Friendzone

Friendzone
Episode. 31. Pengkhianat



"Ouh iya, apa gue sekalian tanya aja ya?" Pikir Ajel.


Win dan yang Jeje terkekeh kecil, "Saya sama Win gak peduli. Kami tetep bakal cari teman kami sampai ketemu, dan Maria!" Tunjuk Jeje pada Maria.


Maria menaikan alis keduanya bingung, ia menunjuk dirinya sendiri dengan mulut sedikit melongo.


"Lo wajib ikut sama Elisa. Kalian punya tanggung jawab disini!" Tegas Jeje.


Elisa dan Maria terkejut mendengar, tapi Elisa nampak tak papa mendengar penuturan dari Jeje. "Gue tahu, gue bakal ikut kalian walaupun hujan," sahut Elisa.


"Ta-Tapi gue …" Hendak Mari menolak ikut, tapi perkataan Jaerim dan Ajel keburu menyela.


"Gue juga bakal ikut kalian," sahut Jaerim. "Gue punya tanggung jawab sebagai ketua kelas kalian, keselamatan kalian tanggung jawab gue," jelasnya.


"Gue juga, Olive sahabat gue gak mungkin gue ikut. Iya kan Mar?" Sindir Ajel.


Maria melirik pak Pedrik. Tapi sepertinya pria tua itu juga mempertimbangkannya. Tanpa ada alasan lagi, Maria mengangguk. Dia merutuki dirinya sendiri.


Ada apa dengannya? Seperti orang yang gelisah dan khawatir. Ajel melihat itu, ia tampak curiga dengan gerak gerik Maria sekarang.


"Tapi anyway, apa benar ada ular? Sejujurnya, dari awal saya gak merasa ada ekosistem disini. Dari awal hanya ada ikan dan kura kura, bahkan saya tidak melihat hewan lain, selain itu."


"Dan soal itu juga, saya merasa curiga dengan tempat ini. Tempat ini kayak tempat aneh. Kalian ngerasa gak sih?" Tanya Ajel pada teman temannya, "Pas kita masuk sebelum ke goa, cuacanya hujan angin kan? Tapi saat kita keluar lewat jalan lain dari goa, cuacanya tiba tiba cerah bahkan sejuk," jelas Ajel.


Jeje saudaranya membenarkan hal itu, "Iya, gue juga ngerasa kayak gitu Jel. Pak, menurut pak Pedrik apa tempat ini aneh?" Tutur Jeje.


Pak Pedrik melirik mereka satu persatu. Dia menghela nafas pelan lalu melirik air sungai yang mulai naik ke permukaan dan langit yang mendung gelap.


"Saya awalnya juga berpikir sama seperti kalian, tapi lama saya tersesat disini, saya mulai melihat hewan hewan lainnya. Sebenarnya, saya sampai saat ini juga hanya pernah melihat kura kura dan ikan saja," jujur Pak Pedrik.


"Dulu saya …"


Sambil Pak Pedrik bercerita, Ajel mecolek Jaerim yang berada di sebelahnya. Perasaan Jeje merasa disini ada yang mengganjal.


"Kenapa Jel?" Tanya Jaerim pelan.


Ajel melirik Jaerim was was, "Lo ngerasa kan?" Tanya Ajel dan plot twist nya Jaerim juga merasakannya.


Tidak, bukan hanya mereka berdua, tapi Win Jeje dan Elisa juga ikut melirik mereka bergantian. Pak Pedrik merasakan hawa tidak sedap, dia menatap anak anak remaja itu bingung.


"Kenapa? Apa perkataan saya ada yang salah?" Tanya Pak Pedrik menatap mereka.


Ajel dan yang lain melangkah mundur, Ajel berada didepan bersama Jaerim. "Anda berkata hanya pernah melihat kura kura dan ikan saja bukan?" Tanya Ajel.


Pak Pedrik mengangguk dan mengiyakan tanpa tahu.


"Lalu, selama ini anda dan anak buah anda tinggal dimana? Apa kalian-"


Belum sempat Ajel berucap, Pak Pedrik menyela segera, "Hadu, apa kalian mencurigai saya? Kalian salah jika mencurigai saya."


Ajel dan yang lain menekuk kening, "Maksud anda?" Tanya Ajel.


"Kalian pasti mengira kami kanibal bukan? Kami makan teman kami sendiri? Ya ampun, saya dan rekan saya gak mungkin makan saudara kami sendiri," jawab Pak Pedrik sambil terkekeh.


Ajel balas tertawa kecil, "Maaf pak, tapi kami gak sebodoh itu untuk anda tipu. Kami gak pernah lho bertanya apa anda kanibal atau bukan, iya kan?" Ujar Ajel tersenyum curiga.


Pak Pedrik yang tadinya tertawa tiba tiba saja terdiam.


"Orang tersesat mana yang tinggal di gunung dan gak gempar sama sekali, kalau benar anda dan teman teman anda tersesat lamanya, pasti sudah menjadi berita. Dan satu lagi, orang tersesat mana yang rombongan dan punya baju yang ber brand seperti anda?" Ungkap Ajel.


Ajel melirik pakaian casual Pak Pedrik. Outfit dari brand Gucci. Ia tahu, jika pakaian yang dipakai Pak Pedrik adalah outfit yang baru saja diluncurkan 1 bukan lalu dari brand tersebut. Kenapa Ajel tahu? Karena orang tua mereka adalah manager di perusahaan itu. Tentu Ajel dan Jeje tahu semua brand yang akan diluncurkan oleh brand tersebut.


Sedangkan Jeje dan yang lain ikut terkejut apalagi Jeje. Jeje baru menyadarinya disusul teman temannya.


"Kalau benar pak Pedrik tersesat di gunung selama 2 tahun, terus darimana pakaian itu pak?" Tanya Jaerim yang juga memojokan pria tua tersebut.


Pak Pedrik diam, dia kehabisan kata kata. Anak buahnya tiba tiba saja mendekat dan berdiri di belakang punggung pak Pedrik.


Win dan yang lain juga ikut diam, suasana yang awalnya bising kini seketika sunyi dan hanya ada suara ombak sungai dan hujan yang mulai terdengar akan datang dari barat.


"Hahaha …"


Pak Pedrik tertawa keras. Win dan kawan kawan tentu semakin waspada dan bertanya tanya. Setelah itu Elisa memberanikan diri hendak berjalan kedepan, tapi tanpa diduga sesuatu terjadi dibelakangnya.


'SREET!'


"Akkk!"


Jeje merasakan pinggangnya kram. Dia tak lemas sekaligus terkejut disusul teman temannya yang meneriaki nama Jeje.


"JEJE!"


Ajel segera mendorong Maria menjauh sampai tersungkur. Ajel memeluk adiknya panik.


"Je! Lo bertahan Je!" Teriak Ajel menangis.


Win dan yang lain terkejut terkejutnya melihat Jeje teman mereka tersungkur dengan luka tusukan pisau dipinggang. Mereka menatap tajam ke arah Maria yang kini sudah ada disamping Pak Pedrik.


"Lo apain si Jeje, Mar!" Marah Elisa menatap Maria penuh tak suka.


"Tega lo Mar? Lo pengkhianat!" Ungkap Elisa.


Jeje menekan pinggangnya yang terus mengeluarkan darah, teman temannya menghampirinya dengan panik. Jaerim melirik Pak Pedrik dan Maria serta anak buah mereka.


"Maksud kalian apa hah?" Tanya Jaerim kecewa.


Pak Pedrik terkekeh, "Ahahah … Apalagi? Tentu menghabisi kalian," jawab Pak Pedrik.


"Apa!" Elisa tak mengerti, "Lo harus jelasin, Maria. Maksud lo apa nusuk Jeje? Maksud lo apa ini!"


Maria hanya diam, dia seperti bukan dirinya yang ceria dan gemulai. Tatapannya dingin, tangan kirinya masih memegang pisau bekas menusuk Jeje.


"Memangnya apa? Lo gak liat?" Tanya Maria balik.


Teman temannya seakan tak percaya dengan perbuatan Maria. Mereka mengira Maria bukanlah musuh mereka, tapi tanpa disadari ternyata Maria adalah musuh dalam selimut yang membantu orang lain dengan tujuan membunuh mereka semua.


"Jel- uhuk!" Jeje merasakan rasa sakit yang amat linu dan mual di pinggangnya. Ia terkapar di pelukan saudaranya.


"Je, lo bertahan. Gue pastiin lo bakal selamat, kita bakal keluar dari sini," jawab Ajel menenangkan saudaranya.


Sembari Ajel yang sengaja merobek pakaiannya sendiri untuk menutupi luka tusukan di pinggang Jeje. Win dan Jaerim serta Elisa beradu mulut. Elisa masih berdebat soal tidak penting dengan kelakuan Maria barusan. Dan Jaerim yang berbisik dengan Win.


"Win, kita harus kabur," bisiknya.


"Gila lo? Lo gak liat keadaan temen gue gimana? Dia gak akan bisa bertahan apalagi lari dengan keadaannya kayak gini," balas Win dengan pelan.


"Kita harus kabur, kalau gak kita semua bakal abis sama mereka. Jumlah mereka lebih banyak dari kita, mereka punya senjata gue yakin. Sedangkan kita? Pisau satu satunya yang dipake bersihin ikan aja udah diambil sama si bencong itu."


"Tapi-"


"Ini bukan soal teman lagi Win. Soal nyawa!" Sela Jaerim pelan.


Win bingung dan waspada sekaligus, dia menatap ke arah Maria dengan benci. Lalu beralih pada Jeje yang sudah tak berdaya.


"Gimana ini …" Gumamnya.