Friendzone

Friendzone
Episode 57. Seseorang yang ku kenal



Ferro keluar rumah setelah hari menjelang sore, ia pergi ke rumah Revan seperti biasa ia membuka pagar lalu masuk.


" sore Tante!!" Ferro tersenyum lalu memeluk Hanna yang sedang memasak.


" Ferro kok Uda pulang, Revan mana?" Hanna bingung karena Ferro sudah pulang sedang kan


Revan belum kelihatan.


"Revan belum pulang Tante?"


"Tante gak tau, kan biasanya kalian bareng" Hanna mematikan kompor nya lalu duduk sambil menuangkan segelas air.


"Tadi aku pulang duluan Tante, soalnya aku dianterin" Ferro ikut duduk di kursi.


"sama siapa?"


" tem- teman sekolah Tante" Ferro sedikit gugup.


" kok gak bareng Revan?"


" yah tadi nya sih mau bareng, cuman aku tadi sedikit buru buru ada urusan jadi pulang duluan deh" Ferro beralasan.


"yah sudah, coba kamu hubungi Revan suruh pulang udah sore ni, Tante lanjut masak" Hanna berdiri mengusap rambut Ferro lalu pergi menuju kompor.


***Revan ganteng


Berdering***....


"mana sih ni anak, udah mulai suka kelayapan semenjak gak bareng!!" Gerutu Ferro.


***Revan ganteng


Berdering***....


Ferro berulang ulang kali menekan tombol panggilan tetapi tetap gak ada respon.


Ferro; eh... orang nelpon itu di jawab


Ferro; lu dimana pulang sekarang!!!


Ferro; balas dong!!!


Ferro; kebiasaan yah gak dibalas!!


Ferro;😡🤬😡🤬😡🤬😡🤜🤜🤜


Ferro;🔊🔊🔊 Revan.!!!!


Ferro kesal lalu mematikan handphone nya, mengacak acak rambut nya lantaran kesal Revan tak merespon chat nya.


****


"Em... kepala gua" Revan tersadar walaupun rasa pusing masih terngiang di kepalanya." gua dimana? ini kamar siapa sih" ucap Revan lirih.


Bunyi pintu terbuka perlahan sosok wanita cantik masuk dengan membawa napan berisi air putih, susu, semangkuk bubur dan beberapa buah segar.


"hei.... udah sadar" wanita itu tersenyum ramah.


"kamu! Deva! kok bisa?" Revan mengucek matanya memastikan.


" hei Rev!!! gimana keadaan mu sekarang Udah mendingan" Deva setelah meletakkan napan di atas meja lalu duduk di pinggiran kasur.


Revan dengan susah payahnya untuk duduk lantaran masih lemes, Deva dengan sigap membantu Revan duduk bersandar.


"ok!! thanks "


Suasana sedikit canggung saat mereka tak sengaja beradu mata, Deva lalu mengambil napan dan meletakkan di atas kasur.


"nih makan dulu!!" Deva menawarkan.


" kok lu tau gua lapar?" Revan bingung kini Perut nya benar benar keroncongan.


" tau dong, lu sih mengigau nya teriak minta makan sama Ferro, hayo lu jadian yah sama Ferro" ucap Deva menggoda sedangkan Revan menahan malu lantaran ia tak sadar jika memang ia memanggil nama Ferro.


" sembarangan siapa juga yang jadian" Revan mulai melirik makanan di atas napan.


" gua gak sengaja liat handphone lu, Ferro nyariin tuh" ucap Deva. Revan dengan sigap meraih handphone nya di samping kasur.


Revan melihat sekilas lalu meletakkan Handphone nya di atas kasur, Tampa semangat ia berusaha meraih sendok yang berada di atas bubur.


"sini biar gua bantu" Deva dengan sigap mengambil alih sendok lalu menyendokan sesendok bubur meniupkan lalu mengarahkan ke mulut Revan


Revan lalu lalu melamun melihat ke arah Deva sosok wanita tercantik, putih wajah bersih natural. paras yang imut dengan rambut panjang diikat.


Refleks Revan terkejut dengan cepat ia menyadarkan dirinya" sorry sorry... gua gu- a... mata gua kelilipan" Revan lalu mengucek mata nya.


" ha ha ha... kamu kok lucu banget sih, ayok dong dimakan" Deva kembali menyodorkan sesendok bubur.


Revan mengangguk lalu menerima suapan bubur tersebut dengan mata terus memandang paras cantik Deva.


"gimana? enak" Deva menunggu jawaban dari Revan.


"enak.." Revan mengangguk angguk.


"nih lagi" Deva kembali menyodorkan sesendok lagi.


Revan dengan patuh terus menerima suap demi sesuap bubur dari Deva, Revan hanya terdiam seperti seorang anak kecil yang sedang di suapin ibunya.


Tak terasa bubur di mangkuk pun habis Revan menengguk segelas air putih, kini Perut nya terasa begitu kenyang.


"em gua balik yah.." Revan membukakan selimutnya hendak beranjak turun dari kasur.


"eh.. tunggu dulu.. badan kamu masih lemes, istirahat aja dulu gak papa" Deva refleks menahan Revan entah ada apa dengan perasaan nya, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Revan.


" tapi, gua gak enakan! orang tua Lo nanti pulang kerja liatin anak nya bawa sembarangan cowok masuk dalam rumah. nanti mereka mikir yang tidak tidak" Revan khawatir.


" mereka gak ada disini, lagian ini rumah biasa dipakai kalau mau liburan aja. nyokap bokap gue lagi di luar negeri. mereka jarang ada di rumah" ujar Deva meletakkan napan di atas meja lalu duduk lagi di atas kasur.


Revan menatap seksama raut wajah Deva yang cantik putih bersih, tetapi ditekuk murung saat menyinggung masalah orang tua nya. seakan akan memperlihatkan sosok seseorang yang kesepian dan tanpa kehangatan dalam keluarga.


Jam menunjukkan pukul 19:23 Revan merasa tubuhnya sudah kembali seger, ia turun dari tempat tidur lalu pergi keluar kamar.


Revan keluar tampak ruang tamu yang luas dan seseorang wanita cantik sedang duduk di atas sofa dengan pandangan fokus ke laptop di pangkuan nya.


" lagi sibuk ya.." Revan berjalan mendekat.


" gimana udah mendingan" Deva beranjak meletakkan laptop di atas meja.


" iya dong gue udah strong lagi" ucap Revan sambil tersenyum.


Revan duduk tepat di sisi Deva jarak yang begitu dekat membuat degup jantung Deva bertambah kencang ia sedikit gugup lalu dengan cepat menetralkan diri.


"Rev aku lapar, kita makan di luar yuk!" ajak Deva.


" tapi gua mau pamitan pulang?" Revan jadi bimbang.


" apa pulang.." Deva sedikit manyun" yah udah pulang aja, nanti juga aku bisa kok sendiri walaupun aku kurang tau daerah sini" Deva beralasan. entah kenapa sikapnya seperti tampak anggun secara signifikan jadi manja.


Revan jadi gak enak hati dengan Deva niat Revan ingin pulang takut mama nya khawatir, tetapi ia juga berutang Budi dengan Deva hari ini.


" ok kita keluar, aku kasi liat makanan kesukaan dan terfavorit di kota ini" ujar Revan pedahal tempat ia maksud adalah cafe favorit ia dan Ferro waktu keluar bersama.


Revan mengirimkan pesan ke mama nya ia juga mengirimkan pesan ke Vian untuk menitipkan motor nya dirumah untuk sementara waktu.


Revan dan Deva pergi mengendarai mobil dengan Revan sebagai sopir Deva kali ini, suasana malam begitu tenang saat mereka melewati kompleks perumahan berbeda saat keluar kompleks jalan begitu ramai.


Maklum suasana pada malam weekend akan selalu ramai. taman, restoran, tempat hiburan selalu padat pengunjung.


Revan memarkirkan mobilnya dengan mulus di sebuah cafe yang luas dan jarak meja berjauhan dihiasi lampu taman serta instrumen musik dan percikan air pancuran yang bernuansa di alam.


Membuat suasana cafe jadi lebih tenang dan cocok buat orang orang yang tidak menyukai kebisingan.


" nah gimana? adem kan" Revan duduk di atas kursi baru dengan meja bundar di depan nya.


" em... tenang" Deva menatap ke area sekitar.


" lu mau pesan apa?" Revan menyodorkan menu.


" karena aku laper banget jadi" Deva memperhatikan menu" kamu mau pesan apa?" Deva menoleh ke arah Revan. lalu memanggil pelayan.


Seorang waiters cantik dengan berjalan menuju meja mereka dengan tersenyum manis dan sopan.


" gua nasi goreng aja pedes sama es teh" ujar Revan.


" itu aja?" Deva kembali melihat menu" aku nasi goreng pedes, jamur bawang crispy, daging oseng sambel mercon, sate cumi minum nya air mineral sama avocado coffee Udah ini aja mba" Deva tersenyum.


Waiters itu tersenyum setelah mencatat semua nya ia pun berlalu pergi.


Sambil menunggu pesanan Revan ingin membalas pesan watshApp dari Ferro yang belum ia balas.


Tetapi setelah mengingat kejadian tadi siang Revan pun mengurung niat nya. tak lama berselang pesan mereka pun datang Revan dan Deva menikmati hidangan tersebut.


Diselingi canda gurau membuat mood Revan kembali Deva juga malu malu saat Di tanya soal pacar. Deva hanya tersenyum malu lantaran ia belum pernah pacaran.


Obrolan mereka semakin akrab hingga tak terasa mereka makan hingga kekenyangan.