
Segerombol siswa dan siswi berkeliaran di hutan, mereka adalah Win dan teman temannya. Anehnya, sudah sejauh ini hutan di telusuri, tapi tidak ada kejanggalan dari hilangnya Olive.
"Oliiiiiiiivve!"
Win frustasi, meremas rambutnya sendiri. Jeje yang melihat keresahan temannya kemudian menghampiri, menepuk bahu itu pelan.
"Sabar Win. Gue yakin Olive baik baik saja," ujarnya menenangkan.
Win tak terpengaruh, ia menepis lengan Jeje di bahunya dan berbalik menatap tajam pada sahabatnya, "Bukannya gue udah bilang sama lo sebelumnya? Jaga Olive! Lo tahu sendiri seberapa berharganya cewek itu bagi gue! DIA BERHARGA BAGI GUE, JE!" Bentak Win di depan wajah para sahabatnya.
"Win sabar!" Lerai Aje.
"Sabar kata lo?" Win beralih menatap sengit pada Ajel. "Sampe kapan? Sampe sebulan? Dua bulan? Sampai Olive ma-"
"WIN!"
Laki laki itu berhenti sesaat setelah Elisa membentaknya, "Apa? Lo juga sama El! Lo yang udah ninggalin Olive duluan kan? Disini yang brengsek itu lo!" Tuduh Win pada Elisa.
Elisa yang tak terima hendak mengelak, tapi tanpa sengaja tatapannya mengarah pada kode si kembar yang berbicara tanpa suara seolah untuk Elisa diam. Melihat itu Elisa diam, kemudian Win berjalan meninggalkan mereka.
Jeje menghampiri saudaranya, "Gimana nih Je? Gue khawatir Olive kenapa-kenapa, lo liat kan sikap si Win?" Adu Jeje.
"Lo tenang, yang penting kita jangan buat suasana makin keruh," jawab Ajel pada adiknya.
Di tempat lain, rupanya Maria tak sendirian di tenda. Dia membakar lauk pauk disana untuk teman temannya setelah mereka kembali nanti, terpenting dia tak boleh lemah dan membiarkan mereka semua mati kelaparan nantinya.
Setelah cukup lama melamun, suara langkah kaki terdengar. Maria kira itu adalah teman temannya, tapi ternyata salah. Saat ia menoleh, seseorang yang tak ia kenal menghampirinya dengan pakaian aneh.
"Kamu ngapain disini!"
Seakan tak menyukai kehadiran Maria. Laki laki misterius itu membentak Maria dengan nada marah, seolah mengkhawatirkan sesuatu.
Maria tersenyum sopan, "Saya sama teman teman saya kesasar di sekitar sini Om. Kami murid sekolahan yang kejebak hewan buas Om. Om siapa?" Maria setengah tak menyangka jika ada orang selain dirinya dan teman temannya disini.
Orang itu menepuk dahinya pening, seolah memikirkan sesuatu yang sangat fatal. Tak lama laki laki itu menatap Maria dan menginstruksikan sesuatu.
"Kamu!" Tunjuk laki laki itu pada Maria.
Kembali pada Win dan teman temannya, mereka yang sudah mencari keberadaan Olive di sekitar hutan pun tak menemukan apapun. Mereka berakhir di dekat danau berwarna biru di tengah hutan belantara itu.
"El. Maria di tenda?" Bisik Ajel pada Elisa di dekatnya.
Elisa menoleh dan mengangguk kecil, "Kenapa?"
Melihat itu Ajel terbakar api kesal, bisa bisanya manusia jadi jadian itu masih santai dan lebih menunggu mereka di tenda.
"Lo kesel sama dia?" Tanya Elisa yang membaca ekspresi Ajel. "Tadi Maria juga sempat mau ikut, tapi gue liat si Jae larang. Katanya buat jaga tenda sendirian, khawatir ada monyet atau babi yang ngacak ngacak bekal makanan sama tenda kita," jelas Elisa.
Mendengar itu Ajel tak jadi kesal, pantas saja Jaerim diberikan jabatan ketua kelas. Otaknya lumayan cerdas, setidaknya ia berharap waria itu ketakutan dan menyusul mereka lalu tersesat sendirian.