Friendzone

Friendzone
Episode 68. Dunia serasa milik berdua



Sinar matahari hari semakin panas kini waktu menunjukkan pukul sebelas siang Revan dan kelompok baru saja menyelesaikan membongkar tenda sedangkan kelompok Dion memutuskan pulang di sore harinya.


Setelah mengemasi barang barang ke dalam mobil, Revan dan kawan kawan menghampiri tenda Kelompok Dion.


" kami pamit duluan bro "


Revan menyalami Dion.


" ok hati hati, next time mampir lah ke kota kami kita ngobrol santai di rumah gua !!! "


Dion merangkul Revan.


Mereka saling bertukar salam dan tos.


" kami duluan bay.. "


Ferro melambaikan tangannya.


" hati hati jangan rindu "


Dion menggoda Ferro sambil melambaikan tangannya.


" em.." Ferro mengangguk sambil tersenyum.


Mobil perlahan meninggalkan Area perkemahan suhu di siang itu cukup menyengat kulit. Ara dan Ferro di kursi belakang sibuk bergosip perlahan mobil bergerak di jalan Tanah goncangan akibat jalan berlubang serta akar pohon yang menghalangi jalan.


Saat keluar dari jalan tanah kini mobil melaju dengan sempurna membelah jalan raya, Suara gosip di belakang kini tak terdengar lagi.


Saat Revan menoleh kedua gadis tersebut kini terlelap tersandar.


Revan tersenyum sendiri melihat wajah wajah yang begitu polos saat mereka tertidur, Vian yang awalnya di suruh menemani terjaga saat perjalanan pun kini sudah tersandar dengan dengkuran menggorok.


" jadi supir lagi " Revan bergumam.


Perjalanan cukup cepat lantaran tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat jadi Revan mengemudi dengan santai tanpa harus banyak menyalip kendaraan lain.


***


Malam pukul sembilan Revan masih tertidur dengan pulas, keadaan kamar gelap gulita hanya sedikit cahaya yang masuk dari arah pintu balkon yang terbuka.


Revan perlahan terganggu dengan suara seperti seseorang menahan tawa dan sedikit terdengar walaupun agak kecil suara entah dari mana.


Perlahan Revan membukakan matanya tubuh yang masih lemas berbalik dengan enggan.


" AHhh.. !!!! " Revan mendadak bangkit terduduk, ia terkejut melihat Ferro sedang menonton menggunakan laptopnya sambil menikmati pop mie dan berbagai aneka cake dan makanan ringan.


" suttt... Berisik kayak lagi di kuburan aja, gak tau orang rumah mau pada tidur!!! " protes Ferro masih menikmati makanannya.


" lu ngapain sih... Lu gak punya kamar yah "


Revan protes lantaran Ferro sering menggunakan kamarnya dijadikan bioskop pribadi.


" cerewet... Ni bocah ntar gua traktir deh yah, gua mau nonton bentar.. " Ferro gak mau ambil pusing.


" bentar Bentar... Bentar dari Hongkong..!! balik gak lu... kalau gak gua telpon ni Tante Lili Revan mencari ponsel nya lalu membuka watshaap.


" eh... Tunggu tunggu..." Ferro dengan cepat mencegat Revan " please Van bentar aja, biarkan gua menyelesaikan satu episode aja ok, ntar gua traktir Lo "


" gak gak bisa... " Revan hendak mencari kontak Tante Lili


" TANTE!!! Revan!!!! " teriak Ferro.


" ET.. Ngapain Lo.. " Revan dengan cepat menyumpal mulut Ferro menggunakan tangan nya.


Ferro sekuat tenaga melepaskan tangan Revan " TANTE... REVAN MENINDAS FERRO LAGI.!!! " Ferro masih berteriak.


" REVAN!!! KAMU APAAIN FERRO!!! " suara mama Hanna mulai menaiki anak tangga pintu yang Hanya terbuka sedikit kini terbuka lebar saat Mama Hanna menerobos masuk.


" Tante REVAN menindas Ferro lagi, pedahal kan Ferro udah ijin sama Tante untuk pinjam laptop Revan, masa gak di bolehin Sama Revan " Ferro memasang ekspresi mau menangis.


" mah gak gitu... Mah.." Revan berusaha menjelaskan.


" Revan.." Mama Hanna mendekat menjewer telinga Revan lalu menarik nya keluar" kamu tidur di kamar sebelah dulu, kenapa kamu jadi anak pelit sih sama temen sendiri " Mama Hanna selalu membela Ferro.


Revan menoleh ke arah Ferro senyuman penuh kemenangan terpancar jelas di wajah Ferro dan ia sempat menjulurkan lidah mengejek Revan.


Mama Hanna menarik nya keluar walaupun jeweran nya tidak kuat tetapi Revan hanya menurut lantaran sudah terbiasa Mamanya pasti membela Ferro.


" hah.. Selamat menikmati kekalahan" Ferro tersenyum menutup pintu lalu kembali melanjutkan nonton drama nya.


Setelah beberapa jam menonton kini Ferro tak sadar tertidur hingga lupa pulang sudah jadi kebiasaannya.


***


Revan menepis nepis tangan nya di atas wajah Ferro tetapi tidak ada tanda tanda kehidupan, timbul ide balas dendam Revan.


Waktu menunjukkan pukul delapan pagi Sinar matahari mulai memanggang bumi, Ferro keluar kamar dengan wajah bahagia menuruni anak tangga.


Revan dan keluarga tengah sarapan pagi hari ini Yonathan sedang libur akhir pekan, Hanna menyiapkan makanan untuk keluarga kecil nya.


Hanna tidak membangunkan Ferro lantaran ia selalu memanjakan nya seperti anak sendiri.


" pagi om.. Tante..." Ferro tersenyum menuruni anak tangga.


Mata Hanna membulat dengan sedikit terkejut, Yonathan mengulum senyum sedangkan Revan berusaha menahan diri agar tidak tertawa.


" ada apa? " Ferro bingung dengan ekspresi keluarga itu.


" Revan..." Hanna langsung melototi anak nya itu.


" apaan aku baru saja pulang dari lari dari halaman rumah" Revan dengan cepat protes.


" ada apaan sih Tante " Ferro semakin penasaran.


" Ferro cuci muka dulu sayang " Hanna menjewer telinga Revan pelan " anak nakal "


Ferro pergi ke wastafel berkaca hendak mencuci muka " AAAA!!! Revan!!!! " Ferro teriak lalu berlari ke arah Revan.


Revan yang tak kuat menahan tawa kini berlari sambil menyalakan kamera hp merekam Ferro yang mengejar nya memperlihatkan wajah yang penuh tompel tinta spidol di dahi dan pipi bagian hidung.


" HA HA HA... KEJAR GUA KALAU BISA!!! " Revan berlari keluar rumah.


" MAMPUS KAU!!! " Ferro mengejar nya.


Tingkah mereka berdua seperti dunia milik mereka berdua.


" anak ini " Hanna menggeleng kan kepala.


" dari kecil hingga dewasa gak ada bedanya berantem Mulu " Yonathan menyesap kopi nya dengan koran di tangan.


****


Siang hari nya di rumah Ferro kedua keluarga ini berkumpul Mama Hanna sibuk ngobrol dengan mama Lili sambil memasak di dapur, sedangkan Yonathan dan Yudi mereka sibuk bermain catur di teras rumah.


Di ruang tamu Ferro di suruh menjadi guru privat matematika mengajari Revan, awalnya kedua anak ini tidak mau akan tetapi desakan dari ke dua orang tua mereka membuatnya tak berdaya.


Ferro sibuk menjelaskan rumus rumus sedangkan Revan berusaha menahan kantuk, saat kepala Revan hampir tertunduk di atas meja.


Plek.. Ferro memukul kepala Revan menggunakan pulpen.


" AW... sakit PE a... " Revan mengelus kening nya.


" tidur lagi gua adukan ke Tante kalau kamu gak niat belajar... " Ferro melotot.


" Nye Nye Nye...." mau tak mau Revan kembali menegakan kepala nya.


Gplek....!!!! Kembali kepada Revan di pukul menggunakan pulpen


" Ahaa... TANTE FERRO NGAJARIN REVAN PAKAI CARA KEKERASAN!!!! " Revan mengadu ke mana Lili


"FERRO!!! NGAJARIN YANG BENAR' DONG JANGAN MAIN MAIN!!! " teriak Lili dari dapur.


" GAK MAH REVAN BOHONG!!! " balas Ferro.


" REVAN JANGAN MAIN MAIN, BELAJAR YANG BENAR' " kini suara Hanna yang terdengar.


Ferro menjulurkan lidahnya mengejek Revan, saat Ferro lengah Revan menimpuk Ferro menggunakan bantal.


" AW...!! Revan" kepala Ferro terbentur.


Ferro tak diam ia mengambil bantal dan menepuk nya ke kepala Revan mereka berdua jadi saling pukul menggunakan batal.


" RASAIN...!!! IH.... NIH... MAMPUS!!! " Ferro mengayunkan sekuat tenaga.


" WEKKK WEKKK GAK KENA GAK KENA.... NIH NIH SINI ET.... Gak kenak... " Revan terus memprovokasi Ferro.


Suara gaduh mereka membuat Hanna dan Lili keluar melihat tingkah mereka.


" HENTIKAN!!!! REVAN..." Teriak Hanna.


" FERRO STOP... " Lili melototi putrinya.


Mereka berdua stop lalu berdiri bersisian menundukkan kepala saling menyenggol menyalahkan satu sama lain sedangkan kedua tua mereka Hanya menggelengkan kepalanya melototi tingkah kedua anaknya.