Friendzone

Friendzone
Episode 45. Cewek cantik



Tanggal 31 Desember pagi Ara dan Vian sudah berada di Rumah Ferro mereka sedang duduk di ruang tamu menunggu Ferro bersiap.


" Revan gimana jadi ikut?" Ara berbisik.


" jadi bentar lagi juga nongol.." jawab Vian.


Ditengah keheningan pintu depan terbuka seseorang masuk dengan sebotol kopi ditangan nya berjalan menuju ke arah Ara dan Vian.


" belum siap tuh anak...?" Revan menoleh kearah sekitar lalu ikut duduk.


" yah gitu lah..." Ara tersadar.


" dasar pemalas..." umpet Revan pelan.


Tak lama menunggu Ferro keluar dengan tas besar di punggung nya, serta tangan kanan dan kiri nya memegang tas berukuran sedang.


" yuk... berangkat..!" Ferro bersemangat dan sedikit menahan meringis karena keberatan dengan beban yang dibawanya.


" lu mau pindahan atau camping banyak bener.." Revan bingung.


" yah... malah ngomel bantuin kek.." Ferro protes ke Ara Revan.


" ogah..." Revan bangun mematung sejak menghadap ke arah Ferro.


Dengan rasa iba Revan merampas dengan pelan kedua tas di tangan Ferro lalu pergi keluar.


Cuaca sedikit mendung Revan dibantu Vian memasukkan barang di bagasi mobil sedang kan Ara dan Ferro sudah berada di mobil menunggu.


Perjalanan kini tidak terlalu jauh hanya keluar beberapa pulau meter dari dalam kota mereka akan tiba di sebuah bukit yang menjulang tinggi menghadap kota.


Revan menyetir mobil dengan Vian di samping nya, sedangkan Ferro dan Ara sibuk dengan urusan nya di belakang.


" gimana kalau kita buat api unggun dan pesta BBQ nanti malam menjelang Tahun baru..." usul Ferro.


" ide yang bagus terus diiringi dengan lagu... gua bawa gitar.." tambah Ara.


" besok ngapain lagi.." Ferro bingung.


" jalan jalan ke sekitaran bukit, gua denger disitu ada jalan setapak kecil yang dibuat khusus untuk para pengunjung untuk jalan menikmati pemandangan yang indah.." Ara tampak bersemangat.


" seriusan..." Ferro ikut bersemangat.


" em..." Ara mengangguk.


Di Kursi depan Revan dan Vian hanya menyimak kehebohan Ara dan Ferro pandangan kedua Remaja ini hanya Fokus ke depan tanpa sepatah kata.


perjalanan yang cukup memakan waktu kini mereka telah tiba di sebuah Desa perkampungan tepat di kaki bukit.


mereka memikirkan mobil di lapangan bola dan membayar pakir mobil kepada salah satu pengurus Desa tersebut.


Dan kini melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki Ferro dan Ara berjalan bersisian dengan membawa tas berukuran sedang di pundak nya dan kantong berisikan alat masak.


Sedangkan Revan dan Vian membawa perlengkapan Tenda pemanggang dan kasur tipis di pundak mereka berdua.


Selain mereka berempat ada juga Remaja dari kota lain yang menghabiskan malam Tahun baru di sana.


Sesampainya di atas bukit tampak beberapa puluh meter beberapa tenda sudah terpasang, bahkan ada yang sudah bermalam beberapa hari dari mereka.


" nah di sini lokasi tenda kita..." ucap Vian lalu menurunkan barang bawaannya.


" ah.. cape banget lengan gua rasa udah mau copot..." Ferro terduduk lemas.


" nih...." Revan menyodorkan sebotol air.


" makasih..." Ferro mengambil botol Tersebut lalu segera menengguk nya.


" Nah yang camping banyak kan jadi kita gak perlu takut..." Vian menatap ke arah teman teman nya itu lalu mulai membongkar barang bawaannya.


Revan dan Vian mulai bekerja membangun tenda sedangkan Ferro dan Ara membuatkan makanan siang untuk mereka.


Mereka hanya mendirikan satu tenda berukuran besar cukup menampung 8 - 10 orang tetapi hanya mereka berempat aja yang mendiaminya.


" Vian liat..." Ara menunjukkan gadis gadis yang tengah membangun tenda.


" kenapa...?" Vian bingung.


" sedari tadi gua perhatiin kok cewek semua gak ada anak cowok..." Ara heran.


" biarin aja mungkin mereka memang lagi pengen camping tanpa bawa anak cowok..." ucap Vian tampak masih sibuk mendirikan Tenda yang sedikit lagi selesai.


Tenda yang mereka dirikan pun kini telah rampung berdiri Ferro dan Ara memasukkan barang serta menata nya di dalam tenda.


Dari arah beberapa meter dari mereka tampak gadis gadis tersebut sedikit berdebat kecil dan tenda yang dibangun nya pun tak berdiri.


" Revan..." panggil Ferro.


" ada apa?" Revan yang sedari tadi istirahat kini terbangun.


" lu coba dah tolongin cewek cewek di sana kayaknya mereka sedang ada masalah deh..." ucap Ferro.


" males ah..." Revan rebahan lagi.


" Revan..." Ferro mencubit kaki Revan dan menarik narik cowok tersebut agar cepat bangun.


" iya iya.. nih gua ke sana..." dengan langkah Gontai Revan dengan diikuti Vian menghampiri gadis gadis tersebut.


Revan dan Vian mendekat tampak gadis dengan beranggotakan 4 orang kini tengah terduduk lesu.


" ada yang bisa kami bantu..." Vian yang sedari tadi di belakang Revan kini melangkah mendahului.


" iya.. kenapa?" Vian bertingkah sok keren.


" kami berempat gak ada yg bisa bangun tenda.." ujar gadis yang agak pendek berwajah imut berdiri menjelaskan.


" gak bisa bangun tenda tapi nekat camping, cewek semua lagi.." Revan terheran.


" em... kita semua lagi nyoba tantangan aja sih.." kini cewek berambut sebahu mencari alasan.


Dari hamparan barang bawaan tampak cewek cantik berwajah imut dengan rambut sepinggang tengah memasak air panas duduk termenung menatap ke arah Revan dan Vian.


Ia sedari tadi tidak banyak bicara hanya diam mematung dengan Wajah polos nya yang tampak sangat cantik bahkan Ferro pun kalah cantik nya.


" ok gimana jadi kan mau bantu..." tanya cewe berambut sebahu lagi.


" ok.." Revan dengan singkat.


" eh sebenarnya gue mau kenalan dulu nama gue Kriss" cewek yang berambut sebahu menjulurkan tangan nya.


" gua Nomi..." Menjulurkan tangannya.


" Revan.."


" Vian.."


mereka saling berjabat tangan.


Gadis memiliki badan tinggi mirip dengan polwan pun ikut berjabat tangan." Mega.." menjabat tangan Revan dan Vian.


Gadis terakhir berdiri setelah di panggil oleh teman teman nya, ia berjalan dengan menunduk mendekat dengan rambut panjang yang begitu lebat.


" em... Deva " ucap nya pelan sambil mengulurkan tangannya.


" Reva...?" Revan yang tak mendengar jelas mengkoreksi.


" Deva... " gadis berambut panjang itu pun sedikit tersenyum kala Revan salah mendengar.


Senyuman itu berhasil membuat Revan dan Vian sedikit mematung terpesona dengan kecantikan alami dari gadis yang tengah berdiri didepan mereka tersebut.


" Re... Re.. Revan..." Revan gugup lalu menjabat tangan Deva.


" Vian..." Vian tersenyum.


setelah perkenalan yang singkat kini Revan dan Vian mendirikan tenda baut kelompok Kriss, tak butuh waktu lama bagi mereka menyelesaikan nya.


kini Tenda terpasang dengan baik, Deva mendekat lalu memberikan sebotol air mineral kepada Revan.


" nih..." Deva masih agak malu-malu.


" makasih..." Revan masih memandang wajah Deva yang tertutup rambut.


" jangan liatin aku terus dong, gua malu..." Deva lalu pergi.


Revan memandangi gadis tersebut entah mengapa Revan senyum senyum sendiri melihat tingkah nya.


" naksir yah... masih jomblo loh!" Kriss menyenggol lengan Revan.


" naksir..." Revan hanya tersenyum mendengar kata-kata tersebut.


" samperin gi sana..." paksa Kriss walaupun tampak Kriss juga menyukai Revan tetapi ia orang yang dewasa bisa menyimpan rapat perasaannya Demi pertemanan.


Revan menghampiri Deva yang sedang menikmati pemandangan jauh di depan, hembusan angin yang menyejukkan tubuh menerbangkan rambut Deva yang terurai tampak cantik.


" kok kamu pendiam banget sih..." Revan berdiri bersisian ikut melihat ke arah depan.


" gak juga sih..." protes Deva sedikit tersenyum.


" kenapa kok senyum..." Revan pun Ikut tersenyum.


" habisnya pertanyaan kamu sih... gak jelas.." Ucap Deva dengan nada manja membuat Revan gemes


" gak jelas apa nya..." Revan tersenyum lagi.


" eh... em... kamu emang gak papa disini, nanti cewek Lo marah loh" Deva melihat ke arah Tenda Revan.


Revan ikutan menoleh tampak Ferro yang sedari tadi melihat ke arah mereka kini membuang muka pura pura mengajak Ara ngobrol dan menunjuk ke arah lain.


" gak kami gak pacaran" Revan termenung sejenak karena memang ia dan Ferro belum pacaran.


" seriusan..." Deva sedikit kaget.


" em..." Revan hanya mengangguk.


Deva sedikit tersenyum lalu memandang ke arah depan kembali melihat hamparan bangun kota yang tampak jelas di atas bukit.


" kamu juga kenapa masih jomblo, gua sih gak percaya sebenarnya kenapa cewek secantik dan semanis kamu masih gak punya pacar..." ucap Revan mencoba merayu.


" Dari mana kamu tau..." Deva menoleh.


" Kriss yang kasih tau..." jawab Revan santai.


" ih Kriss.. orang nya memang suka gitu buka buku rahasia orang..." Deva sedikit cemberut.


" hemm... yah udah mau pamit dulu moga cepat dapat pacar..." Revan tertawa lalu berbalik melambaikan tangan nya.


Deva tersenyum dan hampir tertawa dengan cepat ia menutup mulutnya, ia menatap kepergian Revan dengan penuh arti.