Friendzone

Friendzone
Episode. 33. Kembali



Anak kecil itu berjalan cepat kembali ke arah sebelumnya, sedangkan Olive berjalan terus. Ia mengikuti saran dari Mayang.


Saat sudah di ujung jembatan, Olive melirik lagi ke belakang, "Bagus, ini saatnya."


Gadis itu tersenyum puas, sebenarnya itu hanya rencana palsunya. Dia tak pernah punya gelang hitam, ia melakukan itu agar Mayang bisa lepas darinya.


"Sorry adik manis. Tapi kayaknya gue gak bisa asal percaya sama orang, termasuk lo dan nenek lo apalagi paman lo itu," ucap Olive tersenyum, lalu bergegas pergi ke istana.


Ia berlari dengan pelepah kaki. Sangat susah untuk berlari bahkan berjalanpun harus hati hati. Olive berhenti sebentar, hanya untuk melepas pelepah sialan itu.


Ia lanjut berjalan cepat ke arah gedung megah dan tinggi tak jauh lagi didepannya. Sudah terlihat gerbang istana yang sangat besar dan menjulang tinggi.


Yang awalnya berjalan cepat, kini semakin cepat dan berlari kencang. Gerbang istana itu tiba tiba akan menutup. Olive merasakan hal tidak enak jika gerbang itu tertutup sampai rapat.


Sedangkan Mayang. Anak itu berjalan disekitar pasar kota. Dia celengak celinguk mencari barang yang hilang itu, dia tak sadar jika dirinya dipermainkan oleh Olive.


"Mayang. Apa yang kamu lakukan disini?"


Anak itu berdiri dan mendongak, menatap siapa yang memanggil namanya, "Paman? Kenapa Paman ada disini?" Tanya Mayang terkejut.


"Justru Paman yang harusnya bertanya, dimana gadis itu?" Jasung sangat terlihat panik.


Mayang dengan polosnya berucap, "Aku tinggalkan di jembatan kayu, paman. Aku kira paman ada disana."


Jasung memejam mata sambil menggerutuk gigi. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Mayaaaaang! Jika sampai nenek tahu kalau gadis itu kabur, kita bisa dihukum!" Ujar Jasung dengan marah.


Mayang tak mengerti. Gadis itu masih polos dan tak tahu maksud dari perkataan pamannya.


"Maksud paman, apa?" Tanya Mayang yang takut.


"Ayok cepat! Kita cari gadis itu, sekarang!" Titah Jasung.


Mayang mengangguk.


Kembali lagi pada Olive. Gadis itu sebentar lagi akan sampai dipintu gerbang itu, dirinya tersenyum berharap dia bisa kembali ke dunianya lagi.


'Pletarr!'


Tubuhnya terpelanting keras, badannya tergeletak diatas tanah dan sangat terasa sakit seakan remuk. Olive mendongak menatap gerbang itu, sudah setengahnya tertutup.


Tanpa Olive sadari, petir menyambar tubuhnya. Tak pernah gadis itu duga pula, jika hujan sudah turun mengguyur sekitar dan dirinya.


Hujan lebat, ia menangis merasakan rasa sakit yang amat sakit pada tubuhnya. Ia memangis, dirinya sama sekali tak mau menyerah untuk kembali ke dunianya.


Tubuhnya yang kaku ia paksakan bangkit, linu sekali. Dengan mengesot, Olive menggapai pintu gerbang yang hampir tertutup itu.


"Tidak! Kumohon jangan tutup pintunya, hikss …"


Sekuat tenaga, Olive menggapainya.


"Nak! Apa yang terjadi denganmu?"


Olive menegang, saat mendengar suara Nek Muti. Ia berusaha susah payah bangkit, menghalau rasa sakit di tubuhnya. Dengan tertatih bercampur perih, Olive berjalan sempoyongan ke arah pintu gerbang istana.


"Nak!"


Olive bahkan tak mau menatap ke belakang, dia mendengar suara sepasang kaki yang berlari ke arahnya. Sedikit lagi, ia akan sampai. Sedikit lagi, dan …


'SUIIINGG!'


Cahaya kilat itu menyilaukan pandangannya, tapi tak menghentikan langkahnya untuk menembua cahaya putih tersebut. Dirinya berhasil, melewati garis gerbang pintu istana yang kini sudah tertutup rapat.


***


Malam datang, Win dan kawan kawannya masih bersembunyi dibawah tanah kering. Mereka menunggu Jeje siuman, sudah beberapa jam berlalu tapi teman mereka masih belum tak sadarkan diri juga.


"Guys! Gimana kalau dua orang dari kita pergi cari bantuan?" Elisa.


"Gue setuju!" Sahut Jaerim.


Jeje ditidurkan dengan kepalanya dipangku Jaerim dan kakinya dipijat oleh Ajel.


"Gak boleh, kita harus tetep sama sama. Gak boleh pisah, itu bahaya!" Larang Win.


Elisa memutar bola mata malas, "Cik! Win, sampai kapan kita kejebak disini terus? Kita harus cari jalan keluar," sanggah Elisa.


"I see! Tapi apa kalian gak mikirin resikonya? Jeje aja belum sadar, Olive juga belum ketemu. Kalau kita mencar, penjahat itu bakal lebih gampang buat nangkep kita."


Win sepertinya sangat menentang itu, Ajel yang masih menemani saudaranya tak ingin ikut berdebat.


"Terserah, pokoknya gue sama Jaerim bakal keluar dan cari pertolongan. Lo ikut kan Jae?" Ujar Elisa.


Jaerim terkejut mendengar penuturan Elisa. Tapi karena memikirkan keselamatan gadis itu juga, akhirnya Jaerim menyanggupi.


"Kalian berdua, lo sama Ajel waiting disini. Kalau sampai besok pagi gue sama Jae gak balik, kalian harus cepet pergi dari sini bawa Jeje." Tutur Elisa dengan rencananya.


"Gue gak mungkin tinggalin Jeje apalagi bawa Jeje pergi sekarang, kondisi dia lagi gak memungkinkan. Gue gak mau ambil resiko," sahut Ajel sekarang ikut berdebat.


Elisa menghela nafas kasar, dia menatap Ajel dan dibalas tatapan sedih oleh laki laki itu. Elisa dan yang lain yang tadinya ingin mendebatkan, tak jadi karena iba.


"Jel. Resikonya gede kalau kita terus bersembunyi di tempat yang sama. Gue khawatir salah satu diantara gue atau Jae ketangkep. Mereka pasti ngancem kita buat nunjukin keberadaan kalian," jelas Elisa pelan pelan.


Ajel menggeleng, "Gak! Ini gara gara si bencong itu. Kalau aja dia gak berkhianat, gue yakin sampe sekarang kita masih aman. Jeje juga gak akan luka sampe abis tenaga kayak gini!" Luapan emosi laki laki itu menjadi.


"Jel!" kata Elisa menenangkan laki laki itu.


**


Olive terbangun, matanya mengerjap. Ia bangkit perlahan, "Uhuk uhuk!"


Ia batuk, menatap sekitarnya heran.


"Gue dimana?" Gumamnya.


Gadis itu bangkit ditepi danau, ini adalah danau pertama kali yang Olive ingat. Tunggu, dia kembali mengingat ngingat sesuatu.


Flasback …


Saat itu, Maria tidak sengaja menyenggol Olive saat hendak menggendong kayu bakar yang diikatnya. Sikap Maria sangat berbeda padanya ketika bersama teman temannya yang lain.


Saat itu Olive mengira jika Maria memang tidak sengaja, tapi sekali lagi alien itu menyenggolnya sampai dia tak sengaja tergelincir dan tercebur ke danau.


Olive yang mendadak panik karena keram dikaki, dia kesusahan menggapai tepian dan tak sengaja semakin tenggelam ke dalam danau.


Flasback Of.


Bulan diatasnya sudah sempurna, Olive berdiri tertatih setelah mengingat kejadian dimana ia tenggelem.


"Ini mimpi, atau apa ya? Apa cuman gambaran kegelisahan gue aja? Tapi kok gue bisa ada disini lagi?" Pikir Olive bermonolog.


"Gak mungkin. Mayang, Jasung, Nek Muti? Apa mereka nyata?" Pikir Olive lagi. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Hidungnya perih karena terlalu banyak kemasukan air.


Olive terpaksa berjalan tertatih dikegelapan malam kembali ke tenda yang dibuat teman temannya. Dia berharap mereka masih ada, tapi jika dipikir pikir … Kenapa Maria tak menolongnya saat itu? Segera Olive menggelengkan kepala, dia harus lebih dulu menemui teman temannya yang lain.