Friendzone

Friendzone
Episode 40. pelukan hangat



Di tempat lain Ferro bersama teman temannya tengah asyik menikmati pemandangan sekitar sekali kali Ara mengabadikan momen dengan jepretan kamera Handphone nya.


Rio menggunakan kesempatan ini untuk berduaan dengan Ferro, ia menarik tangan Ferro dan membawanya ke suatu tempat perkebunan teh milik keluarga Ferro tanpa disadari yang lain.


" Rio tunggu dulu Ada apa..." Ferro menahan Rio yang terus membawanya.


" gua hanya ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Lo boleh kan..." Rio tersenyum.


" tapi bagaimana dengan mereka..." Ferro cemas.


" Udah itu juga dekat area perumahan kan, jadi pasti gak nyasar. yang terpenting gua pengen ngajak Lo jalan berdua aja ok...!" Rio bersemangat.


" em... yah udah" Ferro ragu.


Mereka berdua akhirnya jalan berdua sambil membahas daerah sekitar sekali kali tertawa.


suasana sore itu sangat cerah sehingga langit berwarna kemerahan karena terik nya matahari.


Ferro mengajak Rio ketempat air terjun sekedar untuk menikmati suasana yang sunyi, Ferro juga sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama pria tampan seperti Rio.


suara gemuruh air terjun mengisi kekosongan suara di area sekitar serta bunyi burung yang bertengger di ranting pohon.


Rio dan Ferro duduk berdua di atas batu besar yang menghadap air terjun tersebut.


" Fer..." suara Rio lembut.


" apa...?" Ferro menoleh ke arah Rio.


tatapan mata saling terpaut Suara gemuruh air seakan sebagai backsound di area tersebut, perlahan tetapi pasti Rio mendekat kan wajah nya ke arah wajah Ferro.


Ferro terdiam kaku seakan tubuhnya tak bisa digerakkan saat Rio menatapnya dengan penuh arti serta Ferro tak tau harus berbuat apa saat ini pikiran nya kosong secara spontan.


jantung yang seakan berdetak begitu kencang serta napas yang terasa sesak dan berhembus pelan wajah keduanya semakin mendekat.


" EH.... EM.....!" suara batuk yang dibuat begitu keras.


Ferro dan Rio tak sempat berciuman terkaget bukan main hingga mereka saling menjauhkan wajah keduanya.


mereka berdua secara serempak menoleh ke arah sumber suara tersebut.


" Revan... " suara Ferro lirih pelan.


" sial Revan lagi Revan lagi..." ucap Rio dalam hati dengan geram.


Revan yang ditemani Rani mencari keberadaan Ferro dan Rio karena hanya mereka berdua yang belum pulang ke rumah sementara yang lain sudah kembali.


Revan yang kesal melihat adegan yang hampir berciuman tersebut ingin sekali menghajar Rio Saat itu juga. ia mengepalkan tangan nya dan berusaha mengatur nafas agar tetap kembali tenang.


hembusan angin mengugurkan dedaunan kering hingga berjatuhan. salah satu Daun pun terjatuh tepat di atas kepala Rani.


" Sorry Ran..." Revan dengan Romantis mengambil dedaunan di atas kepala Rani.


Rani menunduk sambil menahan senyum karena tersipu malu. dadanya berdegup kencang saat tubuh Revan sangat dekat dengan nya.


pemandangan tersebut disaksikan oleh Ferro hingga Tampa sadar ia berdiri dan pergi meninggalkan Rio dengan wajah kesal.


Revan pun ikut pergi pulang kembali kerumah bersama Rani sedangkan Rio pulang dengan kekesalan ulah Revan menggagalkan acara nya.


Malam telah tiba Ferro masih kesal dengan Revan hingga selesai makan malam satu kata pun belum ada terdengar bicara sama Revan.


Revan bingung dengan sikap Ferro ia berfikir apakah Ferro marah karena ia mengganggu momen nya bersama Rio atau ia cemburu melihat kedekatannya bersama Dea atau Rani.


malam di kampung begitu sunyi senyap hanya terdengar suara jangkrik dan kodok yang mengisi malam yang begitu sepi.


Vian dan gang asyik bermain catur bersama Yudi dan Kakek Oh sedangkan Nenek Taro, Lili dan anak anak gadis yang lain asyik bercerita.


Rani semenjak Sore tadi sudah berpamitan untuk pulang ke rumah.


Revan yang sudah selesai main catur nya pamit mau keluar mencari angin meninggal kan yang lain yang masih asyik-asyiknya.


semenjak selesai makan malam Ia sudah tak melihat keberadaan Ferro.


" Tante Ferro mana kok gak kelihatan?" tanya Revan dengan santai seolah olah hanya ingin tau.


" Gak tau juga sih Tante soalnya dia bilang hanya mau keluar cari angin segar aja..." jawab Lili tampak tak hawatir karena sudah biasa melihat Ferro jika pulang kampung main di malam hari.


" oh..." jawab Revan pura pura santai lalu berlu pergi.


Revan keluar Rumah Tampa sepengetahuan yang lain ia sepertinya tau akan keberadaan Ferro jika ia keluar di malam hari.


cuaca langit malam begitu cerah bulan bersinar begitu terang nya sehingga Tampa bantuan senter pun orang bisa berjalan di kegelapan.


disebuah bukit kecil yang tampak tak jauh dari depan Rumah Nenek Taro terdapat sebuah bangku santai di bawah pohon berukuran sedang tinggi dan cukup rindang.


Ferro tersadar melamun di tempat tersebut menggunakan headset ditelinga nya Tampa menggunakan penerangan apa pun ia termenung menatap ke arah seberang Bukit dengan pemandangan dataran perkebunan milik warga sekitar.


" dicariin tau nya disini..." Revan yang menemukan nya pun ikut duduk disebelah Ferro.


" ngapain lu" Ferro bergeser menjaga jarak.


" bodo..." ucap Ferro dengan ketus.


" lu Napa sih bawaan nya kalau ngomong sama gue marah mulu..." tanya Revan.


" siapa yang marah..." Ferro beralasan dan melepaskan handsetnya


" terus kenapa selalu nada bicaranya kayak tinggi terus gue ngomong gak ditanggapin " Revan mulai serius.


" terserah gue dong... napa gak suka?" Ferro merasa tertantang.


" ini nih diajak omong baik baik malah ngajak berantem" Revan mengambil posisi menghadap ke arah Ferro.


" terus mau nya apa..." tanya Ferro.


" mau gua...! mau gua lu jauhin Rio...!" ucap Revan dengan tegas.


Ferro sedikit terkejut dan diam sejenak ia tidak pernah melihat Revan mengatakan dengan spontan masalah kedekatan Ferro dengan Cowok lain.


" emang nya kenapa, lu juga kan ngapain meluk Dea Terus ngajakin liburan lagi, terus tadi lu sengaja kan dekat dekat sama Rani lu naksir Rani..." Ferro membela diri dan membuang muka setelah mengatakan semuanya menahan amarahnya.


suasana menjadi sunyi suara jangkrik dan kodok bergema di sekeliling area perkebunan.


Revan memperhatikan Ferro yang bernapas tak beraturan berusaha meredakan emosi nya. tiba tiba Revan mengenakan jaketnya Ke pundak Ferro karena ia tak menggunakan baju panjang Hanya mengunakan baju kaos lengan pendek dan celana jeans panjang.


Revan memeluk Ferro dari belakang dan berusaha menahan tangan Ferro yang ingin melepaskan pelukan Revan.


" Revan kamu ngapain sih.." ucap Ferro lirih sambil menahan tangis.


" diam... gua hanya berusaha menghangatkan mu, maaf... maaf atas semuanya..." ucap Revan berbisik.


" lu jahat Van lu jahat..." ucap Ferro lirih dan sedikit terisak.


" gua minta maaf..." Revan semakin mempererat pelukannya.


mereka berdua terdiam cukup lama dan saling mempertahankan posisinya. Ferro tersandar di dada bidang nya Revan ia mendengar dengan jelas degupan jantung Revan.


sinar bulan menyinari dunia begitu indah nya. sepasang remaja yang sedang berbaikan terdiam dan mencoba menerima kesalahan masing-masing.


" Revan... Ferro...!" suara teriakan memanggil.


sontak Revan melepaskan pelukannya dan bersandar dengan napas yang tak teratur begitu pun juga Ferro yang kaget mempererat jaket yang menempel di pundak nya menutupi tubuh nya.


Senter Handphone serta suara memanggil kian mendaki mendekat menuju kearah mereka berdua.


ternyata Ara, Tasya, Vian, Rio dan Rani menyusul mereka di bukit. dengan Rani sebagai penunjuk Arah atas saran dari Nenek Taro yang memberi tau kalau mereka mungkin ke bukit kecil yang tak terlalu jau di depan rumah.


ternyata tebakan Nenek Taro benar mereka menemukan Revan dan Ferro sedang bersantai di sini.


" kalian ngapain disini kok gak bilang bilang" Ara manja lalu duduk dengan paksa di tengah tengah Revan dan Ferro.


" jangan bilang kalian sedang..." Vian sengaja mengantungkan kalimat nya hingga yang lain memikirkan yang tidak tidak.


" apaan sih Lo Vian, sekali lagi Lo ngomong yang enggak enggak gua tonjok Lo" ancam Ferro.


" apaan sih gua kan gak bilang apa apa" Vian lalu terdiam.


Rani terdiam pikiran nya tak karuan memikirkan hal yang tidak tidak hingga membuat nya sedikit gelisah walaupun berusaha tak di tampak Kanya.


begitu pun juga dengan Rio ia tampak menahan emosi saat mengetahui Revan dan Ferro jalan berduaan apalagi dimalam hari dan ditempat yang sepi.


" udah yuk turun, gua ngantuk" Ferro berdiri dan menarik tangan Ara dan Tasya lalu pergi mendahului.


disusul Rani dan Rio mengikuti belakang Tasya, sedangkan Vian lalu duduk dengan wajah kepo nya.


" gimana dapat gak...!" Vian dengan muka konyol nya.


" dapet apaan...?" Revan bingung.


" alah sok polos aja lu" Vian bersandar lalu menjelaskan dengan kedua tangan nya dengan jari saling di Satukan seperti berciuman.


Revan yang mengerti akan maksud nya lalu memukul kepala Vian dengan lembut tapi pernah penekanan.


" gua gak mesum kayak Lo o g e b...!" lalu Revan pun bangkit pergi menyusul mereka untuk pulang.


" ih serem..." Vian memandang pohon di dekat nya lalu memandang ke cabang pohon.


" Revan tunggu....!" Vian berlari ketakutan.


Tak menempuh waktu lama mereka kembali di rumah Kakak dan Nenek. setelah mencuci kaki dan berganti pakaian Ferro masuk kamar dan tertidur masih menggunakan jaket pemberian Revan.


Cewek Cewek tidur di kamar depan bersama Lili. sedangkan Kakek dan Nenek tidur di kamar belakang. Yudi, Revan dan anak laki-laki tidur di ruang tamu.


waktu menunjukkan pukul satu kurang tujuh belas menit suara jangkrik dan kodok bergema diluar rumah sedangkan suara dengkuran Vian bergema di ruangan tamu. Vian ngorok begitu nyaring saat tertidur pulas.


Revan yang gak bisa tidur pun menutupi wajah Vian mengunakan tisu lalu menambahkan nya menggunakan bantal.


masalah dengkuran akhirnya teratasi kini Revan bisa tidur dengan nyenyak.