Friendzone

Friendzone
Episode 51. Revan sakit hati



Beberapa bulan berlalu kini Revan telah menyelesaikan ulangan akhir semester, matahari bersinar begitu cerah.


Hari pertama class meeting suasana sekolah begitu santai, hanya pengurus OSIS dan ketua kelas serta wakil sangat lah sibuk menyiapkan segala perlombaan dan peserta yang ikut serta.


" eh Lo mau ikut lomba apaan?" Revan menyenggol bahu Ferro yang berjalan di sisinya.


" gak ah males mau ikut gituan" Ferro menjawab Santai dengan sekotak sari kacang di tangannya.


" cupu!" Revan meremehkan.


" biarin..." Ferro bejalan sedikit cepat lalu berbelok masuk ke dalam kelas.


Di kelas beberapa siswa sibuk bergosip sedang kan ketua dan wakil kelas sibuk mencatat nama siswa yang mengikuti perlombaan.


" Ferro... oh cantik ku..." teriak Ara lebai.


" em... manis ku" Ferro duduk di bangkunya lalu berpelukan dengan Ara.


Revan yang berada di belakang Ferro pergi menuju bangkunya yang bersampingan dengan Ferro, meletakkan tasnya lalu bersandar dengan malas nya.


" liburan mau ke mana?" ucap Vian yang semeja dengan nya menoleh.


" belum tau, eh nilai ulangan kita gimana?" Revan tersadar panik.


" aman terkendali👌" Vian bangga.


" akhirnya bisa tenang ni selama class meeting" Revan lalu menundukkan wajahnya di meja dengan tangannya menjadi bantal.


" em datang ni malas nya" Ferro yang tau kebiasaan Revan mencebik.


Ditengah Ramai nya kelas membuat Revan hanya bisa memejamkan matanya sementara kuping nya hanya mendengar suara sekitar.


" temen temen... kita dapat undian futsal putra melawan anak anak kelas 3 IPA 1, sementara nama nama yang di panggil harap pemanasan terlebih dahulu sebelum waktu pertandingan di mulai" Hendri sang ketua kelas menyampaikan dengan membawa selebar kertas di tangan nya.


" Fer yuk ke lapangan, gua di kelas aja cape soalnya" Ferro merebahkan dagunya yang disangga tangan sebagai bantal.


Para pemain dari kelas XI IPA 1 bersiap siap sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan, Revan yang termasuk tim inti kini hanya ngotot menjadi pemain cadangan saja entah apa yang membuat nya kurang begitu semangat.


" ayok lah Van, masa baru putaran pertama kita harus langsung kalah sama tuh kelas nya Rio" Vian cemas memaksa Revan untuk main karena Revan merupakan pemain andalan nya di bidang Olahraga.


" aduh gak papa, kalau kita kalah otomatis, kesibukan kita berkurang" Revan dengan malas merebahkan dirinya di sandaran bangku cadangan.


" Rev.." Hem Vian menembus kan napas berat" ok teman teman kita buktikan bawa kelas kita nggak lemah... ayok kumpul kumpul..." Vian menjulurkan tangan nya lalu diikuti teman teman yang lain.


" XI IPA 1 PASTI MENANG!!!" suara Vian dan teman teman menakar semangat.


Dari arah samping bangku STAN tim Revan, Rio dan tim nya membuka sweater tim kelas nya hingga tampak kaos olahraga futsal nya.


Para fans nya Rio bersorak Sorai mendukung tim futsal Rio, bukan hal yang langka Rio merupakan cowok terpopuler di sekolah dan memiliki penggemar di mana mana. satu sekolah tau cowok yang tajir, tampan,.dan sekali gus ketua OSIS merupakan tipe cowok idaman bagi para wanita.


Permainan terus berlangsung kini tim Rio unggul dengan mencetak gol 2:0 kini babak pertama telah berlalu, Vian sangat kelelahan dan semangat teman teman sekelas nya yang berada di pinggir lapangan pun cemas dan membuat mereka jadi tidak bersemangat.


" Rev ayok dong masuk!" Vian membujuk.


" iya tunggu" Revan dengan malas nya.


Babak ke dua akan segera di mulai dari bangku penonton tampak Ferro dan Ara baru datang dengan terburu-buru.


" yah kalah " Ara mecebik.


" udah sabar aja" ucap Ferro dengan sedikit cemas.


" eh liat deh Rio wow ganteng banget,liat dia berkeringat nambah gantengnya..." Ara terus memuji.


" biasa aja keles" Ferro menoyor kening Ara.


" tapi Lo naksir kan" Ara menyipitkan matanya tersenyum.


" Ara.." Ferro menyenggol bahu Ara lalu mereka berdua tersenyum.


Dari bangku cadangan Revan melihat Ferro sedang ngobrol dengan Ara, Tampa diduga Ferro melihat ke arah Revan lalu tersenyum melambaikan tangan nya.


Revan melihat itu tersenyum" Hem... siapa yang lelah, gua yang main" Revan berdiri lalu membuka sweater olahraga tim kelasnya.


menampakan nomor punggung 11 Revan dengan santai memasuki lapangan dengan sekali kali melihat di pinggir lapangan.


Pertandingan di mulai, Revan sebagai Anchor dalam tim mengatur serangan hingga berhasil membuat tim lawan kewalahan.


Revan yang mengiri bola dari daerah pertahanan melewati pemain lawan dengan cepat detik kini semakin cepat berlalu kini tinggal menyaksikan 5 detik Revan semakin dekat dengan posisi kiper.


Rio yang berada tempat di belakang Revan memutuskan melakukan mendorong Revan walaupun itu dikotak pinalti.


Revan yang terdorong pun terjatuh dan wasiat meniupkan peluit tanda pelanggan dan di hadiahi pinalti.


Waktu yang tersisa sangat lah tipis Revan memanfaatkan bola ini dengan benar, keadaan sempat sepi dengan perasaan campur aduk deg degan.


Revan mengambil ancang-ancang dan dengan sedikit keras menendang bola ke arah gawang, sorak Sorai di bangku penonton di kala Revan berhasil membobol gawang lawan dan berhasil membuat Tim Revan mengalahkan tim Rio di babak pertama.


" wow Revan keren.." Vian semangat merangkul Revan diikuti Teman teman yang lain.


Revan menoleh ke arah Ferro lalu tersenyum, Ferro membalas semua Revan lalu tertunduk malu.


banyak dari fans Rio kecewa tapi bukan yang pertama kali tim Revan selalu menjadi tim unggulan di atas lapangan.


selama dua tahun berturut-turut kelas Revan di bidang Olahraga putra selalu menjadi tim unggulan.


Disisi Revan sebagai pemain yang paling di waspadai kecepatan dan skill nya.


Revan merupakan siswa yang berprestasi di bidang olahraga dari pada di bidang akademik.


Setelah berganti pakaian Revan menuju ke kelas untuk meletakkan pakaian ganti serta mengajak Ferro untuk makan di kantin.


Revan, Vian, Edo, dan Gilang berjalan bersisian melihat kerumunan di lapangan saat mereka hendak kembali di kelas, suara heboh sedang mengelilingi dua orang dilapangkan.


" apaan sih rame rame?" Vian menoleh ke arah lapangan dan di ikuti yang lain.


" kepo ah" Gilang, Edo pergi melihat kerumunan disusul Revan dan Vian.


" Terima... Terima.. Terima...." suara kompak dan sorak mendukung dari teman teman di sekeliling nya.


" em... iya gua mau!" Ferro menerima ungkapan cinta dari Rio.


" hu.... "


Wow....


" terima kasih Fer Lo udah balas perasaan gua" Rio langsung memeluk Ferro.


Sorotan mata tajam melihat ke arah Rio dan Ferro dengan gigi mengeram dan tangan yang mengepal bergetar.


"Revan..." Ferro lirih melihat ke arah Revan.


Hendak menahan air mata Revan berbalik lalu pergi menjauh dari kerumunan tanpa sepengetahuan Vian dan yang lain.


Ferro hendak menyusul Revan tetapi Rio yang tak tau apa apa menahan tangan Ferro" hei.. mau kemana" Rio bingung melihat wajah Ferro berubah jadi panik.


" eh enggak, em Rio gua ke kelas dulu yah" Ferro gugup lalu berlalu.


Kerumunan mulai bubur Rio dengan senyuman puas nya kini berjalan dengan santai dengan wajah yang tak berhenti tersenyum.


" wah kalah di pertandingan, tapi menang dalam percintaan ni" Vian hendak mengejek Revan di belakang nya tetapi saat menoleh ia tak melihat Revan" kemana tuh anak?" Vian celingak celinguk melihat ke sekitar.


" gak tau" Gilang dan Edo mengangkat bahu.


Kembali di kelas Ferro tak menemukan Revan dan tas yang bisa nya ada di atas meja pun gak ada kelihatan.


" Ra.. lihat Revan gak?" Ferro panik.


" enggak, kenapa sih kayak orang panik gitu" Ara yang baru masuk tak tau apa yang sedang terjadi.


" gua cari dia dulu" Ferro lalu keluar kelas mencari Revan.


Di belakang sekolah Revan Termenung dengan wajah yang memerah berusaha menahan tangis nya, ia sempat keluar sekolah memanjat tembok untuk membeli sebotol bir dan Rokok yang tak pernah ia sentuh sebelum nya.


Ia mendengar dari teman teman nya kalau mengkonsumsi barang tersebut dapat sedikit meredakan stress.


Ferro mencari ke seluruh lorong kelas dan kantin, bahkan saat bertanya pada Vian dan yang lain gak ada yang melihat Revan.


Ferro Semakin pusing mencari Revan, ia bingung dengan perasaan nya sendiri di satu sisi ia menyukai Rio dan di satu sisi ia merasa ada sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan saat Ia melihat Revan menyaksikan saat Rio menyatakan cintanya pada dirinya.


Entah kenapa Ferro sangat merasa bersalah dan harus menemukan Revan sesegera mungkin walaupun entah apa yang harus ia katakan jika bertemu dengan Revan.