
Malam berangsur menghilang kini jam menunjukkan pukul 05:37 Revan telah terjaga sekitar 30 menit yang lalu, ia tak merubah posisi tidur nya karena Ferro sedang memeluknya mencari kehangatan karena hawa pagi itu cukup dingin.
Revan memandang lekat wajah wanita yang sangat ia cintai itu walaupun kini sudah menjadi milik orang lain, dan Revan hanya bisa menjadi sahabat untuk Ferro.
Tak lama berselang Ferro terbangun dengan napas yang masih lemah, awalnya ia bangun lalu menatap wajah Revan yang sangat dekat. saat ia mengerakkan tangan nya memeluk cukup kuat badan Revan yang di sangka nya bantal guling ia pun baru tersadar dan cepat cepat untuk bangun dengan perasaan canggung.
" Ferro..." panggil Revan.
" em... ada apa?" Ferro berusaha menetralkan detak jantung nya.
" makasih atas semuanya udah banyak ngerepotin Lo" Ucap Revan lagi.
" ngomong apaan sih, udah ah gue mau mandi dulu.. bentar lagi sekolah" Ferro yang masih salah tingkah kini bergegas bangun dari tempat tidur.
Revan Hanya tersenyum melihat kelakuan sahabat nya itu, sudah lama sekali mereka tidak tidur berdua setelah sembilan tahun saat mereka masih berumur delapan tahun.
Waktu itu mereka masih anak anak Ferro sangat suka untuk meminta kepada mama lili dan Hanna untuk bisa tidur berdua dengan Revan. tetapi Saat mereka menginjak umur sembilan tahun baru lah mereka sudah tidak diijinkan untuk tidur bersama.
Saat Ferro selesai mandi ia tak mendapatkan Revan dikamar, ia pun cepat berganti mengunakan serangan sekolah setelah itu ia pun turun ke bawah menuju dapur.
" pagi!!" sapa Revan yang sedang menata piring dan gelas berisi susu.
Ferro sedikit terkejut Revan sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua" kamu masak apa?" Ferro berusaha untuk tetap bisa biasa aja untuk tidak gugup walaupun dipikirkan nya terbayang kelakuan Revan yang pada saat mabuk mencium serta memeluknya.
" gua hanya masak nasi goreng dong sama telur ceplok he he" Revan menggaruk tengkuknya walaupun tidak gatal.
Ferro menarik kursi nya lalu duduk" enak.. em beneran enak loh..." Ferro sangat bersemangat karena rasa nya memang bener enak.
" wow serius... nih tambahin" Revan menuangkan beberapa sendok lagi ke piring Ferro.
Ferro sangat menikmati nya sekali kali ia membalas pesan entah dari siapa.
" Van hari ini gua, berangkat sekolah bareng Lu ya " Ferro sedikit menunduk malu.
" hah..." Revan menghentikan makan nya lalu menatap ke arah Ferro" terus Rio..!" Revan sebenarnya sudah mulai merelakan Ferro walaupun hati nya sangat sakit jika melihat kedekatan Ferro bersama orang lain.
" gua udah cerita in semuanya, kalau nyokap bokap kita berdua mempercayai pulang pergi sekolah harus bareng Lo agar mereka bisa merasa aman" jelas Ferro.
" terus.."
" Rio awalnya gak terima, tetapi akhirnya ia mau tak mau harus setuju karena itu kan orang tua kita yang atur" lanjut Ferro.
Revan hanya mengangguk lalu lanjutkan makan nya, tetapi dalam hati nya sangat senang dan bahkan ia akan setia menunggu sampai Ferro putus.
Di momen itu ia tak kan lagi membuat Ferro untuk pacaran, ia akan selalu mengawasi Ferro agar tak diambil orang lain.
" oh ya, gua minta tolong lu pergi ke rumah dong ambilkan seragam sekolah gue, tadi gua udah bilang ke mama untuk nitip seragam ke Lo" ucap Revan disela makan nya.
" iya entar deh.." Ferro Hampir selesai.
Setelah sarapan Ferro yang telah kembali membawakan seragam ganti untuk Revan, menunggu Revan ganti Ferro memesan taxi.
Pagi itu Ferro dan Revan pergi sekolah menggunakan taxi karena Motor Revan masih di rumah Vian. lantaran setelah mengantarkan Revan semalam Vian kembali ke club untuk mengambil motor Revan.
Setelah sampai di sekolah Revan dan Ferro berjalan berduaan di lorong sekolah entah mengapa Ferro merasa lebih nyaman berduaan sama Revan walaupun ia tak sepopuler jajaran cowok tertampan di sebelah.
" kenapa sih, dari tadi senyum senyum Mulu??" Revan memperhatikan Ferro yang sedari tadi senyum senyum sendiri.
" ih siapa yang senyum!!" Ferro membuang muka menghadap ke arah lain lantaran ketahuan ia pun malu.
" ati ati sekarang banyak kasus kesurupan di sekolah" bisik Revan mendekat kan wajah nya ke telinga Ferro.
" sembarangan...!!" Protes Ferro cemberut.
Mereka terus berjalan menyusuri lorong sekolah hingga sampai didalam kelas, Ferro berlari kecil saat mendekati meja nya langsung memeluk Ara yang sedari tadi udah duduk santai.
" em.... pagi sayang ku!!" Ferro gemes.
" ih... tumben amat peluk peluk pagi gini, ada apa sih" bisik Ara.
" enggak.. enggak ada papa kok" Ferro bersikap santai biar sahabat nya itu gak keterusan kepo.
" oh ya... bentar lagi kan libur kenaikan kelas punya Rencana ke mana" ucap Ara sambil membaca novel kesukaan nya.
" belum tau sih..". Ferro melirik ke arah Revan " dirumah aja kali yah.." Ferro bingung karena selama Liburan ia pasti menghabiskan waktu bersama Revan Terus, walaupun dimana dimana Tetap ada Revan.
" gimana camping lagi" usul Ara.
" gua sih mau mau aja tapi, gak janji yah" Ferro masih ragu.
Seorang siswi dari kelas mereka menghampiri Ferro " Rio nunggu lu tuh di luar!!" Lalu berlalu pergi.
" Rio..." gumam Ferro.
" kenapa?" Ara kepo.
" gua keluar dulu bentar yah..." Ferro bangkit dari tempat duduknya lalu bergegas ke luar.
Ferro melihat Rio telah menunggunya di luar dengan kantong plastik di tangan Nya.
" ada apa?" Ferro mendekat.
" nih...!" Rio menyodorkan plastik berisi kontak.
" apaan ni.." Ferro masih bingung.
" ini sarapan buat kamu lah..." Rio tersenyum " cepat ambil..." Rio menjulurkan lagi.
" Makasih..." Ferro mengambil makan itu walaupun ia merasa sudah sangat kenyang tetapi demi menghargai Rio ia akan menerima.
" oh yah, pulang sekolah kamu bareng gue, terus depan komplek lu bareng Revan gimana?" Rio berharap.
" ok!!" Ferro hanya setuju.
" istirahat gua jemput kita makan bareng..." Rio pun pamit pergi.
Ferro masuk membawa kotak makan melangkah menuju mejanya. meletakkan di atas Meja lalu terduduk merasa tak nyaman harus berbuat apa yang dikatakan Rio.
" wow makan ni... cicipi dikit boleh kali.." Ara yang sedikit lapar Tampa malu menawarkan diri.
" makan aja... nih" Ferro membuka bungkusan dan ternyata susu dan Roti yang sudah di kasih selai.
" wow so sweet... " ujar Ara, melihat Roti dengan bentukan love.
" Roti doang... gak perlu lebai gitu kali.." Ferro jegah melihat tingkah sahabatnya itu.
" gue boleh makan kan..?" Ara memohon.
" ambil aja kali, gak usah lebai gitu..." Ferro menoyor pelan kepala Ara.
Mereka berdua menikmati sarapan dari Rio walaupun Ara yang paling mendominasi lataran belum sarapan, sedangkan Ferro hanya mengambil sedikit karena ia masih sangat kenyang sarapan nasi goreng.
Waktu pun berlalu kini mereka sedang dalam proses ajar mengajar jam pertama adalah Matematika, banyak siswa siswi yang mengeluh terlebih lagi Revan yang sangat bodoh dalam hal ini.
Berbeda dengan Ferro ia yang paling antusias dengan pelajaran yang satu ini, karena ia sangat suka belajar rumus dan menghitung. pelajaran ini merupakan tantangan bagi dirinya.