
Seorang gadis cantik baru saja keluar dari bandara rambut sebahu dengan gaya super feminim.
Berjalan sambil memegang ponsel kepala mencari kesana kesini seperti sedang mencari seseorang.
" Mita...!! "
Gadis tersebut menoleh ke arah sumber suara tampak Seorang pemuda berjalan mendekat lalu tersenyum menyapa.
" hey apa kabar..!! "
" Rio...!! "
Mita hendak memeluk Rio akan tetapi Rio seketika menghindar.
" kenapa!! "
" gak... Papa Maaf!! "
Raut wajah Mita jadi berubah sedih ia lalu menunduk kan kepalanya dengan perasaan kecewa.
" hey jangan sedih, ok aku salah aku minta maaf.."
Dengan lembut Rio memeluk Mita dan di bales dengan pelukan sangat erat.
" aku kangen!! "
" aku juga.."
Sebuah mobil melaju meninggalkan bandara suasana jalan raya tidak terlalu ramai tetapi dua hati yang sudah lama terpisah kini bertemu kembali.
" mau kemana dulu!! "
Rio membuka obrolan tampak ia sedikit gugup, entah apa yang sedang di pikirkan nya.
" em aku mau makan dulu, kamu temenin aku yah "
" em ok! "
Tak lama mobil berbelok memarkirkan di sebuah cafe pengunjung tidak terlalu ramai Rio dan Mita memilih duduk di meja pojokan yang posisi nya tidak terlalu ramai.
" aku duluan ke sana yah, kamu pesan aja "
Rio melangkah terlebih dahulu menunggu Mita . Mesan makanan untuk mereka.
Setelah selesai Mita menyusul Rio dan duduk berhadapan dengan Rio yang tampak masih canggung.
" ada apa, jika ada yang mau di tanyakan tanya aja? "
Mita seakan tau apa yang sedang di dalam pikiran Rio.
" satu tahun yang lalu kenapa kamu hilang kontak dan tidak berkabar? "
Rio menatap ke arah mata Mita lalu menunduk ia seperti sedang merasa ingin tahu dengan alasan Mita.
" Rio... Aku minta maaf, aku salah, tapi sekarang aku sadar perasaan kamu ke aku itu tulus, maafin aku Rio aku terlambat untuk mengetahui nya "
Suara Mita sedikit serak dengan mata mulai berlinang air mata kini ia mulai menangis.
" Kita sudah bersahabat tiga tahun, lalu terpisah karena kamu memutuskan melanjutkan pendidikan mu di luar kota, aku dengan sabar menunggu dan akhirnya tak ada kabar dari mu "
Rio meremas jemarinya ia mengatakan semua hal yang ia alami dan ia rasakan saat putus kontak dan tak pernah mendengar kabar tetang Mita lagi.
Saat ia menutup hati nya rapat rapat dan mulai kembali membukakan hati untuk yang lain, Mita datang di saat yang tidak tepat.
Dan hanya mengucapkan minta maaf itu yang membuat Rio merasakan sakit teramat sakit.
Suasana menjadi hening mereka berdua saling merenung terdiam sepi saat pelayanan datang mengantarkan makan mereka hanya tersenyum dan mengangguk kepada pelayan tersebut.
" besok aku mulai sekolah di mana tempat kamu sekarang "
Mita mulai membuka suara " aku sengaja sebelum kembali aku mencari di mana kamu bersekolah dan dimana tempat tinggal mu "
" tapi kenapa? "
" aku ingin hubungan kita bisa kembali seperti dulu lagi Rio, aku kangen masa masa kita masih bersama "
" tapi semua itu sudah terlambat MIT ! "
Rio berbicara Tampa menoleh" gua sudah punya pacar dan sekarang aku sudah terlanjur jatuh cinta sama dia walaupun-" Rio tak melanjutkan ucapan nya.
" walaupun apa? "
" gak, intinya aku akan berusaha menjaga jarak mulai dari sekarang maaf "
Setelah dari cafe Rio mengantar Mita pulang di tempat baru nya, yang jarak dari rumah nya ke sekolah hanya 10 menit dan malahan searah.
" Besok jemput aku ok! "
Mita memohon belum keluar dari mobil, menoleh ke arah Rio yang sedang menatap ke arah nya.
" gak bisa MIT.."
" Rio..."
Ekspresi Mita jadi sedikit kecewa menatap Rio berkaca kaca hendak meneteskan air mata.
" makasih...! "
Mita mencium pipi Rio lalu bergegas keluar mobil dengan perasaan senang ia pun melabaikan tangan nya saat mobil mulai meninggalkan rumah nya.
*****
" Revan..."
Ferro geram lantaran Revan sengaja tidak mau makan, ia dengan berbagai cara membujuk Revan tetap mau makan.
" ok aku menyerah sekarang apa mau mu biar kamu bisa makan lalu minum obat"
Ferro pasrah untuk meladeni Revan, ia memilih duduk di sisi kasur untuk meminta negosiasi dengan Revan.
" gak pokoknya gua gak mau makan sama minum obat ok ! "
" Revan..."
" aku setujui semua permintaan mu!! "
" seriusan!! "
" tapi jangan yang macem macem..! "
Ferro melotot ke arah Revan seakan ia menebak isi pikiran Revan dengan menyetujui semua yang dia minta.
" tangan gua sedikit lemas jadi gak bisa makan sendiri jadi-"
" iya gua tau "
Ferro lalu mendekat dengan sepiring makanan menyuap Revan dengan perhatian seperti seorang ibu sedang merawat anaknya.
Revan menatap Ferro dengan lekat, setiap sendokan Revan hanya diam dan patuh saking terpesona nya.
" Mata Lo bisa aja kali liatin gua kayak gitu ! "
Semprot Ferro lantaran Ia jadi salting di liatin Revan,
Revan gugup lalu membuang muka hampir terbatuk dengan sigap ia mengambil air minum yang ada di atas napan.
" udah, gua udah kenyang "
" minum obat dulu..."
" gak gak mau..."
Revan lalu merebahkan tubuhnya dengan menarik selimut nya kembali.
" heh gua udah Nurut yah sama perintah Lo..."
" gak gak cukup..."
" apa!! "
" kecuali!! Kamu pijit dulu ni kaki sama tangan punggung gua ni pegel pegel..."
" what..."
Meletakkan napan di atas meja dengan kasar serta raut wajah geram tetapi tetap gemes dan lucu.
" yah udah gak mau juga gua gak maksain keles"
Ferro menahan emosi lalu dengan napas berat ia pun mulai memijit kaki Revan ada senyum puas Revan yang di sembunyikan di balik selimutnya.
Ferro dengan sabar meladeni Revan dan hingga Revan mendengkur dan tak ada suara lagi.
" sialan... Malah enak enakan tidur!! "
" Ih..."
Waktu memijit Revan ia selalu menguap mata nya beberapa kali merasakan kantuk yang teramat berat, hingga ia pun tak sanggup lagi memijit lalu ikutan tertidur di sebelah Revan.
Tengah malam pintu didorong pelan Mama Hanna tersenyum melihat tingkah ke dua anak nya itu, Revan tertidur dengan posisi telungkup di balik selimutnya sedangkan Ferro yang kelelahan terbaring di samping nya meringkuk kedinginan lantaran Revan yang menyelimuti dirinya sendiri.
Dengan pelan Mama Hanna menyelimuti Ferro dengan selimut yang lain.
" anak nakal" menowel punggung Revan pelan.
" kamu semakin cantik ya sayang, kalian berdua ini sama persis seperti 10 tahun yang lalu masih sama sama gak berubah"
Hanna tersenyum berjalan pelan mematikan lampu lalu menutup pintu depan pelan.
Malam semakin larut suara jangkrik ikut menghiasi suasana nya larut malam, Sekali kali Ferro mengigau memanggil manggil nama Revan.
Suara yang tak lantang tetapi berhasil membuat Revan terbangun, ia sedikit terkejut melihat dengan samar samar wajah Ferro yang terlihat cantik.
Lampu tidur yang tidak terlalu terang menapakkan wajah putih bersih nya, dengan mulut komat kamit memanggil nama Revan walaupun ada beberapa kata yang tak jelas membuat Revan berusaha menahan senyum.
Revan terjaga lalu berbagi selimut dengan Ferro karena selimut yang ia pakai kurang tebal untuk melindungi nya dari dingin nya malam.
Revan kembali ngantuk lalu tertidur di dengan menghadap ke arah Ferro yang masih tertidur pulas.