Friendzone

Friendzone
Episode 62. Mulai move on



Taman belakang lumayan sunyi Ferro duduk di rangkul Ara menangis kecewa, Revan hanya bersandar di bawah pohon dengan tangan di saku celana dengan raut wajah marah.


" Ferro sudah jangan di pikirin lagi...!!! Sekarang kamu sudah tau sifat Rio itu gimana anggap aja ini pelajaran buat kamu.."


Ara memeluk sambil mengelus elus rambut Ferro pelan.


" gua harus kasi pelajaran tu anak!! "


" Revan... Sudah cukup!!."


Ferro mengangkat wajahnya tampak mukanya sedikit memerah lantaran kecewa.


" Ferro dia udah berani buat Lo nangis gak bisa dibiarin!!. "


" Revan jangan nambah masalah sudah cukup!! "


" Revan!! "


Ara melototi Revan yang masih kekeh ingin buat pelajaran sama Rio.


" ok ok.. Gua ngalah "


Revan menghempaskan punggung nya kembali bersandar dengan napas kasar, emosi di hati nya sudah sangat terbakar membara.


" Ferro sudah ok.. Kalau kamu nangis aku jadi ikutan pengen nangis "


Ara menyipitkan matanya dengan bibir maju mengkerucut seperti bebek.


" Ara..!!! ih... "


Ferro langsung tersenyum ia tak tahan dengan tingkah laku sahabat nya itu.


" nah gitu dong!! Tetap tersenyum "


Ara memeluk Ferro erat serta kembali tersenyum, Revan melihat tingkah mereka berdua jadi mulai emosi nya mereda tetapi ia tetap tak terima dengan perlakuan Rio.


" ok kita ke kelas sekarang yah... "


Mereka beranjak kembali ke kelas Ara dan Ferro bergandengan tangan sambil tertawa sedangkan Revan hanya mengekor seperti seorang bodyguard.


***


" Rio... Kamu ngapain sih, lepasin!!! Sakit tau tarik tarik gini "


Mita meronta berhasil melepaskan tangan nya yang sedari tadi di tarik Rio.


" mulut kamu itu di jaga ya, aku dan kamu itu udah gak ada hubungan lagi dan kamu berani ngomong sembarangan di depan pacar aku!!! "


" cukup Rio....!!!!! Kamu berani Teriak teriak Sama aku, kamu sudah bener bener berubah!!! "


Mita menangis air matanya tak mampu terbendung lagi wajah nya memerah karena marah.


Rio terdiam ia merasa bersalah lantaran suaranya cukup meninggi karena terbawa emosi.


" mit.. "


" Mita!! "


" jahat... Kamu jahat Rio..!!! "


Mita memukul mukul dada Rio pelan sambil menagis menjadi jadi.


" ok ok... Aku salah maaf!!! Aku-"


Rio tak melanjutkan kata kata nya lagi lalu memeluk Mita untuk menenangkan nya.


" kau jahat Rio.. Jahat!! "


Mita melemas dengan air mata masih menetes, setelah cukup lama menangis akhirnya setelah merasa tenang Rio dan Mita kembali ke kelas.


****


Tak terasa jam pulang sekolah telah tiba siswa siswi berhamburan serta lorong penuh dengan para siswa siswi berlomba untuk pulang.


" Ferro kamu duluan aja yah tunggin aku di parkiran ok "


" mau kemana Revan!!! "


" Toilet Bentar kebelet!! "


Revan buru buru menuju toilet lantaran kebelet, Sampai di toilet ia langsung masuk dan buang air kecil dengan lega.


Dari arah luar terdengar ada suara orang sedang berbicara pelan tetapi masih bisa terdengar.


Revan membuka sedikit pintu WC nya ia melihat Rio dan anak bandel dari salah satu anggota gang sedang melakukan perbincangan serius.


Revan yang kepo mengeluarkan ponselnya dan diam diam merekam.


" Rio Lo gak bisa gitu dong!! Lu harus ikut aturan dong Lo sudah kalah jadi kapan Lo transfer ke gua "


Siswa lawan bicara tersebut salah satu anak bandel kelas tiga ips 2.


" sorry man ini belum satu bulan, dan lagian gua dan Ferro belum ada kata putus jadi ini belum berakhir"


Tampak Rio masih sombong.


" Beri gua waktu untuk memastikan dan kita buktikan bahwa gua dan Ferro belum putus "


" Gak perlu di buktikan Lo adalah sampah!!! "


Rio dan siswa tersebut terkejut melihat Revan keluar dengan santai berjalan mendekat dengan Handphone merekam.


" Lo ngapain? "


Rio panik.


" matikan sekarang!!! "


Anak bandel tersebut mengancam.


" Lo kira gua taku dengan bacotan Lo berdua!!! "


" Sial mampus Lo!! "


Anak bandel tersebut berlari ke arah Revan dengan mengayunkan tinju tangan kanan nya.


Revan mengelak dengan cepat dan meluncurkan sebuah hantaman dari bawah menggunakan lutut tepat ke perut si anak bandel hingga ia terpental ambruk.


" akh...."


" Sialan Lo..!! "


Rio yang tubuhnya tinggi melangkah maju berlari menuju Revan melompat dan menerjang, Revan tersenyum mengelak sedikit mengayunkan kedua tangan nya lalu memukul seperti mengayun palu menghentam dada Rio hingga terhempas ke lantai.


" ahksss.!!... "


" Dasar para sampah " Revan menarik kerah baju Rio dan sedikit mengangkat nya " ini pelajaran buat orang yang berani membuat Ferro menjadi bahan taruhan dan sekali lagi Lo dekat dengan Ferro jangan salah kan gua membuat mu merasakan pukulan yang lebih sakit dari ini "


Revan melepaskan kerah Rio lalu pergi melangkah tubuh Rio yang tergeletak lemas di lantai.


Ferro bolak balik melihat jam tangan nya dan Revan tersenyum menghampiri Ferro yang sedikit kesal.


" lama benar!! "


" Sorry namanya juga panggilan alam!! "


Revan melebarkan senyumnya.


" udah ah lapar sekarang waktunya Lo bayar hutang Lo!!! "


" iya iya dasar tukang peras!! "


gerutu Revan lalu naik ke atas motor nya Ferro naik dan memegang pundak Revan.


" pegangan jangan ke situ !! "


" apaan si udah Ayuk jalan "


" pegangan yang bener!! "


" iya ni.."


Ferro memindahkan memegangi baju di bagian pinggang, Revan dengan pelan meninggalkan pikiran dan saat keluar dari gerbang Revan menambah sedikit kecepatan dan tak lama Revan sengaja mengerem mendadak hingga Ferro terpeleset dan memeluk Revan.


" ah... Revan sakit tau sengaja banget ni anak..."


Ferro memukul mukul punggung Revan " Rasain.!! "


" udah udah sakit tau "


" Biarin!! "


" udah makanya pegangan yang bener "


" emang gimana? "


" sini tangan Lo! "


Revan menarik ke dua tangan Ferro dan melingkarkan nya ke pinggang hingga Ferro memeluk Revan dari belakang.


" Gini ni harus nya biar aman "


" modus!! "


Teriak Ferro dari belakang tetapi ia puas menahan senyum nya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah cafe.


Kini Perasaan Ferro terasa lega entah apa yang membuat nya selama pacaran sama Rio ia merasa selalu terbatas.


Dan sering merasa gak enakan tetapi waktu belum pacaran Ferro merupakan salah satu penggemar berat Rio dan malahan Rio Termasuk kategori cowok Yang di sukai Ferro.


Rio tinggi, putih, ganteng dan hidung yang mancung idola para cewek cewek di sekolah tetapi ia belum tau sifat aslinya.


Tetapi setiap bersama Revan Rasa nya tak terbatas, bebas ngapain aja serta Revan yang selalu memanjakan Ferro.


Mereka berdua menghabiskan waktu pulang sekolah untuk makan bersama di sebuah cafe favorit Ferro.


Ia makan dengan lahapnya sedang kan Revan memperhatikan depan tersenyum senyum melihat tingkah random Ferro saat makan.


Hal ini sudah biasa jika makan pasti banyak tingkah random dan Revan menikmati momen ini.