Friendzone

Friendzone
Episode. 30. Menginap



"Masih ada Jeje kan? Biarin aja dia yang nyimak. Gue males ketemu setan waria itu," ujar Win.


Mendengar kata kata tak lazim yang keluar dari mulut sahabatnya, Ajel segera menegur, "Hus! Jaga omongan lo, ini bukan di kota," ujar Ajel. 


"Iya, sorry," sahut Win.


"Yaudah deh, gue ikut lo aja diem disini. Males ke dalem, gerah," pada akhirnya Ajel ikut ikutan dan mereka berdua pindah lalu duduk di dekat api unggun yang menyala.


Rekan dari pak Pedrik lainnya rupanya ada belasan, Win dan Ajel menyadari itu. Dari postur tubuh mereka, terlihat sekali seperti kekurangan makanan. 


"Win. Menurut lo, lo percaya gak sama pak Pedrik?" Tanya Ajel.


"Siapa?"


"Pak tua yang ada di dalem tenda, namanya pap Pedrik." Jawab Ajelio.


Win mengangguk, "Lo percaya?" Tanya Ajel.


"Mana gue tahu, orang gue denger dia ngobrol sama lo dan yang lain aja gue gak ikut," elak Win.


Ajel berdelik, "Intinya yang gue tahu dia sama temen temennya itu udah tersesat dua tahun di hutan ini," jelas Ajel.


Win mengangguk. Tapi dipikir pikir, selama ini Win tak pernah mendengar ada berita orang hilang di gunung ini, atau … Kasus hilangnya orang orang ini sengaja disembunyikan publik? 


"Btw Win. Soal Olive. Gue ngerasa Maria tahu sesuatu deh," kata Ajel.


"Gue juga ngerasa kayak gitu dari awal Jel. Gak mungkin kan si Maria santuy aja pas salah satu dari kita hilang, kayak gak ada kaget kagetnya apalagi soal khawatir," balas Win membenarkan.


Dari awal Win sudah tak menduga jika Maria mengetahuinya, hanya saja ia sengaja bungkam agar gak emosi berlebih seperti tadi.


"Kalau si Maria tahu, artinya kita harus paksa si Maria buat cerita. Gue yakin dia sembunyikan si Olive.  Gue punya ide," ujar Ajel lalu membisikan sesuatu di telinga Win.


Win yang geli malah mendorong Ajel. Tentu dengan kesal Ajel menggeplak lengan kekar pria kelinci itu, "Si anjing, ngapain si lo dorong gue?" Ujarnya kesal.


Win menggosok telinganya geli, ia nyengir kemudian, "Lagian lo, ngebisikin kayak orang *****. Gak usah pake lidah juga, goblok," jawab Win.


Jeje saat itu mendengar keributan, keluar. Dia berjalan menghampiri mereka berdua, "Kalian ngapain ribut di luar?" Tanya Jeje.


"Ya masa ribut di dalem? Ancur tuh tenda," sahut Ajel bercanda.


"Maksud gue ngapain pada ribut? Berisik tahu gak? Lo lagi, lo keluar kapan? Gak liat gue," kata Jeje pada kembarannya.


"Kemaren, ya tadi lah. Lo nya aja yang buta," jawab Ajel ketus.


Ingin sekali Jeje menggunting bibir saudaranya itu, kalau perlu cabut jantungnya. Susah sekali diajak bicara serius.


"Gue serius. Udah malem, balik tenda camp. Pak Pedrik juga sama anak buahnya bakal berjaga diluar, cewek disini cuman si Elisa jadi dia tidur sama kita," jelas Jeje.


Win mengangguk. Jeje dan Ajel masuk kembali ke tenda, sedangkan Win masih duduk di depan api unggun yang masih menyala.


Pak Pedrik menghampirinya dan duduk tak jauh dari sebelahnya, "Kamu Win kan?" Tanya Pak Pedrik sambil fokus menghangatkan diri di api anggun.


Win melirik sekilas lalu berdehem kecil mengiyakan, "Kamu gak perlu khawatir, saya dan rekan rekan saya akan membantu kalian mencari teman kalian besok pagi. Jadi, saya minta kamu jangan menyalahkan teman teman kamu," sahut Pak Pedrik.


Win menekuk keningnya. Siapa dia? Berani memerintahnya? Tapi dilihat lihat, wajah dan perawakan pak Pedrik ini mengingatkannya pada teman kecilnya, Bright. Hanya saja saat itu Win kelas SD dan Bright di bangku SMA. 


Melihat itu Pak Pedrik tersenyum, anak jaman sekarang sangat susah di atur. Tapi Pedrik kasihan pada mereka, hidup masih muda tapi sudah terjebak. 


Rekannya menghampiri Pak Pedrik. 


"Pak, besok kita beneran bantu mereka cari temen temennya?" Tanya rekannya itu.


"Kita lihat saja besok," sahut Pedrik tersenyum kecil.


Di dalam tenda, Win duduk di dekat Ajel. Wajahnya kusam dan ditekuk, melihat itu Ajel menanyakannya sambil tertawa.


"Kenapa muka lo? Kayak liat orang berhubungan badan aja," canda Ajel dengan mulutnya yang asal ceplos.


"Jel!" Tegur Elisa.


"Apa si?" Ajel menyahut.


Win berdecak, "Lo semua percaya sama orang asing itu? Kalian gak takut kita dimanfaatin mereka? Lo semua tahu kan kita dimana? Mikir aja, gak mungkin ada orang di atas gunung kesasar lama terus masih hidup," ungkap Win.


Maria melihat Win hanya diam dan agak menjauh, dia tahu jika Win melihatnya pasti akan emosi lagi. Elisa menyahut, "Apa salahnya kalau percaya, Win? Kita gak punya siapa siapa lagi disini, Olive juga hilang dan kita butuh orang dewasa."


"Menurut lo. Menurut gue enggak, gue yakin mereka bukan orang biasa. Mereka pasti ngincer sesuatu dari kita, kalian gak curiga?" Balas Win masih keukeuh pemikirannya.


"Udah stop! Mending kita tidur, besok pagi kita lanjut bahas, oke?" Ucap Jaerim pada semuanya.


"Lo bisa tidur? Saat teman kita, si Olive ilang? Lo gak ngebayangin gimana menderitanya si Olive di luar sana?" Jaerim terdiam saat Win menatapnya.


"Win! Gue tahu lo masih gak terima, tapi jangan egois. Temen lo butuh istirahat, bukan cuman Olive aja disini yang terancam. Kita semua!" 


Pada akhirnya Maria angkat suara. Tapi tidak dengan Win yang malah semakin membara.


"Ini juga gara gara lo, sialan! Kalau aja lo gak ninggalin si Olive, pasti temen gue gak akan hilang sampai sekarang!" Win membalas sarkas.


Maria membuang muka, sakit perasaannya saat dirinya diumpat sialan. Meskipun dirinya permanen laki laki, tapi perasaannya sudah selembut perempuan. Maria bangkit dan berjalan keluar tenda, diikuti Elisa setelah dia memberikan tatapan tajam pada Win.


"Kenapa si tu orang? Emang benerkan ucapan gue!" Teriak Win agar Maria dan Elisa mendengarnya dari luar tenda.


Ajel menepuk nepuk bahu sahabatnya, "Udah Win. Gak baik lo salahin mereka sekarang, ucapan Maria gak ada salahnya. Kita butuh istirahat, lo juga harus istirahat. Soal Maria gue yakin Elisa bisa beresin."


Win tersenyum sarkas meremehkan. Mungkin karena dia sudah terlanjur kecewa pada Maria dan Elisa. 


Singkat waktu, pagi pun datang. Terlihat langit yang mendung disertai angin yang cukup kencang. Tak terlihat matahari, bola sinar itu tertutup awan dan redup cahaya bumi.


Win dan teman temannya sibuk menyiapkan daun pisang dan talas. Berjaga jaga akan datang hujan dan mereka bisa berteduh. Sedangkan Pedrik dan lainnya juga menyiapkan tempat berteduh untuk mereka masing masing agar tak basah terguyur hujan.


"Pagi pagi udah ujan aja, kalau kayak gini terpaksa kita undur pencarian teman kalian," ujar Pak Pedrik pada mereka.


Jeje dan Win dengan cepat menyela, "Gak bisa gitu dong, niat kita buat cari Olive. Mau hujan pun saya tetap cari teman saya," Jeje.


"Iya, kalau kalian semua gak mau bantu juga kami gak masalah. Lagi pula kalian orang asing," Win menyetujui.


Pedrik mendengar tuturan Win sempat sedikit kesal, tapi dia tahu mereka masih dibawah umur. Sifat dan sikapnya belum stabil.


"Tapi … Apa kalian sanggup melewati kawasan hutan yang penuh ular? Hujan hujan seperti banyak sekali ular yang berkeliaran," ucap Pak Pedrik.