
Pagi telah tiba kini cuaca mendung dan seperti nya akan turun hujan, hembusan angin menerpa kulit begitu sejuk hingga membuat tubuh menggigil.
Revan yang tidur tidak nyenyak semalaman bangun pagi pagi dan sudah keluar untuk sekedar berolahraga.
Ia terduduk lesu di sebuah bangku di bawah pohon di atas bukit kecil, Revan merebahkan tubuhnya di sandaran kursi yang terbuat dari kayu tersebut.
" Hem... " Revan mengembuskan napas berat.
Tampak dari raut wajah nya yang kusut karena kurang tidur ia memandang pemandangan sekitar yang begitu indah tetapi ia sama sekali tidak menikmatinya.
pikiran Revan kosong yang hanya di benaknya hanya lah rasa kecewa yang tak terkatakan.
Revan merasa enggan untuk kembali kerumah Nenek Taro untuk sementara waktu karena ia masih menginginkan untuk sendiri menenangkan pikirannya.
Revan terduduk melamun menatap kosong lurus ke depan dengan wajah sendu bersandar dengan pikiran kosong.
Dirumah Ruangan tamu seperti biasa masih tampak gelap dan para anak anak cowok masih tertidur pulas.
Ferro yang seperti biasanya bangun awal memperhatikan samar samar dari cahaya yang masuk mencari keberadaan seseorang yang tampak tak dilihat nya diantara hamparan.
" Revan kok gak ada...?" Ferro berucap pelan.
Ia mengecek pintu depan tidak terkunci, Ferro pun tau jika Revan pasti sedang keluar.
Ferro pergi menuju dapur untuk sekedar membasuh wajah nya.
" pagi Nenek.. mah... " Ferro tersenyum melihat kedua orang tua yang ia sayangi sedang memasak seperti biasanya.
" udah bangun... gimana tidur nya.." Nenek tersenyum.
" nyenyak kok Nek..." ucap Ferro.
mereka bertiga terus mengobrol cuaca diluar terlihat semakin mendung awan hitam semakin pekat hingga membuat suasana semakin dingin.
Semua anak anak sudah bangun Lili dan Nenek Taro sudah menyiapkan sarapan kini mereka sedang beres beres karena sebentar lagi mereka akan sarapan bersama.
" Revan mana kok dari tadi gak kelihatan..." bisik Ferro pada Vian.
" oh Revan tadinya dia mau bilang keluar sebentar cuman mau lari pagi, gak tau tuh anak tumben bener bangun awal... dari raut wajah nya aja dari semalam kusut banget...." ucap Vian.
" hah... em..." Ferro terdiam.
" nah tu panjang umur tuh anak baru aja dicariin..." Vian menunjuk ke arah Revan yang hendak berganti baju.
" Rev..." Ferro terhenti kala Revan seperti mengabadikan nya.
" Tuh kan kebiasaan tuh anak... dipanggil aja pura pura gak denger..." Vian menggelengkan kepalanya.
Ferro terdiam merasa ada yang aneh dari sikap Revan perasaan baru kemarin mereka tampak sangat akrab.
Setelah berganti pakaian Revan ikut ngumpul bersama yang lain untuk ikut sarapan.
Sarapan pagi ini cukup sepi karena biasanya Suara Revan selalu biasa mengundang gelagat tawa temannya.
Revan tampak seperti tapak acuh tak acuh dengan suasana sekitar ia hanya menatap makanan di piringnya dengan pandangan kosong.
" ehemm... anak anak gimana apa kalian sudah bersiap siap karena habis ini kita sudah beres beres untuk kembali pulang ke rumah masing-masing" Yudi berucap di tengah tengah kesunyian.
" sudah om..."
" iya om udah siap..."
Suara anak anak menjawab tetapi tak lama kembali hening Revan seperti pada semula tidak bergeming sama sekali.
" Kakek dan Nenek pasti merasa kesepian lagi nih.. ha ha... " Kakek Oh tersenyum menatap ke arah anak anak yang tengah duduk melingkar.
" jika ada waktu kami pasti kembali ke sini lagi kok pah..." ucap Lili.
" iya Kek Ferro pasti liburan ke sini lagi kok..." Ferro tersenyum berusaha menghibur Kakeknya.
.
" gua ikut..." Ara Juga ikut menghibur.
Acara sarapan nya terasa berjalan begitu cepat dan kini mereka semua sudah siap untuk kembali ke kota.
Kakek dan Nenek mengantar kembali nya rombongan Yudi dan keluarga yang hendak kembali ke kota.
Rani ikut mengantar melepas kepergian teman teman baru Nya itu walaupun beberapa hari tetapi waktu yang telah di habisin bersama sangat lah terasa berharga.
Di sepanjang perjalanan Ferro terdiam menatap ke arah spion mobil melihat mobil yang di belakang yaitu mobil yang di bawa Revan.
Ia memikirkan Sifat Revan yang seperti nya suka berubah ubah. Ferro tau jika Revan pasti sedang dalam masalah.
Sementara Revan sedari tadi hemat bicara tak seperti biasanya ia selalu menjahili teman teman nya.
Suasana perjalanan kini terasa sepi tidak seperti saat perjalanan awal mula pergi.
Waktu terus berlalu perjalanan yang jauh dengan cuaca yang berubah ubah kadang gerimis dan Rada rada panas serta kini badan pun terasa pegal.
Akhirnya mereka kini sudah sampai di kediaman Yudi dan keluarga. setelah berpamitan mereka semua ingin segera kembali ke rumah masing-masing karena badan yang begitu pegal.
***
Di kamar Revan baru saja mandi dan sudah berganti pakaian, ia berjalan menuju balkon duduk santai berusaha untuk tetap rileks.
Percakapan Ferro dan Ara tadi malam selalu terngiang ngiang di kepala nya.
" Ah... sial...!" Revan menutup wajahnya dengan kedua tangan nya lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
" Ferro lu kok gak pernah peka sih dengan perasaan gue, atau lu memang gak pernah ada perasaan buat gua...!" Revan terus bergeming.
tok... tok ... tok...
" masuk aja gak ke kunci...." teriak Revan.
sosok gadis cantik mengenakan baju sebetis dan celana pendek, kaki yang halus putih melangkah menuju ke arah Revan yang tampak tak memperdulikan kehadirannya.
" Heh... sore sore gini melamun, mikirin apa sih hah..." Ferro terduduk di samping Revan ikut bersandar.
" lu ngapain sih mepet bener..." Revan sedikit mendorong lengan Ferro pelan.
" ih... kasar deh.." Ferro manja pedahal hanya pelan.
" ada apa...?" Revan Tampa basa basi.
" ada apa nya...?" Ferro tanya balik.
" keperluan Lo lah datang ke sini, biasanya kan ada mau aja baru nongol sendiri..." ucap Revan agak malas.
" ih Revan jahat deh, kok nanya kayak gitu..." Ferro bangkit lalu duduk membelakangi Revan.
" iya iya gua minta maaf..." Revan mengalah.
" gak..." Ferro balik marah.
" nih ini nih... liat sini..." Revan berusaha menarik pundak Ferro agar menghadap ke arah nya.
" gak... gak mau...ih Revan..!" Ferro sok sok memberontak berusaha menepis tangan Revan.
" Ferro...." Revan menarik pundak Ferro dengan sedikit kuat.
" ah....!" Ferro yang tak siap lalu berbalik menimpa Revan.
Jarak wajah yang begitu dekat pandangan mata serta hawa napas yang begitu terasa tak beraturan, jantung Revan berdetak begitu kencang.
Ferro terdiam seribu bahasa jantung yang berdetak tak karuan, dengan posisi kini ia menindih tubuh Revan.
suasana cukup hening hingga Ferro dengan cepat bangun lalu terduduk dengan napas yang tak karuan.
" em.... sorry... tadi gua gak sengaja" ucap Revan lalu ikut bangun duduk di samping Ferro.
" iya gua juga salah..." ucap Ferro gugup.
Revan tersenyum dan sedikit tertawa melihat tingkah Ferro yang tampak grogi, wajah Ferro memerah dan terlihat sangat cantik dan lucu.
" ih Revan... kok ketawa, ada apa...." Ferro tersenyum membuang muka.
" gak gak ada... " Revan tersenyum.
Suasana hati Revan seperti sedikit terobati dari pikiran nya semaleman, kini ia seolah sudah lupa dengan kejadian semalam.
Entah mengapa saat Ferro mencarinya Revan merasa akan lupa tentang hal yang tak disukai nya tentang Ferro.
obrolan mereka terus berlanjut hingga malam menjelang. hingga obrolan mereka terhenti sejak saat Hanna datang memberi tahu Revan agar segera keluar kamar untuk mengajak Ferro makan malam bersama.