Friendzone

Friendzone
Episode 70. kejutan



Bulan demi bulan telah berlalu hari ini merupakan hari terakhir ujian, suasana kelas sangat berat para peserta ujian sibuk dengan kertas masing-masing.


Ferro terlihat kesulitannya menjawab beberapa soal sehingga membuat nya sedikit frustasi mengingat menjawab satu soal yang sulit sedikit memakan waktu.


Di ruangan berbeda Revan tapak acuh tak acuh dengan jawaban yang sulit bahkan waktu baru berjalan tiga puluh Menit ia sudah menjawab hampir separuh.


Waktu terus berjalan keadaan kelas semakin rusuh saat waktu ujian tersisa sepuluh menit, para siswa yang menginginkan nilai yang lebih napak terlihat sangat panik menjawab soal bekejar dengan waktu.


Revan sudah selesai lebih dari setengah jam yang lalu, ia tampak kini sudah keluar kelas bersantai di kantin kelas.


Sebenarnya ia ingin menunggu di depan ruang ujian Ferro akan tetapi Revan paham Ferro pasti keluar di menit terakhir jadi ia memutuskan alam menemaninya saat ujian berakhir.


Bel berbunyi menandakan waktu ujian berakhir banyak dari para siswa siswi rusuh merapikan lebar jawaban dan kertas ujiannya bahkan di waktu terakhir masih ada yang menjawab dengan terburu buru.


Setelah selesai ujian para siswa siswi berhamburan keluar ruangan, Ferro tampak tertunduk lesu setelah menyelesaikan ujiannya.


Sebuah botol air dingin menempel di pipinya sontak ia menoleh melihat Revan tersenyum dengan wajah konyol nya.


" Sepertinya suasana hati tuan putri kali ini sedang tidak baik! ada apakah gerangan? " tanya Revan dengan gayanya.


Ferro meninju baju Revan pelan" gak lucu.." Ferro menerima air dingin nya lalu meneguk beberapa kali " aku sedikit terburu buru di menit terakhir hingga lima soal gua jawab asal asalan " Ferro ingin menangis.


" penyesalan para anak anak pintar " Revan bergumam.


" apaan sih..." sorotan mata Ferro sangat mengerikan.


" gini aja deh, gua traktir Lo kita pergi ke suatu tempat. Gimana? " Revan menghadang jalan Ferro.


" kamu pergi sendiri aja deh, gua beneran lagi gak mood " Ferro tak memperdulikan Revan lalu berjalan kembali.


" heh.. Ayok lah " Revan mengikuti Ferro Terus memohon.


" enggak... "


" terus kalau gua pergi sendiri Lo pulang dengan siapa? "


" taxi!! "


Mereka berpisah Revan buru buru pergi ke parkiran sedangkan Ferro pergi ke gerbang sekolah menunggu taxi.


Saat taxi hampir mendekat Revan terlebih dahulu berhenti di depan Ferro " cepat naik!!! " Ferro sempat ragu " iya kita langsung pulang gak kemana mana" Revan kembali menegaskan.


Ferro tersenyum lalu menurut naik di belakang motor kini melaju dengan mulus meninggalkan area sekolah.


****


Sore harinya Revan di ajak ngumpul sama anggota gang nya di sebuah cafe.


Revan awalnya Engan untuk pergi cuman lantaran gak enakan hingga ia pun mau tak mau ikut pergi.


Revan menuruni anak tangga mendapati Ferro sedang bersama Mama nya sedang asyik membuka buka Foto lama.


" mah Revan keluar sebentar dulu yah" Revan malas untuk kepo urusan ke dua wanita tersebut.


" Mauk kemana? Ferro kok gak di ajak" Mama nya melihat ke arah Revan.


" ini urusan laki laki mah, di tongkrongan pada anak laki laki semua " ujar Revan lagian iya juga malas mengajak Ferro ikut serta ia takut teman teman nya akan menggoda Ferro.


Ferro sedikit kepo kemana Revan pergi bahkan Raut wajahnya sedikit kesal lantaran Revan tak ada niat sedikit pun mengajaknya pergi.


" yah udah pulang jangan terlalu malam ok.." Mama Hanna kembali ngobrol dengan Ferro sedangkan Revan sudah keluar rumah.


***


Di sebuah cafe Revan dan semua anggota geng nya sedang berkumpul merayakan hari berakhirnya ujian Nasional.


" gila nih liat cewek Lo cantik banget dah " Riski memperlihatkan sosok Leo dan seseorang cewek sedang foto dengan memegang sebuah boneka.


" ni seriusan cewek Lo " tanya salah satu dari antara mereka.


" iya.. Mantep banget cuy "


" ini Foto kapan sih, gua gak pernah sih liat Lo bawa cewek"


" ngapain gua bawa dia ntar yang ada Lo Lo pada bukannya ngobrol ntar pikiran dan matanya pada traveling semua lagi " Leo menuangkan minuman nya ke dalam gelas " ini Poto pas gua kasi surprise ulang tahun nya dia "


" cewek Lo ulang tahun kok gak ngundang kami sih " Vian jadi ikut nyeletuk.


" ntar gua bawa Lo, yang ada Lo malah minder Lo kan jomblo " ucapan mereka memang terdengar pedas tetapi ini bukan hal negatif bagi mereka melainkan sebuah candaan dan Vian pun gak menganggap serius malahan ia tertawa di ikuti teman teman nya yang lain.


" kurang asem lu... ha ha ha " Vian tertawa.


Revan jadi teringat sesuatu ia lalu bangkit berdiri lalu pamit duluan ada urusan mendesak.


Di perjalanan ia mampir ke sebuah toko cake dan bernegosiasi sesuatu dengan pemilik toko hingga sedikit memohon.


Setelah beberapa jam ia kembali ke rumah ia sempat singgah ke beberapa toko lagi setelah dari toko cake


Ferro sedang membaca novel di kamar nya ia sedang sendirian di rumah lantaran kedua orang tua nya dan orang tua Revan katanya sedang menghadiri pernikahan salah satu sahabat nya.


Mereka awalnya mengajak Ferro tetapi bener dengan dugaan mereka pasti Ferro enggan untuk ikut lantaran ia sendiri biasanya ia akan ikut jika Revan ikut jadi ia tak akan sendirian.


Ferro menolak memilih berisitirahat di kamar.


REVAN GANTENG


Panggilan suara masuk...


Ponsel Ferro bergetar Ferro dengan mata yang masih fokus membaca dengan agak malas mengangkat panggilan telpon.


Ferro; ada apa?


Revan; Ferro tolongin gua please... Mama sama papa gua mana sih kok gak ada.


Ferro panik lantaran dari nada suaranya Revan seperti sedang terjadi sesuatu.


Ferro; Lo kenapa?


Revan; kepala gue sakit banget aduh....


Ferro; kepala Lo kenapa? Lo di mana sekarang?


Revan; gua di atap


Ferro: ngapain?


Revan; udah cepetan sumpah gue udah gak tahan sakit banget.


Ferro ; ok ok gua kesana sekarang... Tungguin gua.


Ferro meraih sweater nya lalu berlari ke rumah sebelah, saat menaiki anak tangga jantung nya berdegup kencang serta pikirannya bercampur aduk seperti terjadi sesuatu kepada Revan hingga ia seperti menahan kesakitan.


Saat tiba di pintu dan membukanya sudah banyak lampu di sisi kiri dan kanan dengan karpet merah di tengah serta di ujung terdapat kursi dan meja dengan kue ultah di atasnya.


Balon balon gas pun terikat di beberapa titik sedang melayang tertahan tali.


" HAPPY BIRTHDAY...!!!! "


Senyum Revan berusaha menahan tawa, Ferro syok dan masih terpana dengan semua di hadapannya.


" Revan!!! Ih bikin panik aja Lo ". Ferro berlari mendekat lalu memukul mukul Lengan Revan walaupun tidak kuat.


" cie yang udah tua selamat yah "


Revan menuntut Ferro lalu mereka menyalakan lilin yang berangka delapan belas Revan menyayikan lagu ultah disertai tepuk tangan.


" cepat buat permohonan "


Revan berhenti benyanyi dan dengan cepat Ferro melipatkan tangan nya lalu membuat permohonan.


Revan terpesona dengan kecantikan Ferro yang di terangi cahaya lilin di hadapannya, sungguh wajah yang murni, polos cantik Tampak sedikit senyuman terpancar di raut wajah Revan.