Friendzone

Friendzone
Episode 49. Demam



keseruan malam itu begitu terasa Revan dan Vian yang menyediakan kembang api yang di bawa dari rumah pun, kini telah di nyalakan di atas bukit.


Mereka menyaksikan pemandangan langit hitam yang dihiasi letupan kembang api, tak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Kini jam menunjukkan pukul 02:17 suara letupan kembang api kini diganti dengan suara Guntur, angin mulai bertiup kencang hingga dingin malam menebus kulit walaupun sudah menggunakan sweater yang tebal.


Beberapa saat gerimis mulai turun kini mereka kembali ke tenda masing masing, hingga hujan turun dengan begitu lebat nya.


Tenda Revan berada di tanah yang posisinya agak miring dan dikelilingi parit yang cukup dalam hingga membuat saluran air.


Selain di kelilingi parit mereka juga melapisi bagian atas dan samping tenda menggunakan terpal plastik. hingga tenda bagian dalam aman dari terpaan angin dan hujan.


Kilatan petir disertai Guntur yang nyaring menghiasi turun hujan malam itu, Ferro dan Ara telah Baring di atas kasur busa dan bersembunyi di balik selimut yang tebal tidak ada suara sama sekali.


Revan dan Vian yang tengah berjaga takut takut tenda banjir pun duduk ngopi, ditengah tengah hujan deras terdengar suara seseorang teriak memanggil tapi kurang jelas lantaran terhalang hujan deras.


" lu denger gak... kayaknya ada yang minta tolong" ucap Revan kepada Vian.


" denger... kayaknya dari arah sana deh" Vian menunjukan arah tenda kelompok nya Kriss.


Revan dan Vian buru buru membukakan Ritsleting tenda lalu melihat ke arah tenda Kelompok Kriss, memang benar tampak Nomi dan Mega di depan sana melambaikan tangan nya mengisyaratkan terjadi sesuatu.


" gawat mungkin Tenda mereka banjir" Vian langsung ke luar tenda diikuti Revan.


" kenapa?" ucap Vian setelah mendekat.


" Tenda kami basah..." ucap Nomi panik.


" ada apa?" Ara dan Ferro ikut menyusul Revan dan Vian karena mereka mengira sedang terjadi sesuatu.


" tenda kami banjir" Mega yang menjawab.


" kok bisa?" Ara Bingung.


" gak tau tiba tiba air masuk dari samping lalu membasahi sebagian kasur" Nomi sedih.


Sedangkan di dalam tenda Krisis dan Deva memindahkan barang bawaan di dalam.


Revan mengecek di sekeliling tenda rupanya ada kayu yang cukup besar terguling sangkut di parit tersebut dan daun daun kering juga tersangkut sehingga membentuk bendungan membuat air jadi lebih dan mengalir ke arah tenda.


" Hem ini rupanya, ini nih keamanan tenda gak diperiksa" gumam Revan.


" gimana?" ucap Mega setelah Revan kembali dari mengecek.


" sip udah aman, itu hanya sampah yang tersangkut di parit nya" ucap Revan sambil mengusap rambutnya karena hujan.


" terima kasih ya, maaf sudah ngerepotin" Nomi malu.


" ok... gak masalah" Revan tersenyum mengangkat bahu.


" karena sudah aman kami pamit dulu ok" Vian mengacungkan jempolnya.


" iya... terima kasih banyak" Kriss yang baru keluar dari tenda.


" bay.."


Setelah semuanya telah ganti pakaian Ferro dan Ara kembali meringkuk di balik selimutnya karena tubuh mereka semakin dingin karena terkena hujan.


jam menunjukkan 03:44 Ferro mengingau sehingga membuat Ara panik, Revan dan Vian dengan sigap mendekat.


" Kenapa?"Revan panik.


" Gak tau, sepertinya Ferro demam kening dan badannya panas.


" biar aku yang urus " Revan mengambil handuk kecil dalam tas, membasahi menggunakan air lalu meletakkan di dahi Ferro.


Setelah Ferro mulai tenang Revan hendak bangkit dan kembali tidur di depan pintu tenda bersama Vian.


Tangan Revan tiba tiba terasa ada yang menahan" Revan... Revan, Revan jangan pergi, jangan pergi Revan temani aku disini" ucap Ferro lirih ternyata Ia masih mengingau.


Revan menatap ke arah Ara dan Vian meminta saran.


" udah kamu tidur di situ aja. gak papa " Ucap Ara Pelan.


" Rev lu temenin aja, tapi gua udah ngantuk berat ni" Vian sedari tadi pengen tidur karena kecapean.


Revan memandangi wajah Ferro yang tampak cantik saat tertidur." gak kok, gua gak akan pergi jadi kamu tenang dulu yah" Revan mengelus rambut Ferro dengan penuh kasih sayang.


Ara dan Vian kini sudah terlelap tertidur di tempat nya masing masing, Revan yang gak bisa ke mana mana karena di tahan tangan Ferro yang mengingau pun memutuskan tidur di samping nya karena kedinginan Revan masuk dan satu selimut dengan Ferro.


***


Embun pagi membasahi rerumputan suara kicau burung kini telah bersautan, kini cahaya mulai tampak walaupun masih banyak awan hitam menghiasi pagi.


jam menunjukkan pukul 05: 49 Ferro mulai membukakan matanya ia merasa memeluk tubuh seseorang yang terasa hangat, hingga ia merasa nyaman karena kehangatan di tengah tengah dingin nya di pagi hari.


" Revan " ucap Ferro tak bersuara mata nya membulat sempurna. ternyata yang ia peluk adalah Revan.


Ferro belum bergerak atau pun melepas pelukannya, ia masih tertegun melihat wajah Revan yang masih tertidur pelan.


" dibilang ganteng gak juga, tapi kok gua ngerasa gak suka jika Lo dekat dekat cewek lain, tapi" Ferro masih berdebat dengan pikirannya.


Revan mulai mengerakkan badan nya sepertinya ia segera akan membukakan matanya. Ferro yang panik lalu memejamkan kan matanya pura pura masih tertidur.


" em udah pagi" Ucap Revan lirih, lalu menghadap ke samping dan ia merasa Ferro tengah memeluk nya.


Revan dengan sangat pelan mengambil posisi miring lalu menatap wajah Ferro." kok kamu kalau tidur gini lucu juga, beda kalau udah bangun udah kayak emak emak rempong, kalau gua buat salah dikit aja udah bentol bentol nih lengan gua kena lu Cubit" Revan merapikan rambut Ferro serta ia juga memencetnya hidung nya Ferro.


" sialan bilang gua emak emak, lu ngapain sih mencet mencet hidung gau" Ferro mulai kesal." Revan lepasin gak gua susah napas ini" Ferro terus ngomel dalam hatinya ia hanya bisa pasrah lantaran ia masih pura pura tidur.


Setelah cukup lama berfikir Ferro pun dengan sengaja menangkap tangan Revan lalu mengigit nya." sini kembalikan Revan..., kembalikan makan gua" Ferro berbicara lirih pura pura mengigau.


" ah sakit, Ferro lepasin aneh aneh aja sih kelakuan nya pas demam begini" Revan mendegumel.


" rasain emang enak, siapa suruh mencet mencet hidung gua, ye... satu sama" Ferro tersenyum puas dalam hati.


Waktu terus berjalan kini walaupun jam sudah menunjukkan pukul 06;15 pagi tapi matahari belum menampakkan sinarnya lataran awan hitam masih mengumpul di mana mana seakan mau hujan lagi.