Friendzone

Friendzone
4. Unexpected 1.II



Bergegas merapihkan semua hal untuk pulang. Saat tiba di rumah aku akan mengatakan semua kepadanya, batin Maissha.



***



Ingatan yang telah terjadi di sekolah masih melekat di otaknya, sehingga mulut terasa gatal untuk diungkapkan kepada sahabatnya, Rayyen.



Terlihatlah seorang gadis mondar-mandir menampakkan raut wajah gelisah,


'bagaimana aku menceritakan kejadian tadi di sekolah kepadanya,' batin Maissha.



"Aku sangat malu untuk menceritakan kepadanya, aku pasti di pandang buruk olehnya, takut sekali rasanya ingin menenggelamkan di dalam air," gumamnya gelisah.



"Adek kamu ngapain sih dari tadi bengong, lalu mondar-mandir seperti setrikaan," hardik mama-lyra-



Sontak kaget, "ehhmm,,..hmmm,,... Enggak,,,nggak kenapa-kenapa kok mah," dengan kikuk lalu tersenyum menampilkan lesung pipinya.



"Kamu lagi suka sama cowok ya dek? Aduh anak mama udah ngerti cowok ganteng ya?" ejek mama.



"Aduh si mama bercandaannya, enggak mungkinlah adek kan tomboy mana ada yang mau sama adek," mencibir dengan tertawa canggung karena pembahasan semakin aneh.



"Yaudah deh, belajar yang giat ya anak bontot mama. Jangan cowok ganteng aja yang kamu pikirin," sindiran mama seperti peringatan yang sangat jelas di tuju ke dirinya.



"Okkey mamah sayang, yaudah aku mau main dulu sama Rayyen. Pulangnya nanti sore ya mah,"



"Kenapa gak sekalian besok aja dek?" Sindiran mama sangat hqq.



"Aishh, si mama baper banget. Main juga di taman, di ujung mata mah," ucapnya ketus.



"Ujung mata, ujung mata. Kamu kalo ngeles tuh enak banget ya, inget dek kalau kecapean kan kamu suka demam dan mengigau gak karuan," hardikan mama.



"Iya mah aku inget kok, enggak bakalan cape cape kok. Yaudah bye bye mamah, aku mau main dulu ya,"



Tanpa dosa Maissha lari secepat kilat menuju taman tanpa memikirkan raut wajah mamahnya terlihat cemas takut sang anak kecapean yang akan menimbulkan demam tinggi dan mengigau.



******



Begitu ramai, banyak anak-anak lain bermain permainan selayaknya permainan waktu ia di waktu kecil.



Di pohon rindang terdapat seorang pria tampan, bermanik abu-abu memancarkan seorang yang serius bersandar sambil bermain gadget.



"Hei bro, sejak kapan disini?"



"Eh Sha, tumben ke sini," balas sapanya, Rayyen



Digantung ucapannya



"Cuman apa?" Mengerutkan dahinya



"Abaikan aja deh," merasa canggung



"Serius Sha, udah sih frontal aja kalau mau cerita," ucapnya



"Enggak mungkinlah, ini terlalu vulgar, tapi gue kurang lega kalau ini enggak di omongin sama lu. Menurut lu ciuman pertama itu gimana dan apa rasanya?" ujarnya dengan kepolosan terlihat jelas di wajahnya



"Aduh Maissha gue kira apaan, bikin penasaran aja nih. Tumben lu bahas kek gituan, emangnya kenapa sha? apa itu terjadi sama lu?" ejek Rayyen yang pura-pura kaget



"Eehh,,enggak bukan kok. Itu gue cuman nanya ihhh," ujarnya dengan wajah panik



"Udah deh enggak usah di tutup-tutupin, udah tau Sha dengan kelakuan lu yang seperti ini," mengejek dan seringaian di wajahnya seperti tau apa yang lagi di bahas, walaupun ia belum pernah merasakannya.



"Ii-iya gue ngaku perlakuan dosa," sambil mengangkat tangan kanan raut wajah memerah seperti tomat, "tapi sumpah itu juga enggak sengaja, lagi pula dia yang kecup bibir gue pada saat gue lagi terpesona dengan paras wajahnya," ucap panik dengan kejujuran yang lepas kontrol.



"HA-HA-HA," suara menggelar keluar dari mulutnya membuat merinding disekitarnya, "Maissha, Maissha, Jadi anak jangan polos polos banget, sampai keceplosan terucapkan semuanya. Lucu banget sih," ejek Rayyen sambil mengusap-usap ujung kepalanya, walaupun ia menahan cemburu dan amarahnya untuk tidak menakuti gadis berlesung pipi.



Seperti adik kakak, padahal itu berbanding terbalik Maissha lah yang lebih tua setahun tetapi sikapnya seperti anak kecil jika dekat dengan sahabatnya dari semasa kecilnya.



Menundukkan kepalanya sekaligus membenamkan wajahnya di lekukan kakinya, wajahnya makin memanas menahan malu dan seperti mau nangis,


"Ulululu Maissha sayang jangan nangis dong, gue kan cuman gak habis pikir aja sama kelakuan lu yang menggemaskan ini. Tapi dengerin gue dulu, gue cemburu sama cowok yang ambil first kiss lu, aturan tuh gue yang miliki itu seutuhnya bukan dari orang lain ataupun orang lain yang mengambil itu," ucap Rayyen serius.



Ia pun akhirnya mengangkat kepalanya menatap manik abu-abu yang menjadi lawan bicaranya, tanpa sadar meneteskan buliran bening dari matanya terjatuh mengalir di pipinya. Pemilik mata silver menangkup wajah gadis manis pemilik lesung pipi, dan tanpa sadar mereka mendekatkan wajahnya.



Maissha terhipnotis dengan kata-katanya dan mata silver yang begitu teduh ditatapnya. Hidung mereka bersentuhan, dan dua insan tersebut menutup matanya,



"Maissha, maafin gue. Tapi gue enggak rela jika dia yang duluan, dan ini pertama kalinya gue kasih milik gue walaupun milik lu sudah di ambil oleh orang yang salah," sindirnya.



"Cup" pemilik lesung pipi membuka matanya, lalu sontak kaget apa yang terjadi tetapi tidak ingin melepaskannya, ditutuplah kembali matanya, dan mendengar kalimat melantun lembut di telinganya membuat ia terharu dengan suasana.



Kedua insan yang menikmati suasana tersebut tidak ada yang sadar dengan keadaan di sekitarnya.



"What the hell??" sindiran seseorang.



****


Jangan lupa memberi ❤️ dan komentar🌞