Friendzone

Friendzone
Episode. 32. Jembatan Kayu



Mereka semua kabur dari sana, tenda sudah terbakar tanpa diperlihatkan karena apa. Jaerim menggendong Jeje dipunggungnya berlari bersama yang lain. Dilebatnya pepohonan hutan, mereka semua berlari tanpa arah. Dibelakang banyak anak buah Pal Pedrik mengejarnya sambik menodongkan senjata tajam seperti golok dan curilit.


Win berteriak sambil berlari, "Barat!"


Mereka semua mengerti, maksudnya adalah pergi ke arah berlawanam. Itu adalah strategi mereka, jika mengucap barat artinya pergilah ke timur. Dan sebaliknya.


'Brugh!'


Elisa tersandung batu kecil, dia jatuh. Kalinya terkilir, Ajel yang melihat wanita itu terjatuh berhenti berlari. Dia melirik Win dan yang lain sudah pergi duluan, sedangkan dia masih bimbang harus menolong Elisa atau membiarkannya.


"Jel, tolongin gue!" Teriak Elisa.


Ajel mendengar itu terpaksa menolong gadis itu, menghampirinya dan membantunya bangkit.


"Cari mereka! Habisi dan jangan sisakan satupun!"


Mereka panik setelah mendengar teriakan Pedrik yang mengintrupsi bawahannya untuk memcari mereka.


"Jel!" Panggil Elisa panik.


Ajel. "Duh anjir, kita harus cepet lari. Lo bisa jalan gak?" Tanya Ajel.


Elisa meringis sambil menatap kakinya yang terkilir, "Enggak Jel. Kaki gue sakit banget," isak Elisa yang sudah pasrah.


Ajel melirik teman temannya yang sudah pergi jauh, melihat Elisa yang tidak bisa bangkit apalagi berlari terpaksa menggedongnya.


"Cepet naik ke punggung gue! Kita harus cepet lari," titah Ajel.


Elisa menggeleng.


"Cepetan! Lo mati hah!" Kesal Ajel.


Dibentak laki laki itu justru Elisa malah semakin tidak mau, Ajel semakin kesal dan jengkel. Hendak memaksanya naik, tapi tangannya malah ditepis sampai dia tersungkur ke tanah.


Kesabarah Ajel sudah habis, gadis itu malah menangis menghindarinya.


"Anjing lo!" Umpat Ajel dengan kasar menggedong Elisa ala brydall stille.


"Lepas Je!" Teriak Elisa.


Ajel tak mendengarkan dan menggendong Elisa kewalahan sambil berlari menyusul teman temannya. Elisa yang tak sengaja melihat anak buah Pak Pesrik sebagian sudah menyurul cepat, dia sangat panik.


"Je, mereka dateng Je mereka dateng!" Panik Elisa.


"Gue tahu, lo diem!" Suruh Jeje yang sudah muak.


Sedangkan Win dan Ajel malah terhenti, mereka berhenti tepat di depan danau yang luas.


"Gimana ini Win? Kita terjebak!" Panik Jaerim.


Win pun sama paniknya, dia melihat sekitar tak ada jalan lain. Jika kembali ke belakang, sama saja mereka bunuh diri.


"Gue juga gak tahu Jae. Kita kejebak, sial!" Umpat Win meremas rambutnya prustasi.


Ajel dan Elisa muncul, Ajel ngos ngosan sambil menggendong Elisa. Win terkejut, "Kenapa sama si Elisa?"


"Dia jatuh, kakinya ke kilir. Ki-" Belum sempat Ajel melanjutkan omongannya, laki laki itu memasang wajah prustasi dan putus asa.


"Danau? Kita harus lari kemana lagi!" Paniknya.


"Gue juga bingung Jel. Saudara lo udah pingsan, gue khawatir," sahut Jaerim melirik Jeje digendongannya.


Sempat beberapa detik mereka berpikir, pikiran mereka melayang sama sama buntu. Sampai terdengar suara anak buah Pedrik.


"Terpaksa kita harus nyelam sampai seberang danau sana," ucap Win pada mereka.


Jaerim nampak tidak setuju, "Lo yakin? Tapi gue sama Ajel gendong orang, bobotnya gak akan bisa ngapung buat berenang sampe sana."


"Iya Win. Kita gak mungkin berenang sampe ke seberang sana. Kita bakal mati tenggelam!" Ucap Ajel.


"Cukup!"


Win sekali lagi meremas rambutnya pristasi, "Kita gak ada pilihan lain. Kalian mau kita dibantai mereka hah?" Ucap Win.


Mereka memejam mata putus asa.


'Dorr!'


Hening, suara tembakan itu terdengar. Mereka semua panik.


"Suara pistol! Mereka bawa pistol?" Jaerim makin waspada.


"Gak mungkin, gak mungkin mereka bawa pistol," sanggah Ajel.


"Tapi tembahan itu …" Jaerim.


Beberapa waktu berlalu tak lama …


Rupanya Win dan Ajel serta Jaerim dan juga Elisa bersembunyi dibawah tanah kering tepian danau. Ada tempat kosong disana dan tak terlalu lembab.


"Lo yakin kita bakal aman?" Bisik Jaerim.


Win mengangguk.


"Tapi, sampe sekarang kita gak denger suara mereka lagi," ucap Jaerim.


"Udah, gak usah dibahas. Yang penting, kita bisa sembunyi dengan selamat. El, gimana kaki lo?" Win.


Elisa menyahut dengan tersenyum menggeleng, "Kaki gue udah enakan gue pijet barusan, tapi Jeje …" Elisa melirik Jeje.


Win menatap Ajel yang sedih meratapi saudaranya. Dia mengobari luka Jeje seadanya, dengan dedaunan herbal yang kebetulan ada disekitar danau itu.


Ajel mengusut pilek dan tangisannya dengan bajunya sendiri. Tak tega melihat saudara kembarnya masih pingsan.


"Jel, gimana?" Ucap Win pelan padan sahabatnya itu.


"Hikss … Udah gue obatin, beruntung tusukan pisaunya gak terlalu dalem, jadi masih bisa gue cegah pendarahannya. Cuman si Jeje belum bisa sadar," isak Ajel.


Win mengusap bahu sahabatnya itu, "Jangan nangis Jel. Kita bakal bawa Jeje keluar dari sini," ucap Win diangguki singkat oleh Ajel.


**


"Apa ini serius pasar kota?" Tanya Olive pada anak kecil disampingnya.


"Iya kak, ramai. Aku sebelumnya cuman pernah sekali kesini pas sama nenek dan paman. Tapi gak pernah sendiri," jawab Mayang.


Olive begitu ter wah melongo melihat keindahan dekorasi rumah rumah kayu yang antik dan menarik. Di tambah pasar yang menurutnya sangat kuno dan masih banyak kemenarikan lainnya.


Dia dan Mayang menyurusi pasar, Mayang menuntunnya melewati ramainya sekumpulan orang orang berpakaian kuno.


'Bugh!'


Seseorang menabrakan diri pada Olive. Gadis itu hampir saja terjatuh, beruntung seseorang menahan tubuhnya.


"Ahh terimasih."


"Lain kali hati hati, Nonna."


Olive menegakan tubuhnya lagi, orang yang menolongnya pergi. Sungguh malu, dia melirik orang yang menabraknya barusan sudah berlari pergi.


"Kakak tidak papa?" Tanya Mayang.


Olive melirik gadis kecil itu, "Gak papa kok," sahut Olive.


Mereka berdua lanjut berjalan, kebetulan melewati kembatan kayu yang terlihat sangat kokoh. Namun, jembatan kayu itu sangat mengerikan, dimana tidak ada penyangga disamping kanan maupun kiri.


Sedangkan jalurnya pun cukup panjang, di bawah jembatan itu ada air sungai yang begitu deras mengalir. Di tepiannya juga terlihat banyak gadis tengah bermain air.


"Mayang."


"Ya, kak?"


Olive tiba tiba saja berhenti ditengah jembatan, melihat sikap Olive yang seperti itu, anak kecil itu seperti orang khawatir.


"Kak, sebaiknya kita jalan dulu sampai ujung jembatan. Mayang takut jatuh," ucap Mayang sambil sesekali melihat kebawah.


Tak bisa anak sekecil itu membayangkan, jika mereka berdua harus diam ditengah jembatan dengan cuaca angin besar, bisa jatuh mereka.


"Kak!" Panggil Mayang lagi karena Olive tak menyahut.


Olive melirik Mayang. "Kayaknya kakak hilang sesuatu deh," ucapnya.


"Hilang?" Ulang anak itu.


Olive mengangguk, "Gelang hitam kakak, kayaknya jatuh tadi dipasar," ungkapnya baru menyadari.


"Oh mungkin orang yang tadi menabrak kakak gak sengaja ngait ke gelang kakak terus kelepas, kalau gitu Mayang balik lagi ke pasar yah. Kakak tunggu aja di ujung jembatan sana," ujar Mayang.


Olive menggeleng.


"Kakak ikut!"


"Enggak usah kak. Nanti kakak repot, biar Mayang aja. Mayang udah tahu gimana padetnya pasar, badan Mayang kan kecil."


Olive terdiam sejenak, benar juga.


"Yaudah kakak kesana, Mayang balik ke pasar dulu. Nanti pasti ada paman Jasung keliatan dari sana, dia dagang di dekat gerbang halaman istana."


Olive mengangguk, "Hati hati, Mayang!"