Friendzone

Friendzone
Episode. 26. Nek Muti



"Sepertinya kita belum berkenalan, perkenalkan nama saya nek Muti, jika boleh tahu, nama cucu siapa?" Tanya nek Muti saat dipapah menuju rumah nya oleh Olive dan Mayang. 


"Iya kak, nama kakak siapa? Penampilan kakak sangat aneh." 


"Hushh jaga bicaramu Mayang!" nenek mencubit lengan mayang pelan. 


"Ih nenek, aku kan berkata jujur," Mayang cemberut. 


"Tidak apa apa nek, ouh iya … Nama saya Olive. Saya dari negeri yang jauh. Saya kesini untuk sekedar berjalan jalan," bohong Olive, tersenyum. 


"Apa kakak sendiri kesini? Atau kakak bersama teman teman kakak?" Mayang mendongak menatapnya. Umurnya yang masih tujuh tahun terlihat sangat imut saat bertanya. 


"Haha iya, kakak sendiri," Olive tertawa mengingat kesialan nasibnya. 


"Kakak berani sekali. Kami saja tidak berani keluar kota jika bukan karena terpaksa. Kakak Olive memang hebat. Iya kan nek?" Mayang memberi jempolnya pada Olive dan nek Muti tampak tersenyum. 


"Kau harus hati hati nak, bisa saja kesialan menghampirimu saat diperjalanan," ucap nek Muti khawatir. 


"Aku sudah mendapat kesialan sebelumnya, jadi untuk apa aku harus hati hati," batin Olive kesal dengan diri sendiri. 


"Iya nek," sahut Olive tersenyum. 


"Ahh akhirnya kita sampai. Maapkan nenek karena tidak punya rumah sebagus rumahmu ya nak," ucap sang nenek. 


"Tak apa nek, saya sudah sangat bersyukur nenek sudah baik dengan saya," Olive tersenyum. 


"Ayo kak, kita ke kamar mayang, disana ada banyak mainan pemberian dari putri kerajaan," Ajak Mayang mengandung tanganku. 


"Mayang, jangan merepotkan kakak Olive. Ajak dia membersihkan diri dulu. Olive, anggap saja rumah sendiri ya nak," Titah nek Muti pada Mayang lalu masuk kerumahnya. Olive mengangguk. 


"Baik nek," Mayang. 


"Kalau begitu kita siap siap kesungai saja kak mumpung masih siang."


"Tapi mayang, kakak tidak membawa baju." 


"Kakak tenang saja, tadi diperjalanan nenek bilang kakak boleh memakai baju milik nenek dulu. Baju yang kakak pakai sekarang bisa dicuci untuk dipakai besok," jawab mayang. 


"Oh baiklah," Olive. "Tidak papa lah, yang penting gue pakai baju." Lanjutnya dalam hati.


***


"Airnya sangat jernih," ucap Olive merasa hawa dingin menelusuk pada jemari kakinya. 


Ia sekarang berada disebuah sungai yang tak jauh dari rumah nek Muti. Tentu nya bukan sungai yang pernah ia singgahi sebelumnya. 


"Iya kak, sungai disini selalu bersih karena selalu dirawat oleh penduduk sekitar," sahut Mayang sambil bermain air. 


"Apa kalian hanya tinggal berdua?" tanya Olive menatap Mayang karena sedari tadi ia tidak melihat orang lain dirumah itu. 


"Iya kak."


"Ouh, orang tua mayang lagi kemana? Apa tempat kerja mereka jauh?"


"Maksud kakak apa?" Tanya Mayang bingung. 


"Kakak tidak melihat orang lain dirumah nenek nya mayang, apa mereka sibuk bekerja?" Tanya Olive tanpa menghiraukan tatapan sendu yang gadis kecil itu sembunyikan. 


"Ibu dan ayah sudah tidak ada," sahut-nya dengan nada suara yang pelan. 


'Hah?'


Olive menoleh melihat Mayang, gadis itu menunduk, air mata yang jatuh terlihat jelas di pipinya. 


"Mmmm maaf kan kakak mayang, kakak sungguh tidak tahu kalau-"


"Enggak apa apa kok kak, Mayang ngerti," ucap Mayang tersenyum menatap Olive. Olive merasa kasihan, ternyata ada yang lebih menyedihkan dari pada diasingkan oleh keluarga sendiri. Beruntunglah orang tuanya masih ada didunia. 


Meskipun perkataan mayang tidak terlalu jelas, Olive masih bisa mengerti makna dari kata katanya. Mayang, gadis manis itu merindukan orang tua nya, sama seperti ia yang kesepian selama ini karena diasingkan keluarganya sendiri. 


Mereka selesai membersihkan diri saat matahari hampir terbenam. Bukan karena mayang yang asik bermain air, tapi Olive yang asik membersihkan diri tak selesai selesai. 


Di karenakan dimasa itu belum ada sabun cuci, sabun mandi, rinso, mesin cuci, sikat gigi instan dan sampo, Olive pun harus ekstra bersih mengucek baju nya.


"Ayo kak, ini sudah sore. Nenek pasti sangat khawatir," Mayang. 


"Ok, kakak juga sudah selesai mencuci," sahut Olive. 


"Ok itu apa kak?" Tanya Mayang. 


"Eh gue lupa, eh maksudnya kakak lupa eh apa ya? Ok itu maksudnya euu kayak baiklah gitu," jawab Olive. 


"Sebentar lagi hujan, kita pulang yuk Mayang. Ayok!" Olive berjalan lebih dulu meninggalkan mayang yang masih berpikir. 


"Kakak tunggu, jangan tinggalin Mayang," gadis kecil itu berlari mengejar Olive. 


***


"Kalian lama sekali, nenek sangat khawatir," ujar nek muti. 


"Maaf nek, abisnya kak Olive mandinya lama," adu Mayang pada nek Muti. 


Olive tersenyum malu, tertangkap basah ia yang telah mengulur waktu, "Yasudah tidak apa, kalian segera lah ganti baju, sebentar lagi malam. Nenek sudah siaplan makanan untuk kita," Nek muti tersenyum. 


"Terimakasih nek Muti." Ucap Olive. 


"Ayok kak ke kamar Mayang!" ajak Mayang menggandeng tangan Olive meninggalkan Nek Muti diluar sendirian. 


"Kenapa aku merasa tak asing dengan wajah gadis itu?" Nek muti menatap Olive yang sudah pergi bersama Mayang.


Senja berganti malam, Mayang masih sibuk mendandani Olive dengan pakaian nek Muti. 


"Woahh kalo kakak yang pake, Mayang ngerasa liat bidadari. Wajah kakak juga mendukung sekali," fuji Mayang setelah selesai mendandani Olive. 


"Kamu bisa saja Mayang," Olive tersipu malu. 


"Mayaaaang kau kemanakan sele-"


"Ada apa paman?" Tanya Mayang menatap kepintu. 


"Pah ku … Hey siapa gadis itu?" Tanya orang itu menunjuk Olive. 


Olive menatap balik lewat cermin, terdapat laki laki bersuray coklat, membawa topi berbentuk tudung saji menunjuk Olive. Olive sedikit terpesona dengan wajahnya, tidak terlalu tampan tapi manis. Sangat sulit menemukan wajah seperti itu pikirnya. Walaupun, sebenarnya Win lebih tampan.


"Aku Olive, salam kenal. Kamu siapa?" Tanya Olive berbalik menatap laki laki di gagang pintu. 


"Kenalkan dia paman ku kak, namanya Jasung kak," jawab Mayang. 


"Ouh begitu? Salam kenal," ucap Olive tersenyum canggung. 


"Hemm, aku sudah mendengar namamu dari ibu. Terimakasih sudah menolong mereka. Akan kuganti kerugianmu besok," sahut Jasung. 


Olive menatap jasung dari atas sampai bawah, memang terlihat tidak sopan. Tapi, ia seperti pernah melihatnya. Dilihat dari umurnya, Jasung berumur 19 tahunan tidak beda jauh dengannya. 


"Kamu kelas berapa?" tanya Olive. Yang ditanya hanya kebingungan harus menjawab apa. 


"Kelas apa maksudmu? Saya tidak paham. Sebaiknya kalian segera keluar, ibu bilang makanan sudah siap," Jasung pergi. 


"Maap atas sikap pamanku ya kak, dia memang sedikit kasar," sahut Mayang memegang tangan Olive. 


"Iya," Olive tersenyum menatap mayang. 


***


Pagi harinya …


"Hoaammmmmm … Kam berapa ini?" Olive menguap. 


"Jam itu apa kak?" 


"Eh?" Olive terkejut dengan kehadiran Mayang yang ada di sampingnya. 


Ia baru ingat semalam ia tidur bersama Mayang. Ouh, ia kira dengan tertidur Olive bisa terbangun dari mimpi buruk ini, "Gwenchana-Yoo." sahut Olive. 


"Wenayo artinya apa kak?" Tanya Mayang menatap Olive. Olive terkekeh, ia ingat sedang berada dimasa lalu. 


"Shhutt tak perlu dipikirkan. Apa nenek dan paman mu sudah bangun?" Olive bertanya. 


"Mayang tidak tahu, Mayang tidak keluar kamar sejak bangun tidur. Tapi, biasanya nenek pergi ke kebun pagi pagi sekali dan paman Jasung pergi berdagang," ujar Mayang. 


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau Mayang antar kakak keliling sekarang. Kakak ingin melihat daerah sini."


"Boleh, tapi Mayang mau masak dulu buat paman dikota."


"Apa pamanmu berdagang dikota?"


"Paman Jasung bisa saja berdagang di pasar desa ini, tapi katanya lebih bagus berdagang di pusat kota," jawab Mayang. 


"Ya sudah ayo kita masak lalu pergi menyusul pamanmu," ajak Olive beranjak dari kasur tipis milik Mayang. 


Mayang terdiam lucu, "Kak Olive bisa masak?"