
Olive hendak melanjutkan perjalanan. Tapi, matanya tak sengaja melihat penindasan. Di tepi sana terdapat seorang ibu yang terpojok lemas dengan raut wajah kesakitan didampingi seorang anak perempuan yang menangis, disampingnya ada beberapa orang laki laki berpakaian aneh. Oh tidak, semua pakaian mereka memang aneh.
"Woi!!"
Olive berteriak sekencang mungkin menghentikan aksi para penjahat itu saat sedang menendang nendang tubuh wanita paruh baya tersebut.
Semua orang yang mendengar menoleh kaget, tidak menyangka ada yang berani meneriaki orang orang tersebut. Olive segera menghampiri mereka semua.
"Apa yang terjadi? Kalian gak apa apa?" Olive membantu ibu tersebut berdiri.
"T-tidak nak," jawabnya.
"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak punya adab pada orang yang lebih tua!" Teriak Olive menatap orang orang jahat tersebut.
"Memangnya siapa berani menentang kami, disini mereka yang salah karena tidak membayar pajak. Salah kan mereka saja bukan kami!" Jawab salah satu pria berotot paling depan.
"Tapi, setidaknya lo punya sopan santun sama orang tua!"
"Orang orang seperti mereka memang pantas diperlakukan seperti itu, agar tidak meresahkan warga kerajaan."
'Tunggu, warga kerajaan? Artinya benar gue ... Terjebak ... Di ... Masa ... Lalu? Sial!' Batin Olive.
"Cih, lo gak punya muka? Gak ada kerajaan yang menindas rakyatnya kayak ini," Olive mendelik.
"Sebaiknya kau tak perlu ikut campur, ini adalah perintah dari sang raja. Jika ada yang tidak mau membayar pajak artinya orang itu menerima segala resikonya," ujar mereka.
"Dasar bodoh! Raja apa yang memerintah seenaknya menindas rakyat. Asal kalian tahu, tidak akan ada raja bila rakyat pergi. Apa kalian semua ingin rakyat disini pindah ke negri lain dan membuat negeri kalian kekurangan penduduk?" Olive tak habis pikir dengan jaman yang ia tinggali sekarang.
"Hey bocah! Jaga nada bicaramu! Kau ingin mati karena menghina raja?"
"Kalian lah yang harus menjaga bicara. Kami rakyat adalah raja sesungguhnya. Beritahu raja kalian, jika masih ingin bertahta maka hargai lah rakyat nya, kami rakyat bisa saja menyerang negeri sendiri bila rajanya beralih profesi menjadi musuh," Olive menarik kerah baju orang orang tersebut.
"Lepaskan bocah sialan, akan ku pastikan kau menarik kembali ucapanmu. Ayok! Kita melaporkan kejadian ini ke menteri perpajakan," sahut orang orang itu lalu pergi meninggalkan kami semua.
Olive menoleh dan menatap kedua insan tersebut lalu menggeleng. Ia tak takut bila harus dibunuh karena kebenaran.
"Nenek dan cucu nenek gak perlu khawatir tentang saya, saya bisa mengatasinya nanti. Ini, jual lah ke pedagang perhiasan, lalu uang nya bisa kalian pakai untuk membayar pajak serta makanan beberapa hari," Olive melepaskan cincin yang ia pakai, cincin yang diberikan Win saat ulang tahunnya yang ke 15 tahun.
"Terimakasih nak, kami berhutang banyak padamu," ucap sang nenek.
"Tidak perlu berterimakasih, saya senang bisa membantu nenek. Tapi, nek," Olive menjeda perkataannya.
"Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya sang nenek.
"Bukan apa apa, saya ingin menanyakan gedung megah yang ada di sekitar sini, saya kebetulan ada perlu dengan gedung itu."
"Gedung kuno? Gedung yang mana nak? Setahu saya ada ratusan gedung diistana. Beri tahu saja namanya, akan saya antar kesana," sang nenek menatap Olive kebingungan.
"Euuuu saya gak tahu pasti namanya, saya hanya ingin kesana," Olive ngawur.
"Nenek tidak tahu itu, tapi nenek sarankan jangan ke istana saat ini. Saat saat seperti ini biasanya pegawai istana sangat sibuk. Temui merema saat petang. Bagaimana besok nenek antar cucu?" Nenek itu mengira jika Olive hendak menemui kerabatnya di istana.
"Terimakasih nek, tapi saya bingung harus tinggal dimana jika aku harus menemuinya besok," Olive tersenyum canggung.
"Kamu gak perlu khawatir, tinggalah di gubuk kami, setidaknya untuk malam ini saja. Tak baik jika gadis secantik kamu berkeliaran seorang diri," Nenek menasihati.
"Beneran Nek? Apa gak merepotkan nenek dan cucu nenek?" Olive senang.
"Tentu saja kami tidak pernah merasa direpotkan. Justru kami sangat senang bila kamu mau bermalam di gubuk kami," Nenek tersenyum.
"Iya kak, tinggal lah malam ini dirumah kami. Nanti Mayang antar kakak ke istana besok sore," ucap anak kecil itu bernama Mayang.
"Terimakasih Nek, Mayang." Olive tersenyum senang, akhirnya dia menemukan orang yang bisa dia percayai