunyi dulu di ruang loker olahraga sekolah. Disana dia celengak celinguk didekat jendela, berharap Win tak menemukannya.


"Hahh syukurlah …"


Olive berjalan mendekati loker miliknya, nomor 22. Dia mengambil kunci dan membukanya, disana banyak sekali barang dia yang sengaja ia simpan disana sudah sangat lama.


Olive mengambil handphone lamanya yang telah lama hilang, "Kok? Hp lama gue adalagi sih disini? Bukannya ilang pas camping?" Gumam Olive meraba dan mengecek hp itu.


Saat hendak dinyalakan, ternyata batrainya kosong. Dan dirinya harus mencharger itu sesampainya dirumah nanti.


Tapi ada yang aneh, Olive mencoba mengingat ngingat kejadian dulu, "Apa gue lupa sesuatu?" Pikir Olive.


Dihalte bus, sudah banyak bis yang Olive abaikan. Sampai jam 07. 00 malam dia masih berdiam diri disana sambil terduduk manis.


"Kok gue gak inget apa apa lagi ya? Duh," Olive menjitak kepalanya sendiri yang gampang lupa.


Dari depan, sebuah mobil turun. Olive mendongak, keluar seorang laki laki yang Olive kenali.


"Kak Tum?"


Ya, semenjak kejadian itu dia suka menyebut pria itu dengan embel embel kak.


"Hi Olive! Udah malem, gak pulang?" Tanyanya lalu menghampiri gadis itu.


Olive menggeleng, "Niatnya iya, tapi lagi pw aja duduk disini," jawab Olive tersenyum.


"Ouhh … Mau aku anterin gak?" Tawaran Tum.


Olive berpikir sejenak, enak juga. Mobil mewah, antar ke rumah jadi tidak perlu mengeluarkan biaya lagi. Dengan cepat Olive tersenyum mengangguk, Tum balas tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


"Ayok!" Ajaknya.


Olive menerima jabatan itu, dia berdiri dibantu Tum. Tapi, sesuatu mengalihkan pokusnya. Tanpa sengaja, Olive melihat gelang hitam dipergelangan tangan pria itu.


"Gelangnya bagus kak," ucap Olive tanpa curiga.


Tum tersenyum kecil, "Iya, gelangnya sudah aku temukan."


Olive terdiam, dia menatap Tum. Sesuatu mengingatkannya, gelang hitam? Olive mengingat kembali, masa dirinya tercebur dan tenggelam didanau.


Flasback …


Saat disisa nafasnya ia pasrah tenggelam semakin dalam ke bawah air danau, tapi sebelum itu ia melihat Maria memakai gelang hitam. Kenapa dia ingat? Karena saat Olive mengangkat tangannya ke atas, saat itu Maria malah memberikan gupaian tangan padanya. Sangat jelas, gelang yang dipakainya itu berwarna hitam.


Flasback of.


Olive menatap Tum. Lalu melihat lagi tangan pria itu, gelang itu … Sama persis dengan gelang yang dipakai Maria.


"Lo!" Olive berjalan mundur.


Tum masih tersenyum sambil memasukan kedua tangannya disaku celana, "Kamu ingat?" Tanya Tum tertawa kecil.