
Jam Beker tidak berbunyi seperti biasanya itu sengaja di matikan Revan saat dia terbangun kembali di tengah malam.
Suara burung burung mulai bernyanyi di pepohonan menadahkan pagi telah tiba.
Revan terbangun lebih awal dari biasanya ia menatap lekat wajah wanita disampingnya sudah lama sekali mereka tidak tidur bersama.
Revan tersenyum sendiri melihat wajah lucu Ferro yang masih tampak terlelap, Revan menyisihkan rambut Ferro yang menutupi wajahnya lalu menowel pelan hidung mancung.
" Dasar kucing pemalas!! "
Revan tersenyum lalu menyalakan ponsel nya menunjukkan pukul 05:47 pagi, ia bangun dari tempat tidur dengan hati hati taku menimbulkan suara lalu pergi ke luar kamar.
" hari apa ini, perasaan gak ada hari besar di kalender!! "
Hanna sedikit tersenyum saat melihat Revan sudah turun dari kamar sepagi ini.
" apaan sih mah, biasa aja kali "
Revan menuangkan air kedalam gelas nya lalu duduk melihat sekilas mama Hanna sedang memasak.
" papah belum bangun mah? "
" walaupun anaknya suka kesiangan tetapi bukan berarti papa nya juga gitu ha ha...! "
Yonathan tiba tiba muncul dari pintu belakang berjalan mendekat lalu ikut duduk sambil menuangkan segelas air.
" Dari mana pah? Masih pagi "
" habis nyiram sayuran di belakang"
" sayuran? "
" ha ha ha mah lihat anak kamu, masa di rumah sendiri dia tidak tahu kalau ada tanaman di belakang "
Yonathan menggelengkan kepalanya tertawa melihat tingkah polos Revan.
Revan tidak tahu kalau selama ini papa nya menanam sayuran di belakang, petasan saja mama Hanna jarang membeli sayuran di pasar.
" gimana keadaan mu, kata mama kamu semalam demam"
" udah mendingan sih "
" ingat jangan suka keluyuran, apa lagi bikin orang rumah khawatir lihat Ferro sampai khawatir sama kamu "
Yonathan sedikit menasehati Revan karena ia juga jarang di rumah jadi ia hanya tau cerita dari istri nya.
" iya pah "
Revan kembali naik ke atas untuk mandi, Ferro kembali ke rumah nya untuk mandi bersiap siap untuk berangkat ke sekolah dan kembali ke rumah Revan untuk sarapan bersama.
" Lo gak di jemput sama Rio? "
Ada nada gak suka saat Revan menyebutkan nama Rio, tetapi ia juga tidak bisa memaksa hati.
" gak tadi dia sempat beri pesan katanya dia pagi ini ada urusan "
" oh "
" jadi gimana utang kita, lu mau bayar kapan "
" utang apaan dah? "
Revan bingung.
" Et.. Lo udah berani gak balas chat, buat orang rumah khawatir dan lain lain jadi Lo punya utang minta maaf, sebagai kompensasi nya Lo harus traktir gua apa pun sampai sepuasnya baru aku maafin Lo, gimana udah jelaskan sekarang!! "
" dasar yang suka buat keputusan sendiri "
Semprot Revan Terus melajukan motornya, sedangkan Ferro tersenyum puas lalu memeluk Revan dengan erat.
Di sekolah sebuah mobil berhenti di parkiran dengan mulus, Rio keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu mobil sebelah kiri.
Cewek cantik keluar dengan Super Feminim dan anggun membuat orang yang memandang nya mengira itu adalah selebritis.
" Rio aku belum tahu kelas ku jadi, kamu harus temenin aku yah "
" gak bisa Mita, gua masih ada urusan! "
" ih Rio mah gitu! kamu kok udah berubah banget sih..."
" Mita.. Uptss..... Ok aku temenin kamu"
Rio sebenarnya kesal tetapi ia juga tidak bisa begitu tega melihat Mita seperti itu, yang membuat nya kembali ke ingat ke ingat ke masa lalu.
Rio dan Mita berjalan bersisian membuat sepasang mata menatap iri ke arah mereka yang tampak sangat serasi.
Mita menyukai orang yang menatap nya seperti itu karena bagi nya ini semacam pujian bagi dirinya dan kebanggaan bagi nya.
" Ferro...!!! "
Teriak Ara lalu mendekati Ferro yang baru saja turun dari atas motor sedangkan Revan sedikit kaget.
" ada apaan sih pagi pagi begini udah ngegas...!!"
" kabar Bu-"
Ara menatap ke arah Revan lalu dengan cepat ia menetralkan kepanikannya.
" kenapa sih kok jadi aneh gini "
Revan seperti biasa melepaskan pengait helm Ferro, sedangkan Ferro masih sibuk ngomong dengan Ara.
Mereka menuju toilet Wanita lalu Ara menarik Ferro ke sudut ruangan.
" ada apa? "
"Rio..!! "
" kenapa Rio? "
Hal pertama yang dipikirkan Ferro saat mendengar ucapan Ara dengan ekspresi panik membuat nya berfikir ada yang tak beres.
" Dia bawa cewek cantik mereka jalan berdua nempel banget !! "
suara Ara sebenarnya pelan tetapi penuh dengan penekanan.
" apa!! "
Ferro Teringat pesan Rio tadi pagi kalau dia ada urusan " jadi Rio "
Ferro mengepal erat jari nya dengan ekspresi rumit ia berbalik pergi.
" eh... Fer mau kemana!!! "
Ara mengejar Ferro sedangkan Ferro berjalan dengan penuh emosi.
Mereka mencari di seluruh lorong sekolah kantin dan akhirnya ketemu.
Rio dan Mita baru keluar dari kantor guru dan hendak menuju kantin.
" Rio...!! "
Ferro hampir menangis lalu berjalan mendekat.
" Ferro!! Maaf belum sempat memberi tahu mu ! "
" beri tahu apa? "
Ferro semakin emosi dengan menahan air mata ia berdiri tegak menatap lurus ke arah Rio dan Mita.
" sebenarnya-"
" oh jadi kamu yang pacar nya Rio "
Kini Mita yang maju menghalangi Ferro.
" kamu siapa? "
Sorotan mata Ferro tak kalah tajam sedangkan Ara menarik tangan Ferro agar tak ribut.
" Ferro dia-"
" Aku pacar nya Rio !! "
Mita dengan cepat memotong ucapan Rio lalu tersenyum sinis ke arah Ferro.
" Mita..." Rio meneriakinya lalu menatap ke arah Ferro " ini gak seperti yang kamu pikirkan, ini semua salah paham!! "
Ferro meneteskan air mata nya lalu menatap ke arah Mita yang Terus menerus menghalangi Rio.
" Dasar cewek gatal!!"
Nada Ferro sedikit meninggi Mita membulatkan matanya seakan akan kata kata ini sebuah penghinaan bagi nya dengan marah ia mengangkat tangan nya lalu mengayunkan ke arah pipi Ferro.
" mulut kotor!!!"
" Mita!!!!"
Ferro menunduk pasrah terpejam tak sempat mengelak sedangkan Ara terkejut ikutan terpejam.
Suasana hening Ferro terdiam tampa suara, tak ada rasa sakit yang ia terima.
Dengan pelan Ferro mengangkat kembali kepalanya dan tampak tangan seseorang menahan tamparan dari Mita.
" Re- Revan...!!! "
" Hem... Buru buru pergi mau berkelahi yah "
Revan menatap ke arah Ferro yang masih shock dan membeku di belakang nya, lalu berbalik menatap ke arah Mita.
" heh sekali lagi Lo menggunakan tangan ini memukul Ferro jangan salahkan gua untuk membuat tangan ini tak berguna!! "
Revan menghempaskan tangan Mita dengan kasar menatap dengan senyuman tipis ke arah Rio lalu berbalik menatap Ferro.
" kan sudah ku bilang jangan suka berkeliaran jauh dari gua, dasar kucing Nakal "
Revan menjitak pelan kening Ferro lalu marik nya pergi meninggalkan Rio dan Mita.
Rio terdiam Mita juga terdiam menatap Revan yang tampak ganas dan menakutkan.
Setelah sedikit hening Rio menarik Mita pergi dan mengomeli nya sepanjang jalan menuju kelas. Ternyata mereka satu kelas.