Friendzone

Friendzone
Episode 52. terima kenyataan



waktu jam pulang telah tiba, sebagai siswa siswi telah meninggal kan lingkungan sekolah.


Ferro mondar-mandir diparkiran samping motor nya Revan.


Sekitar 20 menitan Ferro termenung menunggu sosok yang ditunggu nya, hanya menyisakan dirinya dan beberapa siswa siswi yang masih mempunyai keperluan dengan guru di sekolah.


Ferro menarik napas panjang tertunduk lesu dan dari kejauhan terdengar samar-samar suara langkah kaki mulai mendekat ke arahnya.


" Revan..!" Ferro buru buru menghampiri Revan yang telah mendekati nya.


Tanpa Respon Revan berlalu menaiki motor nya, memasang kan helm lalu menyalakan motor dan bersiap pergi.


Ferro yang melihat hal tersebut sangat terpuku dan sakit hati hendak meneteskan air matanya yang sedari tadi ia tahan.


" mau pulang bareng atau sudah di tunggu pacar Lo" ucap Revan ketus.


Ferro menahan tangis mendekat ke arah Revan naik ke atas motor lalu memasangkan helm nya. sempat ragu memeluk Revan tetapi dengan keberanian ia memeluk Revan dengan erat saat motor malai bergerak pergi keluar dari lingkungan sekolah.


Sepanjang perjalanan keduanya saling membisu, Revan mefokuskan Pasangan nya ke arah depan dengan raut wajah yang seperti sedang menahan amarah.


Setelah sampai di depan rumah, Ferro turun dari atas motor membalikkan badan hendak mengucapkan sesuatu, tetapi terhenti di kala Revan menancap kan gas motor meninggal kan halaman rumah Ferro.


Ferro sedikit bersalah walaupun ia tidak tau apa kesalahannya, Ferro masuk dengan langkah Gontai tak bersemangat menaiki anak tangga menuju kamar nya.


***


Dikamar mandi Revan ingin berteriak sekeras-kerasnya melupakan segala emosi nya, tetapi suara nya ditahan.


" bodoh bodoh bodoh... dasar pengecut.... kenapa Lo gak nembak dia duluan, sekarang gue harus apa...!" Suara Revan pelan tetapi penuh penekanan.


Revan menenangkan diri cukup lama hingga ia merasa sedikit tenang baru lah ia keluar dan berganti pakaian.


Revan duduk bersandar di balkon kamar nya membuka hp nya dan menerima sebuah pesan.


***Ferro


Ferro: Van temuin gua, di taman belakang gua mau ngomongin sesuatu.🙏😔***


Revan sedikit ragu setelah berfikir cukup lama ia pun beranjak pergi.


Di Taman belakang Ferro terduduk di bangku sedang menundukkan kepalanya. dengan jemari menggenggam handphone.


" ada apa?" ucap Revan dengan ketus lalu duduk sedikit berjarak.


" Rev..." Ferro merubah posisi duduk nya menghadap Revan.


" ngomong aja" Revan masih membuang muka.


" kenapa Lo marah sama gua?" ucap Ferro lirih seperti akan menangis.


Revan terdiam dengan mata sedikit berkaca" siapa yang marah?" Revan mencari Alasan.


" terus Lo diam min gua, dan disekolah kenapa Lo seperti menghindari gua?" Ferro mulai terisak.


" itu karena gua gak mau aja, nanti orang pikir macam macam tentang kita, secara kan Lo udah punya pacar" ucap Revan Tampa mampu beratap mata dengan Ferro.


" tapi-" Ferro tak sanggup menahan air matanya, ia menunduk lalu menangis terisak.


Sebuah tantangan melingkar di bahu Ferro sedikit terkejut lalu Ferro merebahkan kepalanya di dada Revan yang sedang memeluknya.


Revan tak tega melihat Ferro menangis ada rasa bersalah yang dalam saat melihat seseorang yang begitu dicintainya menetes kan air mata.


" maafin gue Fer... gua salah " Revan menahan air mata nya berusaha untuk tegar.


angin malam berhembus cukup menyejukkan tubuh, Revan membopong tubuh Ferro berjalan kembali ke rumah.


Di rumah Ferro Papa dan Mama lagi gak ada di rumah karena baru melakukan perjalanan bisnis.


Ferro menoleh dan menerima gelas dari tangan Revan" makasih" Ferro lalu menengguk sedikit.


Revan duduk di samping Ferro lalu menatap sahabatnya tersebut Tampa berkata.


" Lo kenapa liatin gue kayak gitu?" Ferro menoleh kearah Revan.


" gak.. gak papa kok" Revan lalu bersandar.


" Rev Lo marah ya gue jadian sama Rio" Ferro bertanya sedikit ragu.


Revan tersentak sedikit kaget tetapi buru buru menetralkan kembali detak jantungnya " gua.. gua gak marah kok, gua bahagia melihat Lo bisa bahagia" ucap Revan terbata ada sedikit sakit hati saat mengucapkan hal tersebut.


" seriusan...! tapi kok tadi Lo cuek gitu sama gue" Ferro tampak tak percaya.


" Itu gua... gua lagi ada masalah lain" Revan beralasan.


" lu bohong ya?"


Ferro menyipitkan matanya lalu menatap mata Revan sedikit mendekat hingga napas mereka terasa saat berhembus.


" apaan sih.. gak jelas deh" Revan buru buru menjauhkan wajahnya tak sanggup beradu mata dengan Ferro.


Keheningan sejenak di antara mereka berdua, Revan terus berfikir di dalam lamunan nya hingga ia sedikit tersentak kaget saat Ferro menarik wajahnya mendekat lalu dengan mata saling menatap.


Revan menahan degupan jantung nya yang berdegup tak karuan dengan napas sedikit berusaha di netral.


" Van gua harap persahabatan kita terus berjalan sebagaimana mestinya, gua ingin kita biasa bisa seperti dulu. walaupun..." Kalimat Ferro sedikit menggantung menundukkan wajahnya.


" gua tau kok, jangan dijelasin... gua mengerti dan gua pasti ada sebagai sahabat Lo" Revan berusaha tersenyum walaupun ingin sekali ia menangis saat mengucapkan kata kata nya.


" Van.." Ferro lalu memeluk Revan dengan sangat erat" terima kasih selalu ada buat gua" Ferro memejamkan matanya hanyut dalam sandaran pelukannya.


Di luar rumah suasana semakin dingin oleh hembusan angin malam , namun suasana di ruang tamu begitu hangat karena sepasang sahabat yang saling memberikan kehangatan.


***


Pagi yang cerah Ferro keluar membukakan pagar rumah dengan memakai seragam sekolah seperti biasa ia akan menunggu Revan di depan rumah.


Ia telah siap untuk berangkat sekolah, saat keluar ia sedikit terkejut melihat seseorang telah menunggunya dengan bersandar di mobil.


" hai cantik... udah siap!" Rio menghampiri Ferro.


" Rio... em... kamu ngapain ke sini pagi begini" Ferro canggung.


" ngapain!, yah jemput kamu dong sayang" Rio membelai rambut Ferro.


Saat adegan tersebut berpapasan dengan Revan yang baru saja keluar melewati pagar rumah nya.


melihat adegan romantis tersebut membuat ia berusaha untuk menahan cemburu.


" hai Revan...!" sapa Rio lalu merangkul lengan Ferro.


" mau ikut bareng " Rio tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya menunjukkan ke arah mobilnya.


" Hem..." Revan tersenyum melihat ke arah Rio lalu beralih pandangan nya ke arah Ferro" gua duluan yah, sampai ke temu di sekolah" Revan berusaha tersenyum lalu menancapkan gas motor nya meninggal kan halaman rumah nya membelah jalanan menuju sekolah.


Ferro menatap kepergian Revan sedikit tak enakan seumur-umur sekolah ia selalu barengan dengan Revan, tetapi ia tidak bisa menolak ajakan Rio lantaran karena status mereka sekarang pacaran.


walaupun ada kesenangan tersendiri di hati Ferro bisa pacaran dengan cowok yang populer disekolah, siapa sih yang menolak cowok tertampan, cool, kaya serta terpopuler seperti Rio. semua cewek pasti ngantri untuk mendapatkan cintanya.


Sepanjang perjalanan Revan murung di atas motor nya serasa ada sesuatu yang hilang di dalam hidup nya.


" bodoh... ada apa sih dengan gua, harus segitu nya yah! cuma melihat Ferro bersama orang lain harus selalu menahan emosi!!!" Revan mencebik sendiri. motor yang dikendarainya terus melaju sekali kali menyelip membelah jalanan yang cukup ramai karena jam pagi yang aktivitas di jalan cukup padat.